Indonesia masih menjadi tempat yang menarik untuk kegiatan industri. Para pelaku usaha tetap yakin prospek industri nasional tetap berjalan ke arah positif. Optimisme pelaku industri tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang pada September 2025 berada di angka 53,02, menunjukkan kondisi ekspansif. Sementara Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada periode yang sama juga berada di 50,4.
“Kedua indikator ini menunjukkan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek industri yang tetap positif,” tutur Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita pada konferensi pers “1 Tahun Kinerja Industri Kabinet Merah Putih” di Jakarta, Senin (20/10/2025)..
Menurut Menperin, rata-rata utilisasi sektor IPNM sepanjang Oktober 2024 – Agustus 2025 mencapai 62 persen, yang berarti masih terdapat ruang luas untuk ekspansi produksi industri nasional.
“Kami akan terus menjaga stabilitas industri dalam negeri agar kapasitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Beberapa subsektor mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Industri Logam Dasar tumbuh paling tinggi, mencapai 12,27 persen, diikuti Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (8,13 persen), serta Industri Makanan dan Minuman (6,18 persen). Selain itu, subsektor Barang Logam, Elektronik dan Peralatan Listrik, Industri Kimia dan Farmasi, serta Industri Mesin dan Perlengkapan juga menunjukkan pertumbuhan kuat di kisaran 5–6 persen.
“Pertumbuhan di berbagai subsektor ini mencerminkan semakin solidnya struktur industri nasional, baik dari hulu hingga hilir,” ujar Agus.
Namun Agus mengakui ada beberapa sub sektor yang pertumbuhannya di bawah pertumbuhan ekonomi nasional, seperti sub sektor industri furnitur yang tumbuh 3,49 persen, industri kertas dan barang dari kertas dengen pertumbuhan 2,55 persen. bahkan industri kayu dan barang dari kayu mengalami kontraksi minus 1,18 persen. “Kondisi ini tentu memerlukan perhatian khusus,” paparnya.
Di kesempatan itu, Menperin juga memaparkan peningkatan signifikan pada nilai tambah manufaktur Indonesia. Berdasarkan data World Bank dan United Nations Statistics, Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia pada tahun 2024 mencapai 265,07 miliar dolar AS. “Pencapaian ini menempatkan Indonesia di peringkat 13 dunia, ke-5 di Asia, dan pertama di ASEAN, melampaui Thailand dan Malaysia,” jelasnya.
Dari sisi daya saing global, laporan Institute for Management Development (IMD) tahun 2025 menempatkan Indonesia di posisi ke-40 dari 69 negara dalam World Competitiveness Ranking. Kinerja terbaik dicatat pada aspek kinerja ekonomi (peringkat ke-24) dan efisiensi bisnis (peringkat ke-26). Namun, masih terdapat tantangan pada aspek infrastruktur (peringkat ke-57).
“Oleh karena itu, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur industri, termasuk energi, logistik, serta pengembangan sumber daya manusia yang produktif dan adaptif,” tegas Agus. Kemenperin juga berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif agar industri nasional semakin berdaya saing.
Menperin menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga momentum ekspansi industri dengan kebijakan yang berpihak pada pelaku usaha domestik. “Kami terus memperkuat instrumen kebijakan, mulai dari perlindungan pasar dalam negeri, penguatan TKDN, peningkatan teknologi produksi, hingga peningkatan kualitas tenaga kerja industri, agar sektor manufaktur Indonesia semakin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.Buyung N








