Proyeksi Global 2026: Perang Dagang dan Persaingan Teknologi AS-China

Kapal pengangkut konteiner tiba di Pelabuhan Oakland, California. foto: Getty Images

Kondisi global tahun 2026 masih dibayangi oleh perang, baik perang dagang maupun pertempuran sengit antara Rusia-Ukraina dan sejumlah titik panas lainnya di Timur Tengah maupun ancaman gesekan yang makin panas di Asia Timur. Berikut analisis yang diberikan oleh perusahaan intelijen geopolitik AS, Stratfor (strategic forecasting Inc.).

Ketidakpastian Tarif AS dan Dampaknya bagi Dunia

Ketidakpastian tarif yang didorong oleh Amerika Serikat akan tetap tinggi sepanjang tahun 2026. Hal ini dipicu oleh ancaman hukum terhadap agenda tarif pemerintahan Trump serta potensi perselisihan antara AS dan mitra dagangnya mengenai ketentuan kesepakatan dagang. Mahkamah Agung AS diperkirakan akan membatalkan tarif yang diberlakukan di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional — termasuk tarif timbal balik dan tarif terkait fentanil — pada suatu titik di tahun 2026.

Gedung Putih diprediksi akan mencari celah hukum lain untuk mengganti tarif tersebut. Namun, karena prosedur alternatif memerlukan investigasi mendalam yang memakan waktu, pemerintah mungkin terpaksa memprioritaskan negara tertentu saja untuk dikenakan tarif, terutama negara yang sering dikritik seperti anggota Uni Eropa (UE), Kanada, dan Meksiko. Terlepas dari putusan Mahkamah Agung, AS akan terus menggunakan tarif sebagai alat tekan, dengan dalih ketidakpatuhan terhadap kesepakatan dagang 2025 atau isu non-perdagangan seperti kebijakan teknologi Uni Eropa dan konflik global.

Kondisi ini akan menggerus kepercayaan investor, khususnya di sektor manufaktur AS, serta menghambat pertumbuhan ekonomi. Jika tarif tersebut dibatalkan secara hukum, proses pengembalian dana tarif kepada perusahaan-perusahaan di seluruh dunia diprediksi akan berlangsung kacau. Di luar AS, kekhawatiran akan pengalihan arus perdagangan akan mendorong lebih banyak negara menerapkan hambatan dagang mandiri pada sektor-sektor sensitif guna melindungi pasar domestik mereka dari banjir barang yang sebelumnya ditujukan ke pasar AS.

Persaingan Teknologi dan Rantai Pasok Global

Kompetisi strategis antara AS dan China, ditambah dengan pembangunan pusat data global yang masif, akan memicu ketidakpastian rantai pasok. Bahan baku kritis dan pasokan chip memori menjadi area yang paling rentan terhadap gangguan. Meski pada Oktober 2025 kedua negara sepakat untuk menjeda pembatasan ekspor dan teknologi hingga pertengahan November, kepentingan strategis masing-masing negara — terutama dalam pengembangan AI — membuat kesepakatan ini berisiko runtuh.

Jika kesepakatan pecah, China kemungkinan akan membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth), yang akan memukul industri otomotif dan kedirgantaraan. Walaupun gangguan ini diprediksi bersifat sementara, proses diversifikasi rantai pasok di luar China masih akan berjalan lambat pada 2026. Sementara itu, lonjakan permintaan chip memori berkinerja tinggi untuk AI dapat memicu kelangkaan semikonduktor yang mengingatkan kita pada krisis pasca-COVID, yang berpotensi melumpuhkan berbagai industri, terutama otomotif.

Fenomena AI: Antara Lonjakan Investasi dan Risiko Gelembung

Investasi di sektor AI akan terus melonjak pada 2026. Meskipun risiko “gelembung pecah” (bubble burst) kecil kemungkinannya terjadi secara total, ancamannya meningkat seiring dengan munculnya penolakan publik terkait dampak lingkungan, hilangnya lapangan kerja, serta persaingan model AI China yang makin canggih. Valuasi perusahaan AI yang meroket tanpa kepastian laba pada 2026 menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya bubble. Jika ini terjadi, dampak pertamanya akan menghantam perusahaan AI, diikuti oleh penyedia infrastruktur pusat data dan semikonduktor. Namun, krisis ekonomi sistemik kemungkinan tidak akan terjadi karena sektor ini didorong oleh perusahaan teknologi raksasa yang kaya akan uang tunai, seperti Alphabet, bukan oleh kredit atau utang.

Di sisi lain, isu sosial terkait pemindahan lapangan kerja akibat AI akan menjadi isu panas dalam negosiasi buruh di Barat, terutama bagi pekerja kerah putih. Selain itu, China diprediksi akan memperkecil ketertinggalannya dari AS di bidang AI. Model-model China, khususnya yang bersifat open-weight, akan memiliki performa yang mendekati model-model unggulan AS, sehingga berpotensi menjadi standar baru yang lebih murah dan mudah dikustomisasi bagi para peneliti dan perusahaan global.

Dinamika di Amerika Latin: Venezuela dan Kartel Narkoba

AS kemungkinan besar akan menargetkan aset militer dan jaringan perdagangan narkoba di wilayah Venezuela. Namun, tanpa adanya invasi darat, Presiden Nicolas Maduro diprediksi akan tetap berkuasa. Operasi militer AS akan diintensifkan melalui serangan udara terhadap kamp kartel, pelabuhan, dan pangkalan militer untuk melemahkan rezim Maduro. Washington akan terus mendorong Maduro untuk mundur sambil mencoba memicu pembelotan di aparat keamanan dan memperkuat oposisi.

Selain Venezuela, Washington kemungkinan besar akan menargetkan kartel di wilayah perbatasan Meksiko dan Kolombia. Di Meksiko, tindakan sepihak AS dapat memperburuk hubungan bilateral dan mengancam negosiasi dagang. Sebaliknya, di Kolombia, terpilihnya pemerintahan sayap kanan pada Agustus mendatang kemungkinan besar akan mempererat kerja sama militer dengan AS. Kesamaan ideologi ini juga akan memfasilitasi aksi militer AS terhadap pengedar narkoba di beberapa negara Amerika Latin lainnya seperti Ekuador, Peru, dan Honduras.

Timur Tengah: Strategi Israel Menjelang Pemilu

Israel diprediksi akan bergerak di antara upaya pelemahan (attrition) dan eskalasi militer di Gaza, Lebanon, dan Iran menjelang pemilu 2026. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan mengejar kemenangan militer besar guna mengamankan masa jabatannya. Strategi ini melibatkan tekanan militer berkelanjutan, pembatasan bantuan, dan blokade rekonstruksi, sambil sangat bergantung pada bantuan diplomatik serta militer dari Amerika Serikat.

Eskalasi ini berisiko memicu kembali perang besar dengan Iran dan Hizbullah, serta menghidupkan kembali serangan Houthi di Laut Merah. Jika Netanyahu kalah dalam pemilu, pemerintahan baru mungkin akan tetap melanjutkan strategi ini pada awalnya, namun ada peluang untuk mengambil pendekatan yang lebih moderat guna meredakan ketegangan dengan Hamas, Hizbullah, dan Iran di kemudian hari.

Hubungan AS-China dan Isu Taiwan

Gencatan senjata perdagangan AS-China diperkirakan akan bertahan, meski eskalasi singkat tetap mungkin terjadi. Presiden Trump kemungkinan akan menekan China untuk mendapatkan konsesi dagang menjelang pemilu sela AS, sementara China akan merespons dengan cepat. Setelah pemilu sela, Trump mungkin akan lebih agresif dalam menggunakan tarif sebagai alat negosiasi untuk mencapai kesepakatan komprehensif, meskipun tantangan hukum dan domestik akan menghambatnya.

Di dalam negeri, China akan memperluas kebijakan dukungan konsumsi, namun pertumbuhan ekonomi diprediksi akan melambat tanpa adanya reformasi pajak atau upah yang signifikan. Terkait Taiwan, meski latihan militer China akan terus meningkat di sekitar pulau tersebut, invasi atau blokade besar-besaran kemungkinan tidak akan terjadi karena pertimbangan ekonomi dan harapan akan munculnya pemerintahan yang lebih pro-China pada pemilu Taiwan 2028.

Eropa: Kemandirian Energi dan Pertahanan

Uni Eropa (UE) akan mengintensifkan upaya untuk mengurangi ketergantungan pada energi Rusia dan mineral kritis China. UE juga bersiap untuk mendukung Ukraina secara sepihak jika AS menarik dukungannya. Langkah ini akan mempercepat momentum rearmament (persenjataan kembali) dan integrasi pertahanan di Eropa, meskipun risiko ancaman hibrida dari Rusia akan tetap tinggi.

Di sektor perdagangan, Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) akan mulai beroperasi, yang akan menambah beban biaya bagi importir dan memicu gesekan dengan mitra dagang. Selain itu, Brussel akan mulai menghapus kontrak minyak dan gas Rusia yang tersisa dan meluncurkan berbagai inisiatif untuk meningkatkan daya saing digital serta lingkungan.

Prospek Penyelesaian Perang Rusia-Ukraina

Rusia dan Ukraina kemungkinan akan tetap bertahan pada posisi masing-masing di awal tahun tanpa memberikan konsesi besar. Namun, meningkatnya tekanan militer, ekonomi, dan politik, serta garis waktu politik di AS, akan memperbesar peluang penyelesaian melalui negosiasi seiring berjalannya tahun 2026. Pemerintahan Trump akan memberikan tekanan diplomatik yang berubah-ubah — baik memperketat sanksi terhadap Rusia maupun mengancam pengurangan bantuan untuk Ukraina — guna memaksa keduanya ke meja perundingan.

Rusia mungkin akan memprioritaskan kesepakatan sebelum Kongres AS yang baru menjabat setelah pemilu sela, demi meresmikan perolehan wilayah dan mendapatkan keringanan sanksi. Namun, setiap pemukiman kemungkinan akan memaksa Ukraina kehilangan wilayah yang signifikan dengan jaminan keamanan yang lemah, yang meninggalkan ketidakpastian jangka panjang mengenai agresi Rusia di masa depan.

Asia Selatan dan Afrika Selatan: Ketegangan dan Reformasi

Di Asia Selatan, rasa saling tidak percaya antara Pakistan dan India tetap tinggi pasca-bentrokan tahun 2025 dan penangguhan Perjanjian Air Indus oleh India. Masalah ketersediaan air akan menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan ekonomi Pakistan. Sementara itu, program IMF Pakistan diperkirakan tetap berjalan, meski reformasi sektor energi mungkin akan mengalami hambatan.

Di Afrika Selatan, pemerintah koalisi kemungkinan akan berhasil meluncurkan reformasi di sektor energi dan air. Namun, kepercayaan investor akan terganggu oleh temuan penyelidikan mengenai pengaruh kriminal dalam kelas politik dan aparat negara. Hal ini berpotensi memicu ketegangan internal di dalam partai ANC dan melemahkan posisi Presiden Cyril Ramaphosa menjelang pemilihan lokal di akhir tahun 2026. AI