
Motion 30 akan memulai studi tentang pelacakan volume wajib setelah laporan Earthsight mengklaim adanya penipuan hingga 30 miliar dolar AS terkait produk hutan bersertifikat.
Siapa tidak kenal Forest Stewardship Council (FSC) di bisnis kehutanan dan lingkungan. Bahkan, FSC menjadi standar emas dalam urusan sertifikasi industri kehutanan. Tapi, siapa sangka badan yang berbasis di Bonn, Jerman ini tidak memiliki sistem yang memadai untuk mendeteksi penipuan secara proaktif di seluruh rantai pasokannya.
Badan yang berbasis di Bonn, Jerman ini, seperti yang dilaporkan Mongabay, kini menghadapi pengawasan yang semakin ketat setelah laporan Earthsight yang diterbitkan pekan lalu memperkirakan bahwa produk kertas, pulp, dan kayu bersertifikat FSC senilai miliaran dolar terlibat dalam klaim penipuan.
FSC sendiri menanggapi beberapa estimasi dalam laporan tersebut dianggap tidak berdasar. Namun, masalah ini telah memicu seruan diadakannya sistem pelacakan volume kayu bersertifikat dari hutan hingga pasar. Buntutnya, pekan depan FSC akan melakukan pemungutan suara (voting) untuk memutuskan apakah akan mulai mengerjakan peraturan soal traceability (pelacakan) baru setelah munculnya klaim mereka tidak punya sistem memadai guna mendeteksi penipuan secara proaktif.
Saat ini, perusahaan dalam rantai pasokan FSC dapat membeli dan menjual kayu bersertifikat FSC tanpa melaporkan volumenya ke FSC itu sendiri, sehingga tidak ada cara terpusat untuk mencocokkan material bersertifikat yang masuk ke dalam sistem dengan yang sampai ke pasar. Auditor pihak ketiga yang memeriksa faktur pedagang individual, kata FSC. Namun, para pakar kehutanan mencatat, tidak ada analisis transaksi sistematis yang rutin untuk mendeteksi ketidaksesuaian volume.
“Ini adalah sistem yang berbasis kepercayaan,” kata Sam Lawson, kepala investigasi Earthsight, LSM Inggris. “Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan secara luas adalah menjual produk FSC jauh lebih banyak daripada kayu (bersertifikat) FSC yang mereka beli. Jadi, mereka pada dasarnya menempelkan label FSC pada kayu yang berasal dari tempat lain.”
Phil Guillery, mantan direktur integritas FSC mengaku bahwa selama masa jabatannya, “20%-30% klaim dalam sistem adalah palsu, dan saya belum melihat sesuatu yang menunjukkan angka tersebut turun sejak itu.” FSC mengeluarkan sanggahan cepat, menyebut klaim Guillery tidak berdasar dan “berdasarkan informasi lama yang tidak mencerminkan sistem saat ini.”
Seorang pejabat senior FSC, yang bicara kepada Mongabay dengan syarat anonimitas mengatakan, estimasi Guillery kemungkinan malah konservatif. “Saya sebenarnya terkejut dia mengatakan 20%-30% — mungkin angkanya lebih tinggi,” kata pejabat tersebut, dan menuduh penipuan yang terjadi tetap meluas sementara “sedikit yang dilakukan untuk mengatasinya.”
FSC sendiri menegaskan, integritas tetap menjadi pusat misinya dan mereka menangani tuduhan tersebut dengan serius. “Integritas adalah inti dari misi FSC, dan kami menanggapi setiap tuduhan perilaku penipuan dengan serius,” kata organisasi tersebut, seraya menambahkan mereka telah meningkatkan verifikasi transaksi, pengujian sampel kayu, dan penyelidikan terfokus untuk mengidentifikasi dan memblokir perusahaan yang membuat klaim palsu.
Verifikasi transaksi dapat melacak produk sepanjang rantai pasokannya dan membandingkan angka volume yang tercatat oleh setiap perusahaan. Hanya saja, proses ini lambat dan sering bergantung pada catatan kertas. “Ini hanya sebagian kecil dari total volume yang beredar di sistem FSC yang dapat mereka cover dengan pendekatan ini,” kata Peter Feilberg, direktur eksekutif keberlanjutan lembaga nirlaba Preferred by Nature. Dia mengatakan, pelacakan sering memakan waktu satu-dua tahun, di mana produk yang diberi label palsu sudah mencapai konsumen.
Ratusan Triliun
Berdasarkan analisis Earthsight, total penipuan FSC tahunan diperkirakan mencapai mencapai 10-30 miliar dolar AS (hampir Rp500 triliun dengan kurs Rp16.500/dolar AS) dan menyoroti kasus-kasus yang melibatkan puluhan hingga ratusan juta dolar. Earthsight juga mencatat bahwa sejak Rusia dan Belarusia digantung sertifikasinya oleh FSC pada 2022, luas hutan bersertifikat menurun sekitar 30% sementara jumlah perusahaan yang mendapat lisensi untuk menangani kayu FSC meningkat sekitar 37%. Ketidaksesuaian ini yang menimbulkan kekhawatiran bahwa kayu dari sumber yang mendapat sanksi memasuki rantai pasokan.
Berdasarkan resolusi yang diusulkan, Motion 30, maka pekerjaan pada sistem pelacakan volume wajib (mandatory) serta sistem rekonsiliasi yang harus diikuti oleh semua perusahaan bersertifikat FSC akan dimulai. Mosi ini, yang diajukan oleh pengecer asal Inggris, Kingfisher dan disponsori oleh WWF, menyatakan bahwa kontrol yang ada saat ini tidak cukup untuk mencegah klaim palsu. FSC secara bersamaan saat ini juga meluncurkan alat berbasis blockchain yang disebut FSC Trace. Namun sistem ini sekarang hanya wajib untuk rantai pasokan yang dianggap “berisiko tinggi.”
“Tidak ada yang namanya ‘rantai pasokan berisiko tinggi’ — semuanya berisiko tinggi,” sergah pejabat FSC yang anonim tersebut. Jason Grant, pemimpin FSC untuk WWF mengingatkan bahwa memperkenalkan sistem ini akan menimbulkan perubahan signifikan dan membebani biaya dan waktu yang lebih banyak kepada para pemegang sertifikat.
“Satu hal yang kami akui, ini adalah masalah besar, perubahan besar, dan ini akan memberikan tambahan biaya serta beban waktu dan kesulitan bagi pemegang sertifikat di seluruh sistem,” katanya. “Kami tidak ingin merusak sistem dengan memaksakan terlalu cepat hal ini pada orang-orang tanpa memikirkannya secara matang untuk memastikan bahwa ini benar-benar bekerja.”
Untuk disetujui, Motion 30 harus mendapat persetujuan mayoritas di masing-masing dari tiga kamar FSC — lingkungan, sosial, dan ekonomi — dengan kamar ekonomi, yang mencakup anggota korporasi, sebelumnya menolak langkah serupa. Motion ini, sebagaimana dirancang, akan memulai studi untuk menentukan bagaimana sistem dapat diterapkan dan memberikan suara final pada adopsi di pertemuan umum FSC berikutnya pada 2028. AI
















