Peran Perum Perhutani sebagai BUMN yang unik dan istimewa, disamping berperan penting, terlepas dari kekurangannya yang kini merajalela, tetap menjaga ekosistem Pulau Jawa yang rapuh, juga menghidupi masyarakat hutan sebanyak 35 persen penduduk Pulau Jawa yang sangat padat, dan membangun sokoguru keilmiahan pendidikan (PT/SKMA) kehutanan, serta menjadi contoh lembaga usaha negara yang selalu optimis, untung, tidak pernah ngutang.
Kekuatan tersebut karena disiplin korsa yang kuat, sistem kerja terpusat (sentralistis), memiliki peran sebagai entitas bisnis yang hemat, patuh, feodalis dan bermodivikasi melindungi ekosistem lingkungan Jawa, dan menyejahterajakan masyarakat hutan.
Bahkan tahun 1980an konon dinyatakan bahwa korsa rimbawan adalah yang terbaik. Saling merekat, paling kompak, dengan kebanggaan sebagai rimbawan meskipun penampilannya “ndeso,”.
Dengan seragam kebanggaan coklat hijau Perhutani yang kantornya di lapangan telah kuno, kusam dan kurang terawat, tetap berintegrasi melindungi ekosistem, sahabat alam.
Tugas menyejahterakan petani hutan sangat baik.
Tercatat 65 juta manusia yang dihidupi oleh Perum Perhutani (2007). Dari sistem tumpang sari, banjarsari, bagi hasil PHBM, PHBM Plus, atau multiplier efek lainnya.
Awalnya diawal kemerdekaan RI, Perhutani saling dikembangkan oleh dua perguruan tinggi kehutanan UGM Yogyakarta dan IPB Bogor.
Praktik lapangan dalam semua aspek ilmiah lapangan dan hubungan komunikasi kemasyarakatan selalu di Perhutani. UGM melakukan praktik lapangan sekitar total setahun di Perhutani untuk mahasiswa sebelun sistem kredit mulai 1978, tetapi di IPB berlaku mulai 1972.
Asal Jati-Jawa (Tectona grandis)
Jati Jawa, asal usulnya dari Malabar, India, selama lebih dari 1.200 tahun mereka datang di tanah Jawa yang subur.
Orang India sampai mampu membangun Kerajaan Tarumanegara di Jawa bagian barat, dan Kerajaan Kalingga di Jepara, dan membaur, beranak pinak di Jawa.
Menurut penuturan seorang warga India, mahasiswa, di Amerika Serikat (1989), orang India yang tinggal di Jawa pasti jadi kaya raya Dikatakan Jawa itu penuh dukun, sakti, ahli mistik.
Menurut Transtoto Handadhari, Direktur Utama Perum Perhutani 2005-2008, jati Jawa (Tectona grandis) sangat terkenal dan membuahkan kebanggaan yang memilikinya.
Di Amerika. disebutkan sebagai “magic wood”, yang merabanyapun terucap kata “woww”… dihargai sangat mahal, yang jutru jadi objek pencurian luar dalam di Jawa, Indonesia yang harus diperhatikan.
Jati memang bukan kayu keras nomor satu, tetapi sangat awet, kayu nomor dua, yang karenanya kayu perkasa itu mudah diolah, yang pada umur daurnya berstektur halus, bercorak indah, berwarna elegan, tidak pecah atau retak karena air dan panas matahari, mudah diukir, dan mahal
Sayang sekali jati perkasa itu seringkali diexpor dengan harga “sepanyol”, separo nyolong, juga dipalsukan dengan pewarna canggih.
Ada juga kayu “meh”, maksudnya “meh koyok jati”. Tentu nilai kayu trembesi itu harganya hanya sekitar 5-10 persennya jati Jawa umur dewasa.
Maka jati jangan hanya dikembangkan di Jawa. Di daerah-daerah di luar Jawa yang tanah dan iklimnya serta kesesuaiannya cocok untuk penanaman jati-Jawa perlu ditulari pengembangannya seperti Bali, NTB, NTT, Sumba, Sumbawa, Sulawesi Selatan dan Muna.
Jati-Jawa Untuk Kesejahteraan Rakyat.
B Beumee dan Neuland (1922), jati cocok di tanah tersier, bermergel, berkapur, dibawah 2000 kaki atau 650 m dpl di tanah bermusim basah (JABAR) dan cepat tumbuh di Cianjur, Bandung, Sukabumi, Ciamis, Tasikmalaya selatan dan Banyumas Barat tapi kayunya kurang baik dari darah panas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tetapi percobaandi Kalimantan kurang baik. Setelah umur 5 tahun daunnya menguning (Slamet Soedjono, 2026).
Sementara itu Madura yang asalnya hutan subur, karena kebijakan membuka perkebunan yang luas di Jawa Timur (daerah Tapal Kuda), hutan yang konon banyak kijang emasnya, digunduli (Ordonansi Jawa-Madura, 1927), dan selama 20 tahun Madura jadi padang pasir. Masyarakat Madura yang miskin pindah ke Bondowoso, Situbondo dan daerah Tapal Kuda.
Dengan dimulai memperbaiki struktur tanah. kelembaban tanah, penanaman turi serta tanaman merambat berpolong. dan pemupukan kotoran sapi/kambing, Madura 15 tahun lagi siap direboisasi dengan jati.
Penyejahteraan masyarakat dari banjar harian di daerah tinggi, tumpangsari intensif mulai diperkenalkan oleh Buurvan van Vreede tahun 1873 didarah hutan Tegal dan Pekalongan selama 2 tahun. Warisan tehnik pengelolaan hutan tersebut terus menerus dikembangkan
Tahun 1865 ada tumbuhan baik, agak teratur dan agak jarang. Diduga ditanam para blandong (Blandung Cultuur). Segala warisan itu sekarang terkumpul di Perum Perhutani dengan berbagai penyempurnaannya .
“Saya pernah menyampaikan bagi hasil PHBM di sebuah kelompok tani hutan di Cepu (2007), sebanyak uang Rp6,5 milyar”, Transtoto, rimbawan senior UGM satu-satunya Dirut Perhutani (2007) yang pernah menginjakkan kakinya dengan gagah berani di Pulau Kangean, Madura (Marinus, 2026), 9 jam di ujung timur Madura mengarungi samodera yang berombak ganas ditemani Ronni Merdianto, staf yunior yang sekarang sudah menjadi ADM/KKPH Surakarta.
Dengan mengembangkan porang yang salah satu ahlinya ada di Perhutani (Ida Istiyana, ADM/KKPH Randublatung), mengelola Pinus merkusii yang getah gondorukemnya sangat khas untuk tinta Mont Blanc yang harus pakai produk Indonesia itu yang juaranya dulu Wawan Triwibowo Kadivre II, dan minyak kayu putih terbaik, semoga kesejahteraan masyarakat pengembangan .jati-Jawa ikut terangkat kesejahteraannya. Tutup Transtoto yang sedang sakit ditemani anaknya Gebyar Transtoto. AI








