Wapres Dorong Wujudkan Pertanian Kuat dan Pengendalian Inflasi Pangan

Wakil Presiden (Wapres) KH. Ma’ruf Amin mengapresiasi sekaligus mendorong upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mewujudkan pembangunan pertanian yang mampu melahirkan sektor pangan yang kuat dan adaptif terhadap berbagai tantangan.

Penguatan sektor pertanian diharapkan sekaligus mampu mengendalikan inflasi utamanya pangan guna menghadapi krisis pangan dunia. Beban sektor pertanian cukup berat. Sektor ini harus mampu menyediakan pangan bagi 275 juta jiwa penduduk Indonesia.

“Ketersediaan pangan dan stabilitas harga pangan menjadi persoalan kritikal yang harus senantiasa dikelola dengan baik, seiring meningkatnya tren pertumbuhan penduduk,” kata Wapres KH. Ma’ruf dalam arahannya pada Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian 2023 di Jakarta, belum lama ini.

Wapres mengajak Kementan melakukan program penguatan pangan secara masif melalui beberapa langkah strategis. Pertama, mengidentifikasi komoditas pangan yang tepat dalam menghadapi krisis pangan dunia serta fokus mendorong pengembangannya.

Kedua, adalah fakta bahwa lahan pertanian semakin menyusut karena alih fungsi lahan pertanian menjadi non-pertanian. Hal ini dinilai dapat menjadi ancaman nyata ketahanan pangan, apabila tidak dibarengi dengan upaya menggenjot produksi,” ucapnya.

Ketiga, penguatan program diversifikasi pangan lokal secara masif. Saat ini masyarakat Indonesia masih tergantung pada beras sebagai sumber makanan pokok. Untuk itu, Kementan diharapkan menargetkan konsumsi beras turun ke posisi 85 kg/kapita/tahun, dari sekitar 92 kg/kapita/tahun pada 2020.

“Selanjutnya, Kementan perlu terus bersinergi dengan kementerian terkait, pemerintah daerah serta berbagai pihak, untuk menyukseskan prioritas pembangunan nasional, seperti korporasi petani dan modernisasi pertanian,” katanya.

Perihal kinerja sektor pertanian hingga saat ini, Wapres KH. Ma’ruf mengapresiasi produksi pangan beberapa tahun terakhir ini mengalami surplus. Produksi beras, misalnya. Berdasarkan data BPS selalu surplus setiap tahun, sehingga peningkatan angka surplus ke depannya harus lebih ditingkatkan.

“Tahun 2022, beras surplus 1,74 juta ton. Saya minta fokus kita agar jangan hanya pada surplusnya saja, tetapi juga pada besaran angkanya. Harapannya jumlah surplus terus meningkat dari tahun ke tahun. Artinya, produksi beras juga meningkat dari tahun ke tahun diikuti juga peningkatan surplusnya,” terangnya.

Wapres KH. Ma’ruf juga mengapresiasi kolaborasi dan kinerja sektor pertanian yang telah dibangun selama ini. Sistem pertanian dan pangan Indonesia dipandang tangguh dan berhasil mencapai swasembada beras selama 2019-2021, bahkan berhasil mendapat penghargaan dari lembaga internasional, yaitu IRRI.

Menurutnya, capaian ini tidak hanya cukup untuk dipertahankan, tetapi perlu terus ditingkatkan. Ini sangat penting demi mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan dan kesejahteraan nyata bagi masyarakat dan tentunya para petani.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memaparkan kinerja sektor pertanian selama tahun 2020-2022 membanggakan. Setelah melalui upaya keras dengan melakukan penyesuaian berbagai strategi, program dan kegiatan di tengah pandemi COVID-19, hasilnya memperlihatkan bahwa sektor pertanian tetap konsisten tumbuh positif.

“Tantangan pembangunan sektor pertanian 2023 bukan hal mudah, namun dukungan Presiden dan Wakil Presiden RI mampu mendorong semangat kami untuk bekerja lebih giat lagi. Terima kasih Pak Wapres atas kehadirannya hari ini, kami mohon arahan untuk sektor pertanian kedepan,” kata Mentan Syahrul.

Berdasarkan data BPS, PDB Sektor Pertanian pada triwulan II 2020 tumbuh positif 16,24% (q-to-q) dan terus berlanjut pada 2022. Nilai Tukar Petani (NTP) terus membaik, bahkan pada penutupan tahun 2022 (Desember 2022) mencapai 109,0.

Tak hanya itu, sambungnya, ekspor pertanian juga menunjukkan kinerja yang menggembirakan. Pada tahun 2022, ekspor produk pertanian mencapai Rp658,18 triliun dan meningkat 6,79% dibandingkan pada periode yang sama tahun 2021.

“Kementan juga terus mendorong pemanfaatan KUR dalam mengakselerasi pembangunan pertanian. Selama 2020-2022 kinerja KUR bidang pertanian menggembirakan. Realisasi KUR 2020 sebesar Rp55,3 triliun, realisasinya 110,62% dari target Rp50 triliun,” bebernya.

“Tahun 2021 mencapai Rp85,62 triliun, realisasinya 122,31% di atas target Rp70 triliun dan per 30 Oktober 2022 realisasi KUR mencapai Rp95,43 triliun, realisasinya 106,03% dari target Rp90 triliun,” jelasnya. HMS