Kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump harusnya menghancurkan bisnis dekorasi Natal Gong Yongqiang. Namun, faktanya tidak. Sebaliknya, pabrik milik Gong — Yiwu Sihai Christmas Crafts — malah beroperasi dengan kapasitas penuh sejak Mei.
Penjualan sepanjang tahun ini diproyeksikan tumbuh 20% dari tahun 2023, berkat lonjakan permintaan yang mengejutkan dari negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia dan Malaysia yang mayoritas Muslim, kata Gong — yang telah mengekspor figur Sinterklas (Santa Claus) dan objek Natal lainnya dari China dalam 10 tahun terakhir.
Untuk melayani pelanggan Asia Tenggara, Gong mengaku membuat wajah Santa lebih lebar agar terlihat lebih lembut dan mengenakan kostum yang berbeda.
“Dengan laju seperti ini, kemungkinan besar Asia Tenggara akan segera melampaui AS dalam hal ukuran pasar bagi kami,” kata Gong kepada Nikkei Asia di Yiwu, pusat grosir di China selatan. Pasar Asia Tenggara saat ini menyumbang kurang dari 10% dari total penjualan, sementara pasar AS berkontribusi hingga 15%.
Gelombang pengusaha China seperti Gong sudah beberapa tahun terakhir membidik pasar ASEAN. Mereka termotivasi oleh populasi yang makin sejahtera dengan pendapatan yang dapat dibelanjakan lebih besar. Meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China mendorong produsen China mengalihkan lebih banyak barang ke tetangga selatan mereka atau mempercepat lini produksi mereka di sana.
Meski ada kesan, terutama dari pemerintah di Washington, langkah ini sekadar strategi transhipment untuk menghindari tarif yang lebih tinggi, namun tetap saja ada substansi pertumbuhan di kawasan ini.
Banyak merek China mendominasi pasar lokal, termasuk produk tekstil, furnitur, makanan dan minuman. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), setiap empat dari lima kendaraan listrik yang dijual di Indonesia, misalnya, adalah jenama China, seperti BYD dan Chery. Aice, merek es krim yang dimiliki oleh Mengniu Dairy Group China, adalah pemimpin pasar di Indonesia dan terbesar kedua di Filipina.
“Ini bukan lagi baja, kimia, semen, atau panel surya, tetapi benar-benar mulai merambah ke merek-merek konsumen,” kata Frederic Neumann, ekonom utama Asia di HSBC, kepada Nikkei.
Reaksi Balik
Namun, tren ini juga memicu reaksi balik di seluruh kawasan ketika pemerintah dan dunia usaha mulai khawatir terhadap serbuan barang-barang China bisa mematikan industri dan pekerja lokal.
Pemerintah Indonesia tahun lalu melarang TikTok memproses pembayaran online karena khawatir akan memonopoli belanja daring. Sebuah asosiasi industri garmen telah memperingatkan ancaman PHK massal di industri tekstil jika perusahaan lokal tidak mampu menghadapi masuknya produk pakaian berbiaya rendah dari China.
Juli lalu, Thailand juga mulai mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) 7% pada barang impor berbiaya rendah untuk mendorong ekonomi domestik. Wakil Menteri Keuangan Thailand, Julapun Amornvivat secara khusus menyalahkan impor murah dari China karena merugikan produsen lokal. Pada April, pemerintah Vietnam menyatakan rencananya mengenakan pungutan anti-dumping 37% pada beberapa produk baja China.
Produsen China sudah lama memiliki minat di pasar Asia Tenggara, dari merek smartphone Xiaomi dan Oppo, hingga produsen peralatan rumah tangga, termasuk Hisense. Minat ini makin tinggi setelah perang dagang di jabatan pertama Presiden Donald Trump dengan China. Saat itu, beragam perusahaan, mulai dari furnitur hingga sepatu dan mainan, mendirikan pabrik di Asia Tenggara untuk menghindari pungutan AS yang tinggi.
Data resmi menunjukkan, sejak 2020, ASEAN juga telah melampaui Uni Eropa dan AS sebagai mitra dagang terbesar China, meskipun Eropa tetap menjadi pasar ekspor terbesar.
“Pertumbuhan kami di sini luar biasa,” kata pedagang China, Alan Peng kepada Nikkei di Jakarta. Peng mulai menjual pengisi daya USB dan kabel telepon kepada konsumen lokal dari 2021 di TikTok setelah menutup toko ritel di Shenzhen setahun sebelumnya. Dia melihat peluang yang lebih besar di Indonesia, di mana konsumen mulai meningkatkan pembelian smartphone dan aksesori yang lebih cepat seiring dengan bertambahnya pendapatan mereka.
Kemakmuran yang meningkat itu sebagian didorong oleh masuknya uang China, kata Peng. Lebih banyak restoran di kota sekarang menawarkan menu dengan versi China. Teochew, dialek yang digunakan oleh ekspatriat dari provinsi Fujian dan Guangdong, dapat dengan mudah didengar di jalan. Mixue Ice Cream & Tea adalah rantai makanan cepat saji China yang menjual teh melati dan es krim seharga hanya 1 dolar AS, dan toko-tokonya pun dibanjiri anak muda yang berfoto selfie, kata Peng, yang juga melatih penjual China lainnya tentang cara memasarkan produk di TikTok di Indonesia dan Malaysia.
“Dalam banyak hal, Indonesia terasa seperti Tiongkok 10 tahun yang lalu,” katanya, “Orang memiliki lebih banyak waktu luang untuk berbelanja dan bersedia menghabiskan uang.”
Asia Tenggara Pasar yang Menarik
Li Jianggan, pendiri dan CEO Momentum Works, dana modal ventura yang berbasis di Singapura mengatakan, banyak pengusaha China merasakan urgensi yang lebih kuat untuk pergi ke luar negeri sejak 2022, ketika ekonomi domestik China dicekik pembatasan pandemi COVID-19 selama bertahun-tahun. Penurunan ini, yang diperburuk oleh lesunya sektor perumahan yang berkepanjangan dan lemahnya pasar kerja, telah mengakar — deflator PDB telah negatif selama sembilan kuartal berturut-turut — yang pada gilirannya telah menambah dorongan lebih lanjut bagi bisnis untuk mencari pasar baru.
“Asia Tenggara menarik banyak pengusaha China karena mereka menyadari pasar-pasar tersebut biasanya tidak sekompetitif seperti di China,” kata Li. “Biasanya, pengusaha China mampu menawarkan harga yang lebih rendah kepada konsumen lokal.”
Trinh Nguyen, ekonom senior di bank Prancis Natixis mengatakan, Asia Tenggara tak hanya menawarkan tempat bagi perusahaan China untuk mengimbangi deflasi yang persisten di dalam negeri, tetapi juga kemungkinan perlindungan dari ketegangan geopolitik antara China dan Barat yang dipimpin AS.
“Buat China, mereka memang butuh putar haluan,” katanya, “Putaran yang paling mudah adalah ke kawasan ini, karena rantai pasokan jauh lebih pendek dan ini adalah salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat di dunia.”
Banyak pengusaha yang sudah ada di ASEAN sebelumnya mengungkapkan rencana mereka meningkatkan produksi untuk melindungi diri dari kebijakan perdagangan Trump yang naik turun.
Antara 2018 dan 2021, investasi keluar China di sektor manufaktur ASEAN rata-rata sekitar 10 miliar dolar AS/tahun, naik tiga kali lipat dari rata-rata antara 2014 dan 2017, di mana Indonesia, Vietnam dan Thailand menyedot 74% lebih dari total investasi antara 2018 dan 2024, demikian perhitungan perusahaan riset yang berbasis di New York, Rhodium Group.
Investasi itu antara lain di sektor peralatan rumah tangga dan furnitur — yang dikenakan tarif AS sampai dua digit. Investasi di sektor ini naik tajam dari rata-rata tahunan 240 juta dolar AS antara 2014 dan 2017 menjadi 560 juta dolar AS/tahun dari 2018 hingga 2021.
“Meski orientasi ekspor tetap dominan, tapi sebagian dari aliran investasi langsung asing ini juga membidik permintaan konsumen lokal yang terus meningkat,” tulis Armand Meyer dan Agatha Kratz dari Rhodium Group.
Setelah menaikkan tarif terhadap semua barang China hingga 145% pada April, AS bulan lalu memotong tarif menjadi 30% selama 90 hari di tengah negosiasi yang sedang berlangsung dengan China. Pungutan AS ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan pungutan yang ada di kebanyakan negara lain, yang dikenakan bea masuk 10%.
Cari Pasar Baru
Dalam pameran yang diselenggarakan Indonesia Petroleum Association (IPA), Kevin Jiang, seorang manajer dari Tianjin Victory Oilfield Equipment Manufacturing mengatakan kepada Nikkei bahwa perusahaannya secara aktif berusaha mengurangi ketergantungan pada permintaan AS yang mencapai separuh dari pembeli mereka.
“Kebijakan tarif Trump telah memaksa perusahaan untuk mencari pasar baru yang potensial,” kata Jiang. “Indonesia dengan sumber daya alamnya yang potensial adalah pasar yang menjanjikan bagi perusahaan.”
Sementara Rene De Jong, pemilik Resysta AV, pembuat furnitur luar ruangan, memperkirakan Trump tidak akan mencabut tarif yang ada pada China. Dengan pabrik di provinsi Guangdong, China serta di Indonesia, dia bermaksud melipatgandakan produksi di Indonesia dari waktu ke waktu karena ketidakpastian tarif.
“Semua orang akan melangkah ke strategi ‘China plus one’. Itu lebih valid dari sebelumnya,” katanya, “Jika dia [Trump] membatalkan tarif besok, apakah Anda pikir orang akan mempercayainya?”
GoldenHome, salah satu pembuat lemari dapur terbesar di China, mendirikan pabrik di Samut Prakan di Thailand tengah pada 2019. Langkah itu sebagian besar untuk menghindari bea masuk yang sangat tinggi yang dikenakan terhadap barang China oleh AS. Mayoritas komponen, dari panel pintu hingga engsel dan luncuran laci, diproduksi di Thailand ketimbang dari China, menurut Pan Xiaozhen, CEO perusahaan.
Perusahaan meresmikan toko unggulan di Malaysia bulan lalu. Langkah ini sebagian juga untuk melayani permintaan yang berkembang di kawasan ini, kata Pan. Perusahaan telah menghentikan rencana lebih lanjut untuk berkembang di AS setelah membuka jalur perakitan pertama di Cedar Hill, Texas pada Maret, tambahnya.
“Kami mungkin akan memindahkan lebih banyak kapasitas ke Malaysia jika negara itu mendapat tarif yang relatif lebih rendah dari AS,” katanya.
China Tetap Lebih Kompetitif
Namun, tidak semua orang begitu antusias tentang Asia Tenggara, meskipun ada tarif Trump.
Gong selaku pemilik Yiwu Sihai Christmas Crafts mengatakan, dia tidak ingin memindahkan produksi ke Vietnam atau negara lain. Alasannya sederhana. Biaya secara keseluruhan di China tetap lebih kompetitif. Meski upah tenaga kerja biasanya lebih murah di Asia Tenggara, tapi hambatan lain tetap ada.
“Sulit mengelola pekerja lokal. Kami mendengar mereka sering menolak bekerja lembur. Plus, modal China tidak selalu diterima di banyak bagian dunia,” katanya.
Di Manila, Dee Xie — yang mengambil aksesori smartphone seperti headphone dan menjual kepada konsumen di Filipina dan Indonesia — mengatakan margin keuntungan perusahaan dagangnya telah turun menjadi kurang dari 20%, hampir setengah dari ketika dia pertama kali memasuki pasar pada 2017.
Produksi di China tetap jauh lebih efisien daripada di tempat lain, meskipun ada ketidakpastian tarif, tambahnya. Sebagian besar komponen masih dipasok oleh perusahaan China, bahkan jika perakitan akhir dilakukan di tempat lain.
“Tidak ada tempat lain yang bisa mengalahkan kualitas barang yang dibuat di China,” kata Xie. “Ketika lebih banyak pesaing China yang datang, kami harus membedakan diri untuk bertahan.” AI








