Impor Migor Bekas pun Jadi Alat Tawar Trump Melawan China

Foto: Reuters

Minyak goreng (migor) ternyata bisa jadi medan pertempuran baru dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan China seiring meningkatnya ketegangan kedua negara. Presiden Donald Trump menyatakan, AS sedang mempertimbangkan untuk menghentikan impor dari China sebagai bentuk “pembalasan” atas penolakan negara tersebut membeli kedele Amerika.

Meski Trump tidak merinci lebih lanjut, fokus kemungkinan besar tertuju pada minyak goreng bekas alias used cooking oil (UCO), yaitu limbah migor yang dihasilkan oleh rumah tangga, restoran, dan produsen makanan.

UCO memang bisa diolah menjadi biofuel, yang merupakan solusi langsung untuk menggantikan bahan bakar fosil dan semakin populer di tengah dorongan global untuk menekan emisi karbon. Salah satu jenis biofuel ini adalah renewable diesel, yakni bahan bakar solar terbarukan yang dapat digunakan untuk kendaraan bermotor. Namun, impor UCO dari luar negeri menuai kontroversi di AS karena kelompok pertanian dan anggota parlemen menilai pasokan asing yang murah melemahkan permintaan terhadap hasil panen lokal yang digunakan untuk membuat biofuel.

AS menjadi net importir UCO sejak awal 2022. Hanya saja, pengiriman dari China mengalami penurunan tahun ini. Jika Trump benar-benar melaksanakan ancamannya untuk melarang impor minyak goreng bekas asal China, dampaknya kemungkinan besar akan lebih bersifat simbolis.

Mengapa Trump Mengancam?

Pada pertengahan Oktober, Trump menulis di Truth Social miliknya bahwa migor “dan elemen lain dalam Perdagangan” bisa menjadi sasaran balasan terhadap keputusan China yang menolak kedele AS — tindakan yang dia sebut sebagai “Tindakan Bermusuhan secara Ekonomi” yang sengaja “menyulitkan Petani Kedele kita.”

China merupakan importir kedele terbesar di dunia, terutama untuk diolah menjadi bungkil kedele pakan babi dan minyak kedele untuk masak. Tahun lalu, petani AS memasok sekitar seperlima dari total impor kedele China. Namun, kedele — komoditi pertanian ekspor terbesar AS — telah menjadi alat tawar dalam perang dagang yang lebih luas, saat China menahan impor sebagai taktik yang juga dilakukan selama masa jabatan pertama Trump.

Menurut data Departemen Pertanian AS (USDA), China belum melakukan pembelian kedele AS lagi sejak Mei 2025, dan hingga pertengahan September belum memesan satu kargo pun untuk musim panen baru yang dimulai bulan itu. Sebagai gantinya, China mengandalkan pasok dari Amerika Selatan, seperti Brasil dan Argentina, untuk menambah stok. Sementara itu, para petani AS — yang merupakan basis pemilih utama Trump dan Partai Republik — menghadapi gudang-gudang penyimpanan yang penuh dan harga jual rendah.

Apa Dampaknya Buat China?

Menurut Deptan, AS merupakan pasar tujuan utama ekspor UCO China pada 2024, di mana impor migor olahan asal China — terutama UCO — mencapai rekor 1,27 juta ton.

Namun, penjualan UCO sendiri anjlok tahun ini, jauh sebelum Trump menyuarakan kemungkinan menghentikan pembelian. Hal ini terjadi setelah pemerintah China mencabut insentif pajak untuk ekspor UCO pada Desember 2024. Kebijakan itu membuat ekspor jadi kurang menarik, sementara pemerintahan Trump malah menaikkan tarif untuk barang-barang asal China. Dari Januari hingga Juli 2025, China hanya mengekspor 387.000 ton UCO ke AS — separuh dari volume ekspor periode yang sama tahun sebelumnya.

Jika Trump benar-benar menghentikan impor UCO dari China, dampaknya kemungkinan akan terbatas buat Beijing, yang memiliki kapasitas dan keteguhan untuk tetap menjalankan strateginya terhadap kedele. Para pedagang UCO China mungkin akan menghadapi “tekanan jangka pendek karena harus mengalihkan volume ke Eropa atau menghadapi harga yang lebih rendah dan stok yang menumpuk,” kata Kang Wei Cheang, broker pertanian di StoneX Group Inc., Singapura.

Nilai perdagangan UCO sendiri jauh lebih kecil bagi China dibandingkan transaksi kedele buat AS. Bahkan pada tingkat rekor tahun 2024, nilai penjualan UCO hanya sekitar 1,2 miliar dolar AS, sementara ekspor kedele AS ke China mencapai sekitar 12,6 miliar dolar AS.

Apa Dampaknya Bagi AS?

Trump mengatakan bahwa AS “dengan mudah dapat memproduksi Minyak Goreng sendiri, kita tidak perlu membelinya dari China.”

Namun, mengingat Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) telah mengusulkan peningkatan jumlah biofuel yang harus dicampurkan ke dalam bahan bakar AS selama dua tahun ke depan, AS kemungkinan tetap perlu mengimpor UCO dari luar negeri.

Meskipun AS berupaya meningkatkan pasokan bahan baku biofuel dari dalam negeri, negara ini kemungkinan tetap kesulitan untuk menghasilkan minyak nabati yang cukup untuk memasok sektor bahan bakar dan pangan sekaligus. Pasalnya, kapasitas pemrosesan yang ada terbatas. “Masalah utamanya adalah kita tidak bisa menggiling semuanya,” kata Jason Miner, kepala global pertanian di Bloomberg Intelligence.

 

Mengapa Migor Bekas China Ditolak?

Penolakan terhadap UCO murah asal China memang makin meningkat di AS. Petani kedele dan pengusaha penggilingan dalam negeri sudah mengeluh bahwa bahan baku biofuel impor melemahkan permintaan terhadap bahan lokal dan menekan keuntungan mereka.

Sementara itu, kelompok industri, eksekutif biofuel, dan anggota parlemen tahun lalu juga sudah menyuarakan kekhawatirannya bahwa migor bekas asal China mungkin tercemar, yang mendorong pemerintah memperketat sistem verifikasinya. Ada spekulasi luas — meskipun belum terbukti — bahwa beberapa pengiriman dicampur dengan minyak sawit segar, yang dikaitkan dengan deforestasi dan pelanggaran tenaga kerja di Asia Tenggara.

Impor UCO dari China mulai melonjak pada 2023, saat produsen biofuel AS memborong pasokan murah guna memanfaatkan insentif federal dan negara bagian bagi bahan bakar rendah karbon. Lonjakan ini memicu perdebatan tentang siapa yang seharusnya berhak atas kredit pajak 45Z untuk produsen bahan bakar bersih, yang diatur dalam Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) — kebijakan iklim besar Presiden Joe Biden.

Kredit 45Z didasarkan pada intensitas karbon. Semakin rendah skor bahan bakar, semakin tinggi nilai kredit pajaknya. Karena UCO adalah limbah daur ulang, dia memiliki skor intensitas karbon yang lebih rendah dibandingkan bahan baku biofuel lain yang umum di AS, seperti minyak kedele segar.

Pada era pemerintahan Biden, impor UCO mulai dibatasi pada Januari 2024, dengan mengecualikan biofuel yang dibuat dari bahan baku asing dari kredit 45Z. RUU “One Big Beautiful Bill” Trump yang disahkan pada Juli bahkan lebih ketat — membatasi kredit ini hanya untuk produsen bahan bakar bersih yang dikendalikan AS dan menggunakan bahan baku asal Amerika Utara. AI