Kata-kata dan janji saja dipandang tidak cukup. Terbukti, meski 140 negara telah berkomitmen mengakhiri hilangnya hutan pada tahun 2030, faktanya deforestasi tetap meningkat. Insentif ekonomi pun akhirnya jadi jurus baru melalui Fasilitas Hutan Tropis Selamanya (TFFF) agar negara-negara mau melestarikan hutan mereka.
Ketika para pemimpin dunia berkumpul di kota Belem, Brasil — menghadiri KTT Perubahan Iklim (COP-30) — ada satu inisiatif menonjol mengingat potensinya untuk memberi hasil iklim yang efisien dan terukur: Tropical Forest Forever Facility (TFFF). Inilah dana investasi global baru yang diselenggarakan oleh Bank Dunia, yang akan membayar negara-negara untuk menjaga kelestarian hutan tropis mereka.
Pada 6 November 2025, sebanyak 53 negara menandatangani deklarasi peluncuran TFFF. Norwegia, Indonesia, Brasil, Prancis, dan Belanda pun mengumumkan kontribusi keuangan berjumlah lebih dari 5,5 miliar dolar AS. Jerman diperkirakan juga bakal mengumumkan investasinya sebelum COP30 berakhir. Kita dapat melihat koalisi negara-negara baru terbentuk di sekitar proyek konservasi global yang baru ini, yang jadi salah satu indikasi bagaimana dunia berubah dan mengapa TFFF jadi ide yang tepat waktu.
Dari sudut pandang saya, TFFF adalah proyek yang menarik karena beberapa alasan, dan sangat bijaksana jika pemerintah serta komunitas bisnis Jepang untuk berinvestasi.
Model pembiayaan terpadu ini menawarkan cara baru untuk mendanai proyek pembangunan sekaligus menjanjikan imbal hasil yang stabil bagi para investor. Melalui tangan investasinya, Tropical Forest Investment Fund (TFIF), TFFF akan menyalurkan sekitar 25 miliar dana publik sebagai sponsor capital dan 100 miliar dolar AS utang swasta ke dalam portofolio obligasi berisiko rendah yang telah disaring berdasarkan kriteria keberlanjutan, sambil mengecualikan sektor-sektor dengan dampak lingkungan besar.
Skema pengembaliannya menggunakan struktur “waterfall”, yang memprioritaskan pembayaran kepada pemegang utang senior, kemudian pemegang utang junior, dan selanjutnya kepada negara-negara pemilik hutan, berdasarkan total luas area berhutan. Jika kinerja pasar melemah, pembayaran kepada negara-negara hutan dapat dikurangi sementara tanpa mengganggu pokok investasi. Ketika kinerja keuangan membaik, negara-negara tersebut akan menerima pembayaran susulan (catch-up).
Desain yang menyerupai dana abadi (endowment) ini membuat TFIF dapat tetap beroperasi mandiri dan berkelanjutan dari sisi keuangan.
Saya percaya bahwa dengan membayar negara-negara untuk menjaga lahan hutannya tetap berhutan, TFFF membawa kita lebih dekat pada sebuah ekonomi yang memberikan nilai moneter bukan hanya pada luas wilayah berhutan di peta, tetapi juga pada layanan penopang kehidupan yang diberikan alam.
Hutan tropis merupakan salah satu ekosistem paling murah hati dan produktif di planet ini, yang memberikan layanan pemurnian udara bumi, mengatur iklim global dengan menyerap dan menyimpan sejumlah besar karbon di tanah serta menyediakan habitat bagi kehidupan tumbuhan, mengatur siklus air dan sistem cuaca dengan membentuk awan dan menghasilkan hujan, mengelola dan melindungi sistem sungai dengan menyaring air tanah, mencegah banjir dan erosi, serta menjaga kawasan dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Selama puluhan juta tahun evolusi, hutan dan ekosistem alami lainnya, termasuk lautan, lahan basah, dan tundra, telah memberikan layanan seperti ini dan banyak lagi kepada kita secara cuma-cuma. Sistem ekonomi kita yang tidak sempurna, berjangka pendek, dan berusia kurang dari 300 tahun, belum mampu menghargai pemberian sebesar itu. Sistem itu juga dapat berevolusi, tetapi hanya jika kita sengaja mendorongnya.
TFFF memang tidak sampai mengukur atau memonetisasi layanan hutan tropis. Namun, ini adalah dana pertama yang memberikan imbalan ekonomi bagi upaya menjaga lahan hutan tetap berhutan — sebuah langkah penting menuju perubahan insentif ekonomi yang mendukung konservasi. Fakta bahwa deforestasi terus meningkat, meskipun ada komitmen dari 140 negara untuk mengakhiri kehilangan hutan pada 2030, menunjukkan bahwa kata-kata dan janji saja tidak cukup. Realitas ekonomi masih lebih menghargai ekspor kayu dan komoditas pertanian ketimbang ekosistem hutan yang hidup; kita tidak akan menyelesaikan masalah ini sampai hal itu berubah.
TFFF mempercepat upaya memberi nilai atau harga layanan alam dengan menyediakan landasan yang stabil untuk serangkaian inisiatif pembiayaan hutan lainnya, termasuk debt-for-nature swaps, di mana negara dapat mengurangi utang nasionalnya dengan melestarikan sumber daya alam; kredit keanekaragaman hayati, yang mendorong proyek restorasi alam dengan memberikan kredit berdasarkan peningkatan biodiversitas yang terukur dan kemudian dapat dijual kepada perusahaan yang ingin memenuhi target keberlanjutan; pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+) untuk mendukung restorasi hutan; serta sistem pelaporan dan pengungkapan rantai pasok terkait hutan yang dirancang untuk memberikan transparansi terhadap sumber komoditas yang berasal dari ekosistem hutan. Semua mekanisme ini, ketika digabungkan, akan membentuk jaringan aliran pendanaan yang saling memperkuat. Inilah cara kita memasukkan alam ke dalam neraca keuangan (balance sheet).
Kita berada pada momen genting dalam sejarah, baik secara politik maupun ekologi. Sistem internasional kita mulai rapuh, negara-negara kehilangan kepercayaan, dan berbagai ekosistem berada di ambang titik kritis yang berbahaya dan tidak dapat dipulihkan.
Pada saat yang sama, ada minat nyata di sektor swasta untuk menemukan cara mendanai konservasi dan kelestarian. Revolusi teknologi yang sedang berlangsung memungkinkan pengukuran modal alam dengan cara yang semakin presisi dan semakin terjangkau. Demokratisasi data dapat membantu kita membangun institusi yang lebih transparan dan menyediakan jalur bagi para pemangku kepentingan untuk berinvestasi dalam alam.
Inilah saatnya bagi sistem global baru yang mampu melindungi warisan bersama kita di seluruh dunia. TFFF adalah langkah pertama dan sebuah studi kasus yang penting. Saya sangat berharap bahwa inisiatif ini akan memenuhi potensinya dan menjadi fondasi bagi pembangunan sistem ekonomi yang lebih berkelanjutan.

















