Ketika Simon Ellis pertama kali mengemudikan combine harvester-nya — Alsintan untuk memanen — ke ladang tahun ini, dia sudah punya bayangan bakal meraup “kegagalan panen dahsyat”. Maklum, dalam satu musim lahannya dilanda banjir yang kemudian diikuti kekeringan panjang.
Namun, alih-alih mendapat bulir-bulir yang kosong dan kisut, gandum, oat, dan kedele yang dipanen malah padat berisi, montok dan memenuhi mesin pemanennya.
Ellis (38) adalah petani generasi keempat di Wawanesa, Manitoba, Kanada. Dia mengaitkan keberhasilan ini dengan investasi pada sistem yang mahal, termasuk pertanian olah tanah minimum dan tanpa olah tanah (TOT) yang membantu melindungi tanah; drainase ubin (tile drainage), yakni sistem bawah tanah untuk mencegah banjir; pelet pupuk yang lambat dan lebih efektif melepas kandungan hara, serta saran dari ahli agronomi profesional mengenai herbisida. “Kami terus-menerus melakukan sedikit penyesuaian,” katanya. “Itulah cara kami untuk dapat terus melawan iklim yang berubah.”
Menurut data pemerintah Kanada, di sebagian besar wilayah Kanada barat, para petani seperti Ellis telah menghasilkan panen yang jauh lebih baik, meskipun kondisi semakin panas dan kering. Kondisi ini bahkan jauh melampaui apa yang dapat diharapkan para petani di wilayah tersebut dalam kondisi yang lebih baik beberapa tahun lalu. Hal ini sebagian berkat penerapan strategi adaptasi iklim secara luas.
Meskipun hasil panen di Kanada dan tempat lainnya yang lebih besar membuat harga biji-bijian global tertekan, namun hasil panen tersebutlah yang membuat banyak petani tetap bertahan dalam bisnisnya.
Rekor panen meski kekeringan
Praktik adaptasi iklim — yang cenderung mahal dan memerlukan teknologi mutakhir — telah memungkinkan banyak petani melewati kekeringan yang dimulai pada tahun 2020.
Awal bulan ini, pemerintah Kanada mengumumkan rekor panen gandum musim semi dan kanola untuk tahun 2025. Dan karena sebagian besar biji-bijian yang diproduksi di Kanada dikirim dan dikonsumsi di luar negeri, peningkatan hasil ini memiliki implikasi besar bagi kemampuan seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan pangan secara terjangkau.
Australia, eksportir biji-bijian global besar lainnya, juga melaporkan peningkatan hasil panen meskipun kondisi lebih kering.
Kombinasi metode dan teknologi ini tidak hanya membantu para petani Kanada mengimbangi perubahan iklim, tetapi juga membuat mereka selangkah lebih maju dari kerusakan yang ditimbulkannya, demikian menurut wawancara 25 petani, ilmuwan, dan pemimpin industri pertanian, serta tinjauan terhadap lebih dari selusin makalah akademis.
Gandum musim semi (spring wheat), yang digunakan untuk membuat roti berkualitas tinggi, menghasilkan 58,8 bushel/acre (1 acre = 0,404 hektare) tahun ini, menurut rilis data pemerintah. Produksi itu merupakan peningkatan 77% dari 30 tahun lalu, berdasarkan rata-rata tiga tahun. Hasil kanola hampir berlipat ganda, mencapai 44,7 bushel/acre, juga berdasarkan rata-rata 1994-1996.
Meskipun sebagian besar ilmu iklim melukiskan gambaran suram untuk pasokan pangan global — di mana berdasarkan studi di jurnal Nature tahun ini disebutkan bahwa panen gandum di Amerika Utara diperkirakan terjadi pengurangan hingga 40% pada tahun 2100 — namun para pakar pertanian yang diwawancarai Reuters mengatakan bahwa dengan strategi adaptasi iklim, ladang pertanian dapat terus menghasilkan panen yang semakin besar di masa depan.
“Dulu, 30, 35 bushel/acre (untuk gandum) akan dianggap sebagai panen melimpah,” kata Rob Saik, seorang ahli agronomi Kanada yang telah menjadi konsultan bagi pemerintah di seluruh dunia. “Sekarang, jumlah itu adalah kegagalan total.”
Wilayah yang sangat sulit
Bahkan, sebelum perubahan iklim membuat cuaca jadi lebih tidak terduga dan ekstrem, Kanada barat adalah wilayah yang terkenal sulit untuk bercocok tanam.
Wilayah padang rumput tengah, lahan dengan rumput pendek berwarna hijau dan emas serta semak belukar tipis, hanya mendapatkan sekitar setengah curah hujan Iowa, dan memiliki musim tanam yang jauh lebih pendek. Perubahan iklim membuatnya semakin sulit.
Environment and Climate Change Canada mengatakan, negara ini memanas pada tingkatan dua kali lipat rata-rata global dan bahwa peristiwa ekstrem menjadi lebih umum. Di padang rumput, curah salju tahunan, sumber utama kelembaban musim semi, telah menurun dan ekstremitas hujan dan kekeringan musim panas telah meningkat, dengan hujan yang sering kali datang dalam curahan besar, atau tidak sama sekali.
“Peristiwa ekstrem, seperti banjir, gelombang panas, kebakaran hutan, dan badai hebat, semakin merusak ekonomi, ekosistem, dan lingkungan binaan kami,” kata departemen federal dalam laporan tahun 2024.
Kemajuan bertahap, bukan keajaiban
Para ilmuwan dan ahli agronomi mengatakan, keuntungan Kanada tidak berasal dari satu faktor dramatis, tetapi dari kemajuan bertahap dan mantap dengan metode dan input pertanian.
Banyak benih kini hadir dengan ketahanan terhadap serangga, penyakit, dan gulma, berkat pemuliaan konvensional maupun modifikasi genetik. Pemberian pupuk dirancang untuk meminimalkan gangguan pada permukaan tanah dengan ditempatkan bersamaan dengan masuknya benih.
Fungisida, herbisida, dan nutrisi memungkinkan tanaman untuk mengungguli musuh alami mereka.

Beberapa strategi malah mengingatkan pada praktik pertanian pra-industri, seperti tumpang sari (intercropping), menanam banyak tanaman secara bersamaan.
Para ahli juga memuji otomatisasi Alsintan seperti traktor berpemandu mandiri yang memberikan pupuk pada tingkat yang berbeda berdasarkan pengujian tanah dan pemetaan satelit.
Evolusi dan adaptasi
Keluarga Mowbray memulai praktik adaptif empat dasawarsa lalu dengan drainase ubin, memasang sedikit pipa berlubang yang dirancang untuk membawa air turun ke dalam tanah daripada menyebarkannya di permukaan.
Selama 12 tahun terakhir, Scott Mowbray (46), telah memperluas sistem drainase tersebut ke sekitar 800 acre lahannya.
Keluarga Mowbray secara bertahap juga menggunakan olah tanah minimum. Pada tahun 2010, pertanian seluas 2.000 acre itu sepenuhnya menerapkan tanpa olah tanah (no-till), di mana lahan dibiarkan tanpa dibajak dan dengan tunggul yang berfungsi sebagai perangkap kelembaban dan penghalang terhadap angin yang jika tidak, akan membawa tanah lapisan atas pergi.
Inovasi-inovasi ini memungkinkan keluarga Mowbray “mendapatkan hasil panen dua kali lipat dari yang kami dapatkan dengan curah hujan hanya setengah,” kata Mowbray, seraya menyebutkan volume produksi gandum musim semi, kacang polong, dan rye (gandum hitam) yang “luar biasa”.
Teknologi dengan harga tinggi
Namun, semua itu memang ada harganya. Apa yang memungkinkan petani Kanada mampu mengatasi perubahan iklim itu melibatkan peralatan yang mahal dan kompleks. Sebuah mesin pemanen pintar berharga lebih dari 1 juta dolar Kanada (Rp 12 miliar lebih dengan kurs Rp12.000/dolar Kanada). Bahkan, sebuah traktor dan alat penabur benih dengan kemampuan data berkecepatan tinggi berharga sekitar 2 juta dolar Kanada.
Kip Eideberg dari Asosiasi Pabrikan Alsintan, yang mewakili John Deere, Case New Holland, dan produsen lainnya mengatakan, sistem presisi telah menghemat 9% herbisida dan pestisida, 6% bahan bakar, dan 4% penggunaan air bagi petani Kanada. Itu sama saja menghemat uang bagi petani yang beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis, katanya.
Sebagian besar petani skala besar memiliki akses ke teknologi semacam itu di traktor, mesin pemanen (combine harvester), alat penyemprot (sprayer), dan komputerisasi manajemen mereka, kata Terry Griffin, seorang ekonom pertanian Universitas Kansas. Namun, generasi petani yang lebih tua seringkali tidak ingin mengambil tantangan digital, sementara petani yang lebih muda tidak punya uang untuk mesin atau saran agronomi.
Salah satu hambatan untuk adopsi yang lebih besar adalah akses jaringan internet pita lebar (broadband) di pedesaan. Mowbray tidak bisa mengandalkan Alsintannya tetap beroperasi karena butuh aliran data yang konstan. Dia bahkan tidak bisa menelepon ke rumah dari ponselnya. Sebaliknya dia bergantung pada radio dua arah sebagai gantinya.
“Ini hal sederhana, tetapi sangat penting. Ketika Anda berada di ladang dan mungkin membutuhkan penjemputan, tetapi tidak bisa menelepon ke rumah,” katanya.
Faktor perbenihan
Faktor lain yang sama pentingnya bagi keuntungan petani adalah: pemuliaan tanaman yang unggul secara genetik, yang lebih kuat, toleran terhadap kekeringan, dan menghasilkan panen yang lebih besar.
“Kita baru saja memulai jalan itu,” kata Rick Mitzel, CEO organisasi pengembangan benih mustar Mustard 21 yang didanai petani dan industri. Perusahaan ini sedang mengembangkan tanaman yang toleran terhadap kekeringan sebagai alternatif kanola. Varietas tersebut “keluar dari tanah lebih cepat, mengembangkan akar lebih cepat, daunnya lebih cepat,” kata Mitzel kepada Reuters.
South East Research Farm yang dikendalikan petani di Redvers, Saskatchewan, telah menguji tanaman seperti camelina, yang kemungkinan besar akan ditanam di Kanada untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan, yang dapat menawarkan hasil panen yang lebih baik dan ketahanan yang lebih tinggi kepada para petani.
Direktur eksekutif Lana Shaw menilai perubahan iklim tidak mungkin terjadi tanpa merugikan bagi komunitas pertanian Kanada. Beberapa petani akan memilih untuk tidak beradaptasi dan akan pensiun. Beberapa akan beradaptasi dan gagal. Dan beberapa petani akan beradaptasi dan berkembang.
“Di bawah tekanan,” katanya, “mereka dapat beradaptasi dengan sangat cepat.” AI


















