Perekonomian Indonesia menghadapi prospek stagflasi yang “buruk” akibat terjadinya depresiasi mata uang rupiah serta ketidakpastian kepercayaan publik dibandingan negara-negara lainnya di lingkup Asean.
Penilaian dan peringatan ini dikemukakan pimpinan perusahaan konsumen Jepang di Indonesia, Kao Indonesia, Shoichi Hasegawa. Dalam wawancaranya dengan Nikkei Asia, Presiden Direktur Kao Indonesia ini mengatakan, konsumen mengurangi pengeluaran karena rupiah yang makin melorot terhadap greenback dan perang Amerika-Iran mendorong inflasi lebih tinggi.
Sebagai perekonomian terbesar di Asia Tenggara, Indonesia, kata Hasegawa, menderita “pukulan ganda” yang lebih besar berupa depresiasi mata uang yang cepat dan ketidakpastian kepercayaan publik dibandingkan dengan negara tetangganya, Thailand dan Malaysia.
“Yang saya anggap berbahaya saat ini adalah tren (permintaan) menuju deflasi,” katanya. “Pada dasarnya, jika konsumen hanya membeli barang murah, pertumbuhan ekonomi pasti akan terganggu kecuali volume pembelian berubah.”

Sementara itu, dampak dari perang Iran-Amerika akan berkepanjangan, bahkan jika AS dan Iran segera mencapai kesepakatan damai, kata direksi perusahaan yang memproduksi produk-produk seperti sabun mandi dan pembersih wajah Biore, deterjen pakaian Attack, produk sanitasi Laurier, dan popok bayi Merries ini.
“Harga minyak cenderung sedikit menurun, tetapi butuh waktu sebelum harga bahan baku merasakan manfaatnya. Jadi kita perlu beroperasi seolah-olah tren ini akan berlanjut hingga akhir tahun,” tandas Hasegawa. Stagflasi sediri adalah kondisi di mana inflasi meningkat tetapi pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja stagnan.
Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kuat sebesar 5,61% pada kuartal I/2026. Namun, kepercayaan konsumen malah berada di sekitar titik terendah dalam lima bulan terakhir dan rupiah telah berulang kali jatuh ke titik terendah sepanjang masa dalam beberapa bulan terakhir akibat sentimen investor melemah di tengah ketidakpastian kebijakan pemerintah, reformasi pasar keuangan yang tidak pasti, dan kekhawatiran tentang supremasi hukum. Bank Indonesia selaku bank sentral sudah menaikkan suku bunga lebih dari yang diperkirakan pekan lalu untuk mempertahankan mata uang.
Kao Indonesia sendiri telah memberitahukan kepada para distributor tentang kenaikan harga dalam sebulan terakhir karena biaya meningkat akibat gangguan pasokan terkait perang dan pelemahan rupiah. Hasegawa menolak untuk menyebutkan barang mana saja yang akan naik harga, atau berapa banyak, untuk menjaga daya saing.
“Produk kami mencakup berbagai kategori. … Bahkan jika kami dapat memperoleh beberapa barang, kami tidak dapat memperoleh barang lainnya, yang memperlambat produksi,” katanya, seraya menambahkan bahwa deterjen — yang menggunakan nafta atau turunan minyak mentah lainnya — adalah yang paling terdampak. Kao telah melihat tanda-tanda pengecer menimbun barang menjelang kenaikan harga, papar pria Jepang ini.
“Bahkan pasar tradisional pun sangat terpengaruh,” tambahnya. “Terus terang saja, arus kas mereka mengering.”
Hasegawa mengatakan, Kao melihat adanya “polarisasi” dalam konsumsi, terutama di kalangan kelas menengah Indonesia, yang menurut data resmi telah menyusut sekitar 10 juta orang dalam enam tahun terakhir. Misalnya dalam produk sanitasi. Fitur khusus seperti pembalut ultra tipis dan perawatan antibakteri diterima dengan baik. Di sisi lain, untuk deterjen, ada keinginan yang jelas untuk menekan biaya.
Hasegawa menekankan, masalah ini tidak terbatas pada sektor barang konsumsi yang bergerak cepat. “Saya pikir hal yang sama berlaku untuk industri otomotif, dan saya yakin ada rasa tidak nyaman yang semakin meningkat (di semua industri) mengenai situasi ini,” katanya.
“Jika ini menyebar ke seluruh negeri, hal itu dapat memicu siklus ekonomi yang buruk, di mana semua pengeluaran konsumen dan pertumbuhan ekonomi menyusut, yang menyebabkan memburuknya kondisi ketenagakerjaan.”
“Fluktuasi mata uang merupakan indikator yang jelas tentang kekuatan atau kelemahan ekonomi suatu negara,” kata Hasegawa, terutama karena perdagangan bahan baku menggunakan dolar AS. “Dibandingkan dengan Thailand dan Malaysia, dampaknya jauh lebih buruk.”
Menurut data Bloomberg, sejak dimulainya perang Iran-AS pecah, rupiah telah terjungkal sekitar 5,45% sementara baht Thailand kehilangan 5,1% dan ringgit Malaysia 2,1%.
“Meskipun dampaknya belum ekstrem, kemungkinan besar akan berdampak lebih lanjut pada perilaku konsumen,” tandas Hasegawa.
Indonesia bukanlah satu-satunya ekonomi Asia Tenggara yang menghadapi stagflasi. Ferdinand Marcos Jr., presiden Filipina, yang mengimpor sebagian besar energi yang dibutuhkannya, memperingatkan pekan lalu bahwa dia dapat melihat “semua elemen” stagflasi dalam perekonomian negaranya.
Asia Tenggara, khususnya Indonesia, merupakan pasar pertumbuhan utama bagi Kao. Yoshihiro Hasebe, presiden dan CEO global perusahaan tersebut mengatakan kepada Nikkei tahun lalu bahwa “Indonesia kini telah melampaui China dan menjadi pasar luar negeri terbesar kami untuk barang-barang rumah tangga.” Kao melihat ruang pertumbuhan lebih lanjut di negara tersebut, mengingat bahwa “selain pertumbuhan populasi dan ekonomi, perempuan semakin banyak berpartisipasi dalam masyarakat.”
Sementara kepala ekonom Bank Permata, Josua Pardede sepakat bahwa Indonesia sudah menghadapi risiko “biaya meningkat dari sisi penawaran, sementara sebagian dari permintaan riil melemah.”
Dia memperingatkan bahwa bagi perusahaan seperti Kao, jika biaya input naik lebih cepat daripada harga jual, mereka akan “dipaksa untuk membuat pilihan yang sulit: menaikkan harga dan berisiko kehilangan pelanggan, menanggung biaya dan melemahkan profitabilitas, memangkas produksi, menunda investasi, atau mengurangi jumlah karyawan.” AI







