Bantu Peternak Mikro, BULOG Percepat Pengiriman Sepuluh Ribu Ton Jagung ke Jawa

https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Perum BULOG bergerak cepat memperkuat pasokan jagung pakan bagi peternak mikro di Pulau Jawa melalui percepatan distribusi komoditas itu dari sejumlah daerah sentra produksi.

Hal ini dibuktikan Direktur Utama Perum BULOG Letnan Jenderal TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani dengan meninjau langsung proses pemuatan 10.000 ton jagung program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (22/10). Jagung tersebut akan dikirim melalui jalur laut menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, untuk selanjutnya disalurkan kepada peternak mikro di berbagai wilayah Pulau Jawa.

“Peninjauan ini untuk memastikan bahwa pergeseran jagung SPHP bagi kebutuhan pakan ternak, khususnya peternak mikro di Pulau Jawa, benar-benar berjalan dan dapat dikirim secepatnya. Ini merupakan tindak lanjut dari aspirasi para peternak yang disampaikan di DPR RI dan langsung kami respons dengan mempercepat pengiriman jagung dari daerah-daerah sentra produksi,” ujar Ahmad Rizal di sela peninjauan didampingi Pemimpin Wilayah Perum BULOG Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) beserta jajaran BULOG Kanwil Sulselbar

Saat melakukan pemeriksaan langsung di atas kapal, Ahmad Rizal memastikan bahwa dari total kapasitas angkut 10.000 ton, sebanyak 8.214 ton jagung telah berhasil dimuat. Proses pemuatan ditargetkan selesai pada malam hari agar kapal dapat bertolak paling lambat Jumat (23/10) pagi. Dengan estimasi pelayaran selama tiga hari, jagung tersebut diharapkan segera tiba di Pelabuhan Tanjung Perak untuk diteruskan kepada peternak mikro di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Harapan saya maksimal tiga hari jagung ini sudah sampai di Tanjung Perak dan siap disalurkan kepada seluruh peternak mikro di Pulau Jawa. Kami ingin memastikan distribusinya berjalan cepat agar kebutuhan peternak dapat segera terpenuhi. Pemerintah selalu hadir dan merespons dengan cepat kebutuhan masyarakat, termasuk para peternak mikro,” tegas Ahmad Rizal.

Baca juga:  Siap-siap, Pupuk Subsidi Dihapus

Selain pengiriman 10.000 ton dari Sulawesi Selatan, BULOG juga mempersiapkan pengiriman sekitar 15.000 ton jagung dari Gorontalo. Sementara itu, mobilisasi sekitar 8.000 ton jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan melalui jalur laut maupun darat, termasuk melalui penyeberangan Bali menuju Jawa Timur. Secara keseluruhan, sekitar 33.000 ton jagung menjadi bagian dari langkah percepatan mobilisasi pasokan dari ketiga wilayah tersebut untuk memperkuat ketersediaan jagung pakan bagi peternak mikro di Pulau Jawa.

Ahmad Rizal menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan jagung pakan tidak terlepas dari tingginya permintaan telur dan daging ayam, termasuk untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut mendorong meningkatnya kebutuhan bahan baku pakan, khususnya bagi peternak mikro. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pemerintah telah menetapkan tambahan penugasan SPHP jagung tahap kedua sebanyak 150.000 ton, sehingga BULOG terus mengoptimalkan distribusi dari wilayah-wilayah sentra produksi menuju daerah yang membutuhkan.

Melalui program SPHP, jagung pakan disediakan dengan harga Rp5.000 per kilogram di gudang BULOG dan maksimal Rp5.500 per kilogram sampai di tingkat peternak melalui mekanisme penyaluran yang ditetapkan. Program ini secara khusus ditujukan kepada peternak mikro melalui koperasi atau kelompok peternak yang memenuhi persyaratan, guna membantu menjaga keterjangkauan biaya produksi sekaligus mendukung keberlangsungan usaha peternakan rakyat.

Terkait pengiriman jagung dari Sulawesi Selatan, Ahmad Rizal memastikan bahwa langkah tersebut tetap mempertimbangkan ketersediaan pasokan di daerah asal. Berdasarkan laporan saat peninjauan, stok jagung di Sulawesi Selatan tercatat sekitar 18.000 ton, dengan potensi tambahan pasokan dari panen berikutnya pada November mendatang.

“BULOG terus menjaga keseimbangan antara kebutuhan distribusi antardaerah dan ketersediaan stok setempat, sehingga penguatan pasokan bagi peternak di Pulau Jawa tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat di wilayah produsen,” pungkasnya. Buyung N

Baca juga:  Erick Thohir Rombak Jajaran Direksi dan Dewas BULOG