Industri Pengolahan Tembakau Hadapi Tantangan Berat

https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Industri hasil tembakau (IHT) nasional menghadapi tantangan berat akibat masih maraknya peredaran rokok ilegal yang pada 2025 tercatat mencapai 13,9 persen dari total rokok yang beredar di dalam negeri dan rencana munculnya sejumlah regulasi yang menghambat industri rokok.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar (Mintemgar), Merrijantij Punguan Pintaria menuturkan, industri hasil tembakau (IHT), pada Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 masih berada pada fase ekspansi, meskipun mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini ditopang oleh komponen pesanan baru dan produksi yang tetap ekspansif, sementara persediaan berada pada fase kontraksi.

“Arti kontraksi disini yaitu persediaan cukup banyak. Dapat kami sampaikan mengingat saat ini terjadi panen tembakau, banyak pelaku industri yang memanfaatkan stok produksi mereka sebagai produk jadi, sambil menunggu kebijakan pemerintah terkait cukai untuk tahun depan,” tutur Merri pada rilis  IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Merri mengatakan, pelaku industri IHT biasanya memiliki strategi khusus yang dilakukan untuk berjaga-jaga menghadapi kebijakan baru dari pemerintah terkait kenaikan cukai industri hasil tembakau. “Jadi, strategi yang diambil oleh pelaku industri yaitu dengan menyiapkan produksi sebelum mendekati akhir tahun,” katanya.

Dari sisi ekspor, nilai ekspor produk olahan tembakau pada Januari–Agustus 2026 mencapai Rp1,48 triliun, meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa peredaran rokok ilegal yang pada 2025 tercatat mencapai 13,9 persen dari total rokok beredar.

“Hal ini tentu berpotensi mengurangi daya saing produk legal dan mengurangi kontribusi IHT terhadap penerimaan negara,” ungkap Merri.

Selain itu, sejumlah regulasi terkait pembatasan kandungan nikotin dan tar, larangan penggunaan bahan tambahan, serta terkait gambar dan peringatan kesehatan menimbulkan ketidakpastian usaha yang turut memengaruhi tingkat optimisme sebagian pelaku industri.

Baca juga:  Produk Furnitur Indonesia Menyasar Pasar China

Dalam hal ini, Kementerian Perindustrian terus mengikuti perkembangan penyusunan regulasi terkait, termasuk harmonisasi Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tentang peringatan dan informasi kesehatan pada kemasan dan iklan produk IHT, melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan.

“Komunikasi kami dengan Kemenkes cukup baik. Kami juga mengikuti harmonisasi Rancangan Permenkes tentang peringatan dan informasi kesehatan pada kemasan dan iklan produk IHT. Harmonisasinya sudah ke sekian kali, semoga dalam waktu dekat bisa segera diterbitkan Permenkes-nya, mengingat ini merupakan satu poin yang dinanti-nanti industri,” katanya.

IKI Menguat

Kinerja industri manufaktur nasional menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 53,77, meningkat 1,84 poin dibandingkan September 2026 sebesar 51,93. Capaian tersebut juga lebih tinggi 0,27 poin dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat sebesar 53,50, menandakan aktivitas industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi.

“Apabila kita perhatikan, IKI dari bulan ke bulan menunjukkan sektor industri terus ekspansi dan kuat. Dari 23 subsektor yang menjadi objek penilaian IKI, dapat kami sampaikan bahwa sebagian besar tumbuh sangat baik,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A Cahyanto dalam Rilis IKI Oktober 2026 di Jakarta, Kamis (29/10).

Peningkatan IKI Oktober 2026 terutama terlihat pada variabel pesanan dan produksi. Indeks variabel pesanan tercatat sebesar 56,08 atau naik 2,68 poin dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan indeks produksi mencapai 55,38 atau meningkat 1,60 poin. Sementara itu, indeks persediaan berada pada level 45,60 atau naik 0,15 poin, tetapi masih berada dalam fase kontraksi selama lima bulan berturut-turut.

Sekjen menjelaskan, tingkat optimisme pelaku industri untuk enam bulan ke depan tetap terjaga, dengan 67,4 persen responden menyatakan optimistis. Pada saat yang sama, tingkat pesimisme menurun dari 5,8 persen menjadi 5,5 persen. Berdasarkan orientasi pasar, IKI industri berorientasi ekspor tercatat sebesar 53,93, sedangkan IKI industri berorientasi pasar domestik mencapai 53,55. Buyung N

Baca juga:  Gelar FGD, AGRI Dukung UMKM Tingkatkan Daya Saing dan Mutu Produk