Muhammad Iqbal sangat menikmati pekerjaannya mengemudikan bus listrik yang disediakan Transjakarta setahun lalu. Bus tersebut adalah impor dari China dan diproduksi produsen kendaraan listrik Skywell.
Dulu, bus besutan China punya reputasi busuk di Indonesia, ungkap Iqbal. Pria berusia 47 tahun ini sudah 20 tahun lebih menjadi supir bus umum. Dia menceritakan berbagai kejadian sekitar 10 tahun lalu, di mana bus-bus China berbahan bakar gas (CNG) sering mogok, bahkan terbakar. Kejadian itu sempat memaksa Transjakarta beralih kembali ke merek-merek Jepang dan Eropa.
Tapi sekarang semuanya berbeda. “Mengemudikan bus listrik ini sekarang jauh lebih nyaman,” kata Iqbal kepada Nikkei Asia. “Transmisinya otomatis, dan supir tidak perlu lagi mengantre di SPBG setiap malam sebelum pulang ke pul,” tambahnya. Menurutnya, supir kini cukup meninggalkan bus di depo Transjakarta (Tije) untuk diisi daya semalaman sebelum kembali “narik” keesokan harinya.
Transjakarta, pengelola jaringan bus di ibu kota Jakarta, pertama kali memperkenalkan bus listrik besutan raksasa kendaraan listrik (EV) asal China, BYD, pada tahun 2022. Tiga tahun kemudian, Tije telah mengoperasikan 420 bus listrik — hampir 10% dari total armada mereka — termasuk unit buatan perusahaan China lainnya, seperti Skywell dan Zhongtong Bus. Tije, yang juga menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelit sekitarnya, menargetkan perluasan armada hingga 10.000 bus dan beralih sepenuhnya ke listrik pada tahun 2030.

Dalam beberapa tahun terakhir, seluruh negara di Asia Tenggara terus mendorong adopsi bus listrik sebagai bagian dari upaya dekarbonisasi yang lebih luas. Produsen EV asal China dengan cepat menangkap peluang ini, terutama karena persaingan yang makin sengit serta melambatnya pasar di dalam negeri sehingga mendorong mereka berekspansi ke luar negeri.
Secara global, China mendominasi ekspor bus listrik yang dipimpin oleh Yutong Bus dan Xiamen King Long United Automotive Industry, dan tren ini terus meningkat. Pada paruh pertama 2025 saja, China telah mengekspor sekitar 9.000 bus listrik ke seluruh dunia, naik 124% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut berita dari China Auto M.S. Meskipun dari jumlah itu kontribusi negara-negara Asia Tenggara masih kecil, namun permintaan terus tumbuh di kawasan ini dan diprediksi akan mengubah peta tersebut.
Di Indonesia, BYD berkongsi dengan VKTR Teknologi Mobilitas — perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki Grup Bakrie. Pada Mei, VKTR membuka pabrik perakitan bus dan truk listrik di Magelang, Jawa Tengah, dengan target mengirimkan 50 bus ke Transjakarta pada akhir Desember dan 30 unit tambahan pada awal 2026.
VKTR menyatakan, 40% komponen bus mereka berasal dari sumber lokal. Dengan kandungan lokal sebesar itu membuat anak usaha Bakrie Grup ini menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang mencapai tonggak tersebut, sehingga berhak mendapatkan insentif EV dari pemerintah.
Direktur Utama VKTR, Gilarsi Wahju Setijono mengatakan, pabrik perakitan tersebut saat ini belum beroperasi maksimal, dengan produksi hanya sekitar 200 kendaraan/tahun dari kapasitas total 3.000 unit/tahun. Namun, dia tetap optimis dengan prospek perusahaan.
“Kapasitas kami saat ini belum ada apa-apanya dibandingkan kebutuhan Indonesia,” ujar Setijono dalam wawancara dengan Nikkei Asia, merujuk pada janji emisi nol bersih Presiden Prabowo Subianto. Namun, tambahnya, kecepatan adopsi akan bergantung pada implementasi teknis dari kebijakan tersebut — yang jika terealisasi akan membutuhkan “mungkin 10 pabrik lagi” seperti pabrik di Magelang.
Singapura dan Malaysia
Bus-bus listrik buatan China juga mulai banyak merambah jalanan di negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia, setidaknya 146 bus listrik telah beroperasi hingga Oktober, termasuk 46 unit buatan Foton Motor yang melayani rute Johor Bahru-Singapura dan 15 bus BYD di jaringan bus rapid-transit Lembah Klang.
Meski jumlah masih sedikit, permintaan diperkirakan akan tumbuh pesat seiring rencana Malaysia beralih ke transportasi umum yang lebih ramah lingkungan, termasuk rencana pengerahan ribuan bus listrik di seluruh negeri dalam lima tahun ke depan.
Rick Phang, kepala pemasaran BYD Malaysia mengatakan, produsen EV China tersebut fokus untuk memenangkan tender besar dari perusahaan milik negara dan berekspansi ke segmen armada komersial yang lebih luas, termasuk logistik, pelabuhan, dan operasional bandara.
Produsen otomotif Malaysia juga mulai memasuki bisnis ini melalui kerja sama dengan mitra dari China. SKS Bus yang berbasis di Johor, misalnya, telah bermitra dengan produsen sarana perkeretaapian CRRC dan China Electrical Equipment Group untuk mengembangkan bus listrik pertama yang dirancang secara lokal di Malaysia.
Di negara jiran Singapura, Otoritas Transportasi Darat (LTA) pada Oktober memberikan kontrak senilai 8,14 juta dolar Singapura (Rp96 miliar) kepada konsorsium China yang terdiri dari BYD, MKX Technologies, dan Zhidao Network Technology untuk proyek uji coba bus listrik otonom. Keputusan ini menyusul kontrak yang diberikan Singapura pada akhir 2023 kepada BYD untuk 240 bus listrik senilai 108,1 juta dolar Singapura, dan kepada Zhongtong untuk 120 kendaraan senilai 58,3 juta dolar Singapura.
Singapura berencana membeli lebih dari 2.000 bus listrik untuk mengisi separuh dari armada bus umumnya pada tahun 2030, dengan target armada energi bersih 100% pada tahun 2040.
Di Filipina, data pemerintah menunjukkan baru ada 43 bus listrik yang beroperasi hingga September. Armada ini termasuk yang dipasok oleh BYD melalui mitra lokal seperti Columbian Motors, serta bus buatan Golden Dragon China yang saat ini digunakan oleh pemerintah Quezon City untuk layanan transportasi umum gratis. Namun, bus listrik diproyeksikan akan memainkan peran lebih besar berkat Undang-Undang Pengembangan Industri Kendaraan Listrik 2022, yang mewajibkan instansi pemerintah dan perusahaan negara untuk memiliki setidaknya 5% armada listrik.
Vietnam dan Thailand
Berbeda dengan anggota ASEAN lainnya, Vietnam dan Thailand menjadi pengecualian. Sejauh ini, peluang bagi produsen kendaraan listrik China masih terbatas. Di Vietnam, produsen EV lokal VinFast mendominasi tidak hanya pasar mobil listrik, tetapi juga bus listrik. Sejak diluncurkan tahun 2021, ratusan bus VinFast telah menjadi pemandangan biasa di jalanan Hanoi dan Ho Chi Minh City. Perusahaan yang terdaftar di bursa Nasdaq ini baru saja memperkenalkan dua model bus listrik di Eropa pada Oktober dan kini mampu memproduksi 2.000 kendaraan/tahun.
Kim Long Motors adalah produsen bus Vietnam lainnya yang dilaporkan mengirimkan 443 bus listrik ke Ho Chi Minh City tahun ini. Selain bus yang beroperasi di jaringan kota, pemerintah setempat juga memperkenalkan bus listrik yang lebih kecil untuk mengantar penumpang ke arah metro yang mulai beroperasi pada Desember 2024. Dari 2.350 bus di kota tersebut, 26% adalah listrik dan 23% menggunakan gas alam. Semua pembelian bus di masa depan akan menggunakan model listrik, dengan harapan seluruh armada beralih ke listrik pada 2030.
Di Thailand, produsen EV lokal Nex Point mulai memproduksi bus listrik pada tahun 2020. Dewan Investasi Thailand memberikan pembebasan pajak selama delapan tahun kepada perusahaan yang terdaftar di bursa saham tersebut. Saat ini, mereka memiliki kapasitas produksi 9.000 bus/tahun. Namun, Thailand diperkirakan tidak akan mengalami lonjakan permintaan bus listrik yang tajam dalam beberapa tahun ke depan karena pemerintah sedang gencar berinvestasi pada kereta bawah tanah serta kereta layang dan mendorong masyarakat menggunakannya.

Kekhawatiran soal keamanan
Terlepas dari prospek cerah di pasar Asia Tenggara, belakangan mulai muncul kekhawatiran soal keamanan terhadap bus listrik China. Hal itu terjadi setelah operator transportasi umum Norwegia, Ruter, menyatakan pada awal November bahwa armada bus Yutong mereka berpotensi dimanipulasi dari jarak jauh melalui pembaruan perangkat lunak otonom. Hal ini memicu penyelidikan serupa oleh Denmark dan Inggris.
Yutong, produsen bus terbesar di dunia yang berbasis di Zhengzhou, China, membantah klaim tersebut. Mereka menyatakan, manipulasi semacam itu secara teknis tidak mungkin dilakukan karena pembaruan perangkat lunak sepenuhnya terisolasi dari sistem keamanan kritis, seperti kemudi dan pengereman.
Di Asia Tenggara, Singapura dilaporkan mengoperasikan 20 bus listrik Yutong. Perusahaan ini memiliki jejak besar di Filipina dengan sekitar 3.300 bus yang digunakan. Bus Yutong juga sesekali terlihat di Indonesia, meski belum jelas apakah ada di antaranya yang bertenaga listrik. Yutong sudah masuk di dua negara tersebut bertahun-tahun lalu, bahkan sebelum era EV dimulai.
Menurut Pratama Persadha, ketua lembaga think tank keamanan siber Indonesia CISSReC, pemerintah dan operator bus tidak boleh mengabaikan kekhawatiran keamanan ini. Dia menilai ada kemungkinan pencurian data, mulai dari lokasi kendaraan secara real-time hingga pola mobilitas publik, yang memiliki “nilai strategis tinggi baik untuk tujuan komersial maupun intelijen.”
“Pemerintah dapat mengadopsi kebijakan keamanan nasional yang mewajibkan audit siber untuk semua sistem EV impor,” ujar Pratama.
“Siapa pun perusahaannya, risiko keamanan siber akan selalu ada, baik itu buatan Amerika, China, Jepang, Korea, maupun Eropa,” tandas Mark Manantan, direktur keamanan siber dan teknologi kritis di think tank Pacific Forum di Honolulu. Dia mencatat bahwa di Filipina, “EV China, meskipun efisien secara biaya dan memiliki performa baik, akan tetap dipolitisasi… karena ketegangan yang terus berlanjut di Laut China Selatan.”
“Itulah tantangan abadi bagi perusahaan teknologi China, entah itu di jaringan 5G atau kendaraan listrik,” pungkas Manantan. AI

















