Ribuan meter kubik kayu lapis (plywood) jenis hardwood serta kayu lapis dekoratif yang tiap minggu masuk ke pelabuhan-pelabuhan Amerika Serikat terancam terkena tarif tinggi.
Hal itu terjadi setelah Koalisi Perdagangan Kayu Lapis Keras yang Adil (Coalition of Fair Trade in Hardwood Plywood) secara resmi mengajukan petisi ke Departemen Perdagangan AS dan Komisi Perdagangan Internasional (ITC).
Petisi yang diajukan pekan lalu (Kamis, 22/5) itu menuntut dikenakannya tarif dumping masing-masing sebesar 134%, 203%, bahkan sampai 474% terhadap kayu lapis asal Vietnam, Indonesia dan China yang masuk melalui pelabuhan di Pantai Barat.
“Pada 22 Mei 2025, Koalisi Perdagangan Kayu Lapis Keras yang Adil (“Koalisi” atau “Pemohon”) mengajukan petisi untuk penerapan bea masuk antidumping dan bea kompensasi atas impor kayu keras dan kayu lapis dekoratif dari Republik Rakyat China (“China”), Indonesia, dan Republik Sosialis Vietnam (“Vietnam”),” demikian bunyi petisi yang dipimpin oleh Columbia Forest Products, Commonwealth Plywood, Manthei Wood Products, States Industries, dan Timber Products.
Menurut petisi tersebut, impor plywood dari ketiga negara tersebut memproleh manfaat dari puluhan program subsidi pemerintah, termasuk hibah, bahan baku bersubsidi, keringanan pajak, dan pinjaman dengan bunga rendah. “Praktik-praktik ini telah merugikan industri AS secara nyata, dengan menurunnya produksi, pengiriman, laba, dan lapangan kerja,” ujar mereka.
Amerika Serikat adalah salah satu importir kayu lapis hardwood terbesar di dunia. Menurut data terbaru dari Departemen Pertanian AS, impor naik 18% dibanding tahun sebelumnya menjadi 746.000 m3 dalam tiga bulan pertama tahun 2025. Dari total nilai perdagangan sebesar 490 juta dolar AS itu, sebagian besar berasal dari Vietnam (30% atau 223.000 m3) dan Indonesia (29% atau 217.000 m3), sementara China hanya menyumbang sekitar 2% (17.000 m3).
Tahun lalu, Wood Central melaporkan bahwa para pedagang asal China menggunakan Vietnam sebagai “pelabuhan yang ramah” untuk memasukkan ratusan ribu meter kubik kayu lapis asal China ke AS — di mana Departemen Perdagangan AS menyimpulkan bahwa Vietnam dipakai untuk menghindari hukum antidumping federal.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, China telah menjadi pusat produksi kayu lapis dunia, dengan menyumbang lebih dari 70% produksi global pada tahun 2020. Kini, kepentingan industri China mulai menyebar ke Malaysia dan Indonesia. Di China saja, ada sekitar 13.000 pabrik kayu lapis yang menopang industri besar ini. Rudolf van Rensburg, salah satu penulis laporan setebal 197 halaman berjudul “China — Forest, Log & Lumber Outlook”, mengungkap secara eksklusif kepada Wood Central bahwa permintaan kayu lapis di China melonjak dari 8 juta m3/tahun pada pertengahan 1990-an menjadi 80 juta m3 pada tahun 2013.
“China dengan cepat menjadi produsen kayu lapis jenis hardwood terbesar di dunia, memanfaatkan perkebunan eucalyptus terbesar di dunia,” ujar van Rensburg, yang telah menghabiskan 12 bulan terakhir menyusun laporan paling komprehensif mengenai industri kehutanan di China. AI



















