Siklus cuaca El Niño telah memperparah kebakaran musiman yang terkait dengan pembukaan lahan ilegal.
Asia Tenggara tengah menghadapi kabut asap terburuk dalam satu dasawarsa terakhir, sementara kebakaran hutan di Indonesia telah menimbulkan kekhawatiran kesehatan dan kemarahan di seluruh wilayah tersebut, di mana kekeringan dan banjir diperparah oleh siklus pemanasan yang sangat kuat di Samudra Pasifik.
Jutaan orang di seluruh Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Filipina menderita akibat kualitas udara yang buruk, bahkan berbahaya, akibat kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera serta telah menghanguskan lebih dari 200.000 hektare (ha), demikian data resmi terbaru yang tersedia.
Kebakaran tahun ini diperparah oleh El Niño yang kuat, yaitu pola cuaca siklikal yang memperparah kondisi kekeringan dan curah hujan lebat.
Kuching adalah kota besar Malaysia di wilayah Kalimantan dengan polusi udara terburuk di dunia pada hari Jumat (4/9/2026), menurut platform pemantauan kualitas udara IQAir, disusul oleh ibu kota Jakarta dan Singapura di posisi buruk berikutnya.
Kementerian Kesehatan Indonesia melaporkan sudah terjadi lebih dari 50.000 kasus infeksi pernapasan di tujuh provinsi antara Juli dan Agustus, di mana hampir seperempatnya terjadi pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Sekitar 1,4 juta siswa di Indonesia beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara, sementara pegawai negeri sipil di beberapa daerah juga bekerja dari rumah.
Pada hari Jumat, Filipina juga menangguhkan pembelajaran tatap muka di wilayah ibu kota dan beberapa provinsi lainnya, sementara Malaysia membatalkan semua perayaan hari kemerdekaan di luar ruangan pada tanggal 31 Agustus. Aksi protes juga direncanakan di luar kedutaan besar Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia minggu ini sebagai tanggapan terhadap kabut asap.
“Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun, tetapi tampaknya pemerintah tidak menganggapnya sebagai masalah penting.”
“Kebakaran hutan dan lahan berdampak serius pada aspek ekologis… kesehatan, pendidikan… serta ekonomi,” kata Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho. Dia menambahkan, kebakaran tersebut “terkait dengan kabut asap lintas batas… Oleh karena itu, kami terus melanjutkan upaya diplomatik dengan negara-negara tetangga.”
Puncaknya November atau Desember
Kebakaran merupakan bahaya musiman yang terjadi setiap tahun di Asia Tenggara, di mana para petani dan pemilik lahan membakar ladang untuk membersihkannya sebelum ditanami. Pada tahun 2015, kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera, yang dipicu oleh fenomena cuaca El Niño yang luar biasa kuat, menghancurkan 2,6 juta ha lahan dan memicu krisis polusi udara regional.
Badan cuaca PBB memperkirakan siklus cuaca El Niño tahun ini akan mencapai puncaknya pada bulan November atau Desember dan berlanjut hingga Februari 2027. Siklus terakhir pada tahun 2024 menyebabkan tahun terpanas yang pernah tercatat.
Mark Parrington, ilmuwan senior di Copernicus, sebuah layanan pengamatan bumi Uni Eropa, mencatat bahwa kebakaran tersebut “sudah berdampak signifikan terhadap kualitas udara di seluruh Asia Tenggara”.
“Kebakaran ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukanlah tantangan yang terlokalisasi — dampaknya dapat meluas hingga ratusan mil dari sumbernya,” tulisnya dalam sebuah catatan seperti dikutip The Financial Times.
Kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera juga dikaitkan dengan budidaya perkebunan kelapa sawit, meskipun ada larangan pembukaan lahan dengan cara membakar. Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, yang digunakan dalam minyak goreng, biofuel, dan produk konsumen.
Kementerian Kehutanan mengatakan telah memberikan sanksi kepada enam perusahaan terkait kebakaran di Kalimantan dan memerintahkan mereka untuk memulihkan area yang terbakar. Polisi telah menetapkan 112 orang sebagai tersangka, dengan setidaknya 40 orang telah ditangkap.
Kebakaran tersebut juga telah memengaruhi lahan gambut di Indonesia, yang termasuk yang terbesar di dunia. Ladang gambut kaya akan karbon, dan ketika mengering akibat drainase dan konversi lahan selama bertahun-tahun, menjadi sangat mudah terbakar, menurut kelompok konservasi Wetlands International.
Metode modifikasi cuaca seperti penyemaian awan untuk meningkatkan kelembapan juga terhambat oleh kurangnya tutupan awan yang memadai.
Edy, yang tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat mengatakan, kebakaran hutan telah memengaruhi seluruh keluarganya. “Kabut asap ada di mana-mana. Semua anggota keluarga saya sekarang batuk dan pilek,” katanya, menambahkan bahwa anak-anaknya mengikuti pembelajaran daring.
“Kebakaran hutan dan lahan terjadi setiap tahun, tetapi tampaknya pemerintah tidak menganggapnya sebagai masalah penting. Saya ingin mereka menanggapinya dengan serius dengan membeli beberapa peralatan canggih untuk memadamkan kebakaran, seperti yang dimiliki negara-negara lain.” AI








