Mungkinkah Indonesia Jadi Surga Produk Impor?

Buah impor [ilustrasi] foto: Thorsten Blank dari Pixabay

Amerika Serikat akhirnya menurunkan tarif impor untuk produk asal Indonesia menjadi 19 persen setelah sebelumnya mematok tarif impor sebesar 32 persen. Pemangkasan tarif itu diumumkan langsung Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (15/07/2025) setelah melakukan interaksi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto.
Pemangkasan tarif impor itu tentu jadi kabar gembira buat Indonesia. Dengan tarif baru itu, produk Indonesia bisa bersaing dengan produk dari negara lainnya di pasar Amerika Serikat nantinya.
Namun, seperti kata pepatah tidak ada makan siang gratis, Pemerintahan Trump juga menuntut imbalan dari pemerintah Indonesia atas aksi penurunan tarif itu. Setidaknya ada empat syarat yang harus dipenuhi Indonesia.
Pertama Indonesia tidak akan mengenakan tarif apapun terhadap produk impor dari AS. Artinya, semua produk asal AS bisa masuk ke Indonesia tanpa dikenakan tarif sepeserpun.
Kedua, Indonesia akan membeli produk energi dari AS senilai 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 244 triliun (kurs Rp 16.271/ dolar).
Ketiga, Indonesia akan membeli produk pertanian dari AS senilai 4,5 miliar dolar atau sekitar Rp 73 triliun
Keempat, Indonesia akan membeli 50 pesawat Boeing yang kebanyakan seri 777. Rencananya pembelian ini melalui maskapai Garuda Indonesia. Kata Trump, keempat syarat ini sudah disepakati bersama dengan pemimpin Indonesia.
Jika empat syarat itu dipenuhi, maka Indonesia akan jadi sasaran utama produk asal AS. Dengan memenuhi syarat pertama, kita akan banyak melihat produk-produk Amerika di etalase atau gerai-gerai di mal-mal di negeri ini. Harganya pun pasti lebih murah dari sebelumnya.
Walaupun begitu, kebanyakan kalangan menengah ke atas di negeri ini yang bisa menikmati keuntungan ini. Maklum, walaupun turun, harga produk asal Paman Sam itu masih sulit dijangkau masyarakat yang berpenghasilan sebesar UMR. Mereka masih begitu asing dengan merek tas Coach, Michael Kors atau Tory Burch.
Syarat kedua dan ketiga sepertinya tidak jadi masalah buat RI. Toh, selama ini kita masih menjadi importir untuk produk energi dan pertanian. Apel California, jeruk Sunkist, sudah jadi buah-buahan biasa yang bisa ditemukan di pasar-pasar becek. Harga jualnya juga akan lebih murah dan mungkin bisa mengalahkan apel Malang atau jeruk Medan.
Namun yang perlu diingat, keempat persyaratan itu akan membuat Indonesia kehilangan pendapatan dari pengenaan tarif impor. Tak ada lagi pemasukan dari tarif impor barang-barang asal AS.
Pemerintah harus mencari cara untuk mengatasi kehilangan ini. Bisa memperketat pengeluaran APBN dengan memangkas anggaran kementerian atau lembaga atau memperluas cakupan pengenaan pajak terhadap masyarakat.
Dan Indonesia juga harus siap-siap menghadapi tuntutan penurunan tarif impor dari mitra dagang lainnya, seperti Uni Eropa, China, Jepang, Korsel dan lainnnya. Jika produk-produk dari negara itu kalah bersaing dengan produk asal AS di pasar Indonesia, mereka tentu akan menuntut perlakuan yang adil seperti yang diberikan kepada AS.
Jika tidak, negara-negara tersebut bisa saja menerapkan cara seperti yang dilakukan pemerintahan Trump, terapkan berbagai hambatan impor produk dari Indonesia sambil menekan Jakarta untuk memperlonggar tarif produk dari negara itu. Bila ini terjadi, Indonesia bisa jadi surga bagi produk impor. Kondisi yang tidak menyenangkan bagi kita semua.Buyung Nareh W