Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berusaha meningkatkan produktivitas industri kakao dalam negeri dengan memperkuat sinergi dan kolaborasi antar stakeholder hulu-hilir industri kakao nasional.
“ Salah satu masalah di industri kakao adalah soal produktivitas,” ujar Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika, saat membuka Lokakarya Nasional “Strategi Transformasi Rantai Nilai Kakao untuk Memperkuat Daya Saing Kakao Indonesia di Pasar Domestik dan Global”di Jakarta, Rabu (15/01/2025).
Menurut Putu, untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri kakao nasional di kancah global, Kementerian Perindustrian telah menjalin kolaborasi dengan instansi lainnya, seperti Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Kementerian Kehutanan.
Putu mengatakan, keberadaan BPDP yang kini juga menangani komoditas kakao dan kelapa, akan mengoptimalkan peluang yang dimiliki oleh Indonesia dalam memajukan salah satu subsektor industri makanan dan minuman (mamin) itu, karena harga kakao dunia di pasaran saat ini tengah meningkat secara drastis.
Sedangkan dengan Kementerian Kehutanan, pihaknya tengah membahas penggunaan Hutan Produksi Lestari (HPL) untuk ditanami kakao.
Putu menjelaskan, kebijakan hilirisasi dan kemampuan manufaktur industri telah berhasil menarik investasi dengan tumbuhnya 20 produsen industri pengolahan kakao nasional pada tahun 2010 yang memproduksi cocoa butter, cocoa liquor, cocoa powder, dan cocoa cake. Namun pertumbuhan industri tidak sejalan dengan ketersediaan biji kakao yang terus menurun yang menjadikan posisi Indonesia dari produsen ke-4 dunia menjadi peringkat ke-7. Industri pengolahan kakao pun ikut terdampak dengan penurunan jumlah industri dari 20 industri menjadi 11 industri pengolahan kakao yang masih eksisting.
Kemampuan daya saing industri pengolahan kakao Indonesia menjadikan Indonesia sebagai eksportir produk kakao olahan terbesar ke-4 di dunia dengan pangsa pasar utama antara lain India, Amerika Serikat, Uni Eropa, Tiongkok, dan Malaysia. Pada tahun 2023, nilai ekspor produk kakao olahan Indonesia mencapai lebih dari 1,2 miliar dolar AS dan berkontribusi pada share market global sebesar 3,92 persen.
Selain itu, Pertumbuhan industri cokelat artisan bean to bar di dalam negeri juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2023 terdapat 15 industri cokelat artisan dan meningkat menjadi 47 industri pada tahun 2024. “Hal ini menunjukkan sinyal positif bahwa industri cokelat premium mempunyai potensi untuk berkembang di masa depan. Sejalan dengan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap produk cokelat berkualitas,” ujarnya.
Cokelat artisan bean to bar mengedepankan kualitas bahan baku dan hanya menggunakan biji kakao terfermentasi. Keistimewaan biji kakao Indonesia adalah memiliki keragaman cita rasa yang khas pada setiap daerah penghasil kakao, seperti Jembrana dengan karakter honey, Nusa Tenggara Timur dengan karakter nutty, dan Sulawesi dengan floral-nya yang khas. Saat ini terdapat 600 cita rasa cokelat Indonesia yang bisa dieksplorasi untuk promosi dan branding.
Tantangan Luar Biasa
Putu mengakui, Industri pengolahan kakao dan cokelat menghadapi tantangan yang luar biasa di tahun 2024. Gagal panen akibat perubahan iklim di Ghana dan Pantai Gading yang merupakan produsen utama kakao dunia mengakibatkan harga kakao di pasaran dunia meningkat secara drastis. Tercatat pada tahun 2023 harga biji kakao masih di angka 3.280 dolar AS per ton dan terus merangkak naik secara fluktuatif di sepanjang tahun 2024 dengan nilai rerata tertinggi pada akhir tahun yang mencapai 10.556 dolar AS per ton.
“Kenaikan harga bahan baku tentu memberikan pukulan telak bagi industri pengolahan kakao. Diperkirakan utilisasi tahun 2024 turun jika dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 61 persen,” paparnya.
Di sisi lain, kondisi ini menjadi peluang untuk membangkitkan sektor hulu perkakaoan Indonesia. Bersamaan dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian berhasil menginisiasi pembentukan BPDP yang akan mendukung pengembangan hulu-hilir kakao berkelanjutan.
Salah satu kegiatan yang telah diinisiasi adalah program pengembangan kompetensi SDM untuk memperkuat rantai pasok bahan baku industri berkelanjutan (Cocoa Doctor). Pada tahun 2024 Kementerian Perindustrian menghasilkan 37 Cocoa Doctor yang telah mendapatkan pelatihan di Mars Cocoa Academy selama 1 bulan. Para Cocoa Doctor juga telah melakukan pembinaan ke mitra petani Training of Trainers (ToT) lebih dari 3.700 orang petani.
Kementerian Perindustrian juga sedang menyusun program pencapaian swasembada kakao untuk mencapai kemandirian industri pengolahan kakao nasional.
“Kami menginisiasi diskusi antar pemangku kebijakan. Saat ini kami tengah menyusun konsep dan menyiapkan langkah-langkah strategis bersama industri dan Kementerian/Lembaga, salah satunya pemanfaatan lahan perhutanan sosial untuk produksi bahan baku biji kakao. Lahan-lahan potensial tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia,” ucap Putu.Buyung N


















