Perlu Edukasi Sejak Dini Atasi Banjir

banjir menerjang permukiman di AS. Foto: AP

Kekuranganpahaman hubungan timbal balik antara air dan lahan ditandai dengan pemanfaatan daerah banjir yang tanpa pengaturan dan antisipasi terhadap risiko banjir. Perubahan penutup lahan dari penutup alami menjadi lapisan kedap air. Tanpa upaya antisipasi telah mengakibatkan kekurangan infitrasi air hujan ke dalam tanah. Okupasi lahan di sempadan sungai akibatnya terjadi penurunan kapasitas palung sungai karena pendangkalan atau penyempitan oleh sedimentasi sampah dan gangguan aliran sungai.
“Alih fungsi lahan hijau menjadi daerah pemukiman, kawasan industri, maupun wisata alam menjadi persoalan yang cukup serius dalam mengatasi banjir,” ujar Kepala Bidang Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, Efi Gusfiana, ST, MM, dalam sebuah webinar.
Efi menyinggung konsep pengendalian banjir dari hulu hingga hilir. Di hulu seharusnya, penataan hutan dan lingkungan hingga pengelolaan sungai dilakukan, agar airnya mengalir secara alami misalnya dengan penghijauan dan konservasi, lalu di tengah melakukan peningkatan kapasitas tampung sungai dengan membangun tampungan-tampungan air sementara di hilir, ujar Efi yang dilakukan mencegah air laut tidak masuk ke darat, untuk itu diperlukan penataan drainase dan membangun tampungan air.
Masih dari sisi tengah tadi, Efi juga menjelaskan perlunya membangun tanggul agar banjir tidak meluap kemana-mana untuk itu dibangun drainase agar air bisa terserap lewat pembangunan Dam, Embung dan lainnya.
Untuk di hilir tambahnya, yang perlu dilakukan adalah mencegah agar air laut tidak masuk ke darat untuk itu dierlukan penataan drainase serta membangun tampungan air termasuk sistem pompanisasi.
Pengelolaan banjir di perkotaan Jakarta, dilakukan secara struktural dn non struktural. Struktural yakni menata perilaku air sedangkan yang non struktural menata perilaku manusianya. Partisipasi masyarakat terutama bagi komonitas peduli sungai atau sekolah sungai dengan melakukan edukasi sejak dini bagi kalangan siswa SD, SPM, SMA hingga perguruan tinggi.
Menyinggung soal kajian perizinan, Efi yang sesuai dengan peruntukan dan monitoring pelaksanaan dan pemanfaatan ruang pemanfaatan air sebenarnya sudah diatur berdasarkan Permen PURR No:28 tahun 2015 tentang penetapan garis sempadan sungai dan garis sempadan danau, BBWS Ciliwung-Cisadane telah melaksanakan beberapa kajian garis sempadan di WS Ciliwung dan Cisadane diantaranya Sungai Ciliwung, Setu Cilodong, Kota Depok, Jagung Situ Cileduk dan Situ Pamulang serta 43 situ.
Sumber daya air
Mengenai penyebab banjir di wilayah perkotaan dan pedesaan serta solusinya yang efektif dan berkelanjutan adalah thema yang diusung oleh Dr Luki Subehi M.Sc dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air, Badan Riset dan Inovai Nasional (BRIN).
Menurut Luki, faktor penyebab banjir didekati dengan rumuas artional yaitu:
Misalnya dengan melihat curah hujan (I), dan luas DAS (I) merupakan faktor yang sudah ditetapkan (Given) dalam banyak kasus, maka satu-satunya variabel yang dikendalikan dalam perencanaan dan pengelolaan banjir adalah penutupan lahan.
Dengan mengubah penutupan lahan (misalnya menambah ruang terbuka hijau, mengurangi tutupan kedap air seperti aspal) kita bisa mengurangi nilai penutup lahan dan akhirnya menurunkan debit banjir puncak. Kalau kita sebutkan penyebab banjir adalah hujan dengan intensitas yang tinggi menyebabkan kita sepertinya tidak melakukan apa-apa dan cenderung menyalahkan alam.
Faktor-faktor yang mempengaruhi banjir karena curah hujan yang intensitas durasi dan distribusi dan tutupan lahan dan sistem drainase (kapasitas saluran sendimentasi, ambles dan pasut).
Luki menjelaskan sacara umum kondisi DAS Kali Bekasi sangat memerlukan penanganan yang komprehensif. Hal ini dikarenakan banyak insfrastruktur di disepanjang DAS yang kurang sesuasi dan tidak memenuhi syarat.
Adanya kelompok/komonitas yang sangat peduli terdadap banjir sebenarnya sangat positif dan bisa membantu mempercepat propgram-program pemerintah. Dan situ-siu Jabotabek sangat banyak lebih dari 200 situ, ini menjadi salah satu modal existing yang bisa ditingkatkan untuk mengurangi banjir, misal situ Cikarer bisa mereduksi debit puncak 60-an persen. AI