Permintaan Impor Beras Indonesia Disetujui India

Foto: Antara

Pemerintah India menyetujui permintaan Indonesia untuk mengimpor beras. Selain Indonesia, India juga menyetujui ekspor beras patah (broken) yang diminta oleh Senegal dan Gambia. Hanya saja, berapa jumlah impor yang disetujui tidak disebutkan.

Hal itu diumumkan oleh Ditjen Perdagangan Luar Negreri India (DGFT), Selasa (20/6). DGFT mengatakan, hanya eksportir yang sudah punya pengalaman 3 tahun terakhir mengekspor semua jenis beras ke tiga negara itu saja yang akan diberikan ijin.

Pemerintah India sebelumnya telah melarang ekspor beras patah pada 8 September 2022. Namun, larangan itu diubah pada 24 Mei 2023, dengan mengijinkan pengapalan beras ke sejumlah negara “berdasarkan atas permintaan pemerintah mereka” untuk mengatasi kebutuhan ketahanan pangan negara tersebut.

Batas Minimal

Dalam pengumumannya DGFT mengatakan, para eksportir bisa mengajukan permohonan ekspor dari Kamis (22/6) sampai 30 Juni dengan batas minimal pengapalan 8.000 ton. “Permohonan akan diijinkan hanya jika eksportir memasukkan jumlah yang lebih dari batas minimal ekspor,” bunyi pengumuman itu, seperti dimuat Reuters.

Alokasi ekspor akan dibuat berdasarkan prorata rerata beras ekspor (semua varietas) untuk masing-masing negara yang bersangkutan dalam 3 tahun terakhir sebelum diberlakukannya larangan ekspor.

Ijin yang diberikan kepada eksportir berlaku sampai 31 Desember dan mereka harus mengirim “sertifikat pendaratan” dalam tempo sebulan setelah alokasi kuota ekspor beras patah itu dilakukan.

Pada awal Februari, pemerintah India, dengan pertimbangan khusus selama pemberlakuan larangan ekspor, mengijinkan ekspor beras patah 250.000 ton ke Senegal, 100.000 ton ke Gambia dan 9.900 ton ke Djibouti.

Kalangan analis perdagangan mengatakan, ekspor beras patah diijinkan atas permintaan tiga negara tersebut, yakni Indonesia, Senegal dan Gambia, dengan alasan strategis karena melibatkan Kementerian Luar Negeri.

India melarang ekspor beras patah dan menerapkan bea keluar 20% untuk beras putih dan brown rice setelah produksi padi kharif mengalami masalah akibat kurangnya curah hujan di sentra produksi padi di wilayah timur India tahun lalu.

Pada musim kharif, produksi beras diperkirakan menurun di posisi 108,07 juta ton pada 2022 dibandingkan 111 juta ton pada 2021. Namun, angka produksi dinaikkan menjadi 110 juta ton pada estimasi ketiga yang dilakukan Kementerian Pertanian.

Secara umum, produksi beras untuk musim tanam saat ini yang berakhir 30 Juni sudah dipatok mencapai rekor 135,54 juta ton. AI