SERASI: Petani Senang, Produksi Meningkat

Program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) menunjukkan hasil. Terbukti, dalam satu tahun petani mampu tiga kali panen dari lahan rawa.

“Syukur tahun ini kami bisa panen tiga kali (berkat adanya SERASI). Kami sangat berterima kasih dengan adanya program ini di wilayah kami,” ungkap dua orang petani Desa Kolam Kiri Dalam, Kecamatan Barambai, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan, Hamid dan Purwanto.

Purwanto selaku Ketua Gapoktan Kolam Kiri Dalam 1 sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kementan terhadap Program SERASI. Hal ini karena pada areal seluas 300 hektare (ha) telah dilakukan perbaikan infrastruktur tata kelola air pada jaringan tersier dan kuarter.

“Program ini benar-benar memberikan manfaat dalam peningkatan produksi di lahan yang kami garap,” kata Purwanto. Saat ini, sebagian petani telah melakukan pertanaman ketiga (IP 300) dengan penggunaan benih unggul varietas Inpara 2.

Sebelumnya, pertanaman hanya dilakukan satu kali (IP 100) dan/atau dua kali (IP 200) karena keterbatasan pasok air dari jaringan sekunder. Prakiraan produksi yang dihasilkan berkisar 4,5-5 ton/ha dari semula hanya 2,5-3 ton/ha.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Barito Kuala, Murniati menyatakan, program SERASI sangat membantu petani di wilayah Barito Kuala, di mana pada saat musim kemarau sangat kekurangan air dan pada musim hujan terjadi kebanjiran.

“Normalisasi saluran, adanya saluran konektivitas dan penyediaan gorong-gorong telah mengatasi kendala air, sehingga petani dapat melakukan budidaya padi melalui peningkatan IP dan produktivitas,” kata Muniarti.

Disampaikan pula, kendala kekurangan tenaga kerja pada pengelolaan lahan rawa telah teratasi dengan penyediaan Alsintan bantuan Kementerian Pertanian. Namun demikian, sebagai upaya antisipasi percepatan tanam dan pananganan panen di Wilayah Barito Kuala, mereka sangat membutuhkan penyediaan alat olah tanah dan rice milling unit (RMU).

Keberhasilan pelaksanaan Program SERASI tidak terlepas dari dukungan para penyuluh dan partisipasi TNI AD dalam melakukan pendampingan dan pengawalan, baik pada proses pelaksanaan konstruksi tata kelola air maupun introduksi teknologi budidaya.

Syahrian Noor, Danramil Kecamatan Barambai (Kodam 1005) mengatakan, adanya kekompakan antarkelompok tani serta kemudahan penerimaan petani terhadap program baru merupakan modal keberhasilan percepatan pelaksanaan kegiatan.

Demikian juga diungkapkan M. Gozali Rahman, penyuluh desa setempat. SERASI berdampak terhadap peningkatan Indek Pertananaman dan peningkatan produktivitas.

Optimalisasi pemanfaatan lahan SERASI, sebagaimana terlihat pada areal sawah di sekitarnya, di mana adanya pertanaman jagung atau jeruk serta komoditi hortikultura lainnya pada pematang sawah, merupakan pola integrasi pertanaman sebagai sumber penambahan penghasilan bagi petani dari ragam komoditi yang diusahakan.

SERASI merupakan program optimalisasi lahan rawa seluas 500.000 ha. Ini merupakan  program andalan Kementerian Pertanian (Kementan) tahun ini.

Saat ini terdapat tiga provinsi yang menjadi wilayah pengembangan, yakni Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.  Beberapa daerah seperti Lampung, Riau, Jambi dan Kalimantan Tengah, yang mempunyai lahan rawa, juga akan dikembangkan pada tahun mendatang.

Provinsi Kalimantan Selatan ditargetkan 120.000 ha meliputi delapan kabupaten, yakni Banjar, Tanah Laut, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Tabalong, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara. Saat ini tiga kabupaten telah sampai pada aktivitas konstruksi dan mulai penanaman, tepatnya di Banjar, Tanah Laut dan Barito Kuala.

“Program SERASI di Desa Pak Hamid mulai Mei 2019 ini telah menyelesaikan normalisasi saluran utama, optimalisasi saluran tersier, membangun pintu air, membangun gorong-gorong dan saluran konektor dengan total luas sawah yang dialiri mencapai 300 ha,” ujar Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Sarwo Edhy di Barito Kuala, Kamis (22/8/2019).

Dalam diskusi dengan para petani, Sarwo Edhy mengharapkan lahan sawah terus ditanam tiga kali dalam setahun. Terlebih dengan modernisasi pertanian seperti dengan menggunakan  traktor roda dua, traktor roda empat, cultivator, transplanter, pompa air, hand sprayer, powertrasher, combine harvester, dryer, RMU serta alat lainnya telah menyentuh langsung ke lapangan.

“Saya harap program ini terus berjalan dengan baik. Bantuan alat ini merupakan stimulus untuk meningkatkan produktivitas yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Sarwo memotivasi.

Dirinya mengatakan, dengan pengolahan tanah yang baik, tanam serentak dengan benih berlabel dan irigasi yang lancar mendukung produksi. Jika telah selesai panen serempak, petani diminta segera melakukan olah tanah dan tanam kembali.

“Untuk itu, peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT)  dan aparat pertanian lain perlu ditingkatkan. Pembinaan dan pendampingan harus terus dilakukan agar kegiatan tanam ini terus menghasilkan,” lanjutnya.

Sarwo juga mengingatkan agar semua aktivitas dijalankan paralel untuk mencapai penyelesaian tepat waktu. Manfaatkan dana yang telah dicairkan melalui penggunaan alat ekskavator maupun padat karya.

“Manfaatkan tenaga kerja petani untuk secara bersama-sama menyelesaikan pekerjaan. Saya juga menghimbau Dinas Pertanian, Gapoktan dan UPKK, mampu menyelesaikan administrasi dengan cepat, tepat dan sesuai aturan yang ada,” tekan Sarwo. PSP