Aksi ‘Panic Buying’ Terbangkan Harga Kopi Global

Aksi panic buying membuat harga kontrak berjangka kopi di New York terbang lebih dari 6% pada perdagangan di bursa ICE, Senin (11/2). Harga ditutup mencetak rekor sejarah di atas 4,30 dolar AS/pon. Pelaku pasar menyebut kenaikan harga akibat pembelian panik yang disebabkan terbatasnya ketersediaan kopi.

Harga berjangka kopi arabika mencetak rekor ke-13 kalinya secara beruntun dalam sesi perdagangan. Laporan terjadinya sistem cuaca kering dan panas yang terbentuk di atas perkebunan kopi Brasil ikut membantu meroketkan harga kopi ke level terbaru. Pada saat yang sama, petani di negara penghasil kopi terbesar di dunia ini juga enggan melepas kopinya.

“Panik akhirnya terjadi, harga pasti akan terus terbang,” ujar Bob Fish, pendiri waralaba kopi Biggby Coffee, yang punya jaringan 350 toko di beberapa negara bagian AS.

“Hanya ada dua hal yang bisa menghentikan kepanikan ini: satu, Brasil dan Vietnam punya panen yang bagus (yang diperkirakan tidak terjadi sampai Agustus 2026). Kedua, terjadinya kerusakan permintaan yang cukup kuat di negara-negara konsumen karena kenaikan harga,” katanya dalam catatan mengenai kenaikan harga kopi ini, seperti dikutip Reuters.

Bob menyarankan kafe-kafe di AS menaikkan harga jual kopi mereka. Jika tidak, maka mereka berisiko menghadapi margin keuntungan yang “menguap”.

Kontrak berjangka kopi di New York, yang dipandang sebagai patokan harga global, mencetak rekor 4,2410/pon, ditutup menguat 6,2% di posisi 4,211/pon. Sementara harga spot, yang berakhir pada Maret, mencetak rekor tinggi di posisi 4,3195/pon.

Harga kopi sendiri sudah naik 35% dihitung dari awal 2025 setelah tahun sebelumnya melonjak tinggi 70%.

Saat ini masih ada kekhawatiran di pasar mengenai rendahnya stok kopi di Brasil, yang merupakan produsen hampir separuh kopi arabika dunia.

Petani Brasil sendiri sudah menjual 85% hasil panen kopi mereka saat ini dan tidak ingin menjual buru-buru hasil panen yang masih tersisa.

“Kopi yang tersisa di neraca (produksi-konsumsi) kemungkinan berada di ‘sisi’ yang salah, karena berada di tangan Brasil sebagai produsen yang kuat,” ujar seorang pialang kopi, yang menyebut para petani kopi di Brasil memiliki keuangan yang baik.

Namun, para pedagang menyebut kenaikan harga kopi arabika sejauh ini lepas dan tidak sinkron dengan kondisi fundamental yang ada.

“Ada yang percaya bahwa panen kopi Brasil berikutnya bisa lebih baik dari perkiraan, meski tidak sebaik tahun lalu, tapi cukup membuat prospeknya sedikit lebih cerah,” ujar pedagang Icona Cafe.

Pialang Hedgepoint bahkan memperkirakan panen kopi Brasil lebih melimpah tahun ini dibandingkan tahun lalu, tulis Icona, dengan volume mencapai 64,1 juta karung pada 2025/2026 dibandingkan dengan estimasi 63,4 juta karung pada musim sebelumnya.

Sementara itu para spekulan arabika di bursa ICE — yang jadi kunci dari kenaikan harga saat ini — memangkas posisi net long mereka atau bertaruh terjadinya kenaikan harga lebih lanjut, sebanyak 3.130 kontrak menjadi 50.333 kontrak pada pada minggu yang berakhir 4 Februari, demikian data industri.

Sedangkan kopi robusta, jenis kopi yang lebih murah dibandingkan arabika dan sebgain besar digunakan untuk membuat kopi instan, juga naik 2,4% ke posisi 5.697 dolar AS/ton, setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada 31 Januari sebesar 5.840 dolar AS/ton.

Sementara untuk harga komoditi lain di bursa ICE New York, harga kakao rontok 2,3% ke posisi 9.878 dolar AS/ton, setelah mencetak rugi 7% pekan lalu. Sedangkan di bursa London, harga kakao juga t8urun 1,7% di posisi 7.919 poundsterling/ton.

Harga gula mentah (raw sugar) berjangka naik 0,7% ke posisi 19,50 sen dolar AS/pon, sedangkan harga gula putih naik 0,3% di posisi 519,40 dolar AS/ton. AI