Industri Permesinan Jerman Kecam dan Tuntut Penundaan EUDR Lebih Lama

Ribuan produsen peralatan mengirim peringatan keras kepada Brussel. Mereka berpendapat bahwa Peraturan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) berisiko besar mengacaukan rantai pasokan yang rumit dan melemahkan daya saing Eropa di pasar global.

Peringatan ini datang dari Asosiasi Industri Teknik Mesin Jerman (VDMA). Melalui permohonan resmi kepada Komisi Eropa dan Kementerian Pertanian Jerman, mereka mendesak adanya penundaan EUDR selama dua tahun agar Brussel bisa memperbaiki apa yang mereka sebut sebagai “birokrasi terburuk.”

Berdasarkan jadwal yang sudah dirancang, perusahaan-perusahaan besar harus mulai mematuhi EUDR pada 30 Desember 2025, sementara perusahaan kecil dan menengah menyusul mulai 30 Juni 2026. Namun, aturan ini mewajibkan penelusuran asal usul setiap produk yang mengandung kayu, karet, atau kulit — hingga ke lokasi lahan asalnya perolehannya. Bagi pabrikan yang tidak menghasilkan bahan baku tersebut, tetapi membutuhkannya sebagai komponen penting, beban administrasi tersebut dianggap terlalu berat.

“Tingkat beban administrasi yang sangat tinggi dari aturan EUDR ini, baik bagi perusahaan di Eropa maupun di negara ketiga, serta bagi pihak berwenang, adalah birokrasi terburuk yang pernah ada,” tulis Presiden VDMA, Bertram Kawlath, dalam surat bersama kepada Komisi dan Menteri Pertanian Federal Jerman, seperti dimuat Wood Central.

Dia memperingatkan bahwa tanpa adanya perubahan, EUDR “berisiko menyebabkan gangguan pengiriman dan akan mengikis daya saing internasional industri Eropa.”

Sebagai solusi, VDMA merekomendasikan beberapa hal untuk mempermudah kepatuhan. Mereka mengusulkan agar pemeriksaan asal-usul produk hanya dibatasi pada distributor tingkat pertama, memperkenalkan pengecualian (de minimis exemption) untuk pengiriman bervolume kecil dan produk dengan kandungan rendah, serta mengecualikan sampel uji, barang retur, dan buku panduan dari cakupan peraturan.

VDMA juga mendesak Brussel untuk menetapkan beberapa negara — terutama negara anggota Uni Eropa (UE) — sebagai “asal yang aman” (safe origins), yang akan menyederhanakan persyaratan bagi pemasok yang sudah terbukti berisiko rendah.

Usulan ini, tulis Wood Central, telah diajukan selama konsultasi Komisi pada Mei 2025 mengenai Lampiran I EUDR. Pengajuan ini terjadi di tengah terungkapnya kabar pekan lalu bahwa pakta perdagangan EU-Mercosur yang baru disahkan mungkin akan menyertakan “mekanisme penyeimbang” yang memungkinkan Brasil, Argentina, Paraguay, dan Uruguay untuk menentang peraturan ini jika menghambat ekspor mereka. Para kritikus khawatir klausul ini dapat lebih melemahkan dampak hukum tersebut.

Tekanan serupa juga datang dari Washington. Selama perundingan dagang EU-AS, para negosiator Amerika mendorong Brussel untuk membuat kategori “risiko kecil” atau risiko yang dapat diabaikan (negligible risk) bagi produk kayu dari AS. Para eksportir berpendapat, langkah ini akan menyederhanakan uji tuntas dan mencegah ancaman tarif terhadap ekspor kayu ke Eropa senilai 3 miliar dolar AS.

Saat ini, Brussel telah menunda pelaksanaan EUDR selama satu tahun — dari Januari menjadi Desember 2025. Namun, sebuah laporan studi yang ditugaskan Komisi Eropa awal tahun ini memperingatkan, jika penundaan EUDR dilakukan lebih lanjut, maka dapat mengakibatkan hilangnya tambahan 230.000 hektare hutan global akibat deforestasi. AI