Impian Setiap Petani Punya Robot Sendiri

Pilot bersiap menerbangkan drone untuk menyiram pupuk cair di lahan jambu kristal di pusat pengembangan pertanian Agribusinnes and Technology Park (ATP) IPB University, Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penggunaan teknologi pesawat drone untuk pemupukan tersebut membantu meningkatkan hasil produksi jambu kristal serta efisiensi tenaga dan waktu. Foto: Antara
https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Tenaga kerja pertanian yang makin berkurang dan minat anak muda ke sektor pertanian yang menyusut membuat modernisasi pertanian makin mendesak. China kini berupaya meningkatkan penggunaan drone pertanian di tengah perubahan iklim yang makin tidak menentu.

Sebuah perusahaan rintisan (start-up) drone pertanian yang didukung SoftBank punya impian setiap petani “memiliki robot mereka sendiri”. Itu sebabnya,  mereka mempromosikan alat penyemprot tanaman tanpa pilot (drone) sebagai solusi untuk tenaga kerja yang makin berkurang dan suhu yang meningkat.

XAG, produsen drone pertanian China terbesar kedua di dunia berdasarkan pendapatan setelah DJI, telah merilis serangkaian drone dengan stasiun pengisian daya yang secara otomatis membersihkan, mengisi daya, mengisi ulang, dan merencanakan rute penyemprotan kendaraan.

Justin Gong, vice-president senior XAG, mengatakan kepada Financial Times bahwa kekurangan tenaga kerja dan petani yang makin tua adalah masalah terbesar yang dihadapi pertanian di China. Persoalannya, banyak dari petani juga tidak dapat mengandalkan pilot atau operator drone yang sangat sibuk untuk menyemprot ladang mereka.

Munculnya cuaca yang lebih ekstrem akibat perubahan iklim juga telah mempertajam kebutuhan akan pertanian pintar otomatis, tambahnya.

“Setiap petani di masa depan akan memiliki robotnya sendiri,” tandasnya. “Ini akan menjadi revolusioner karena kami pikir pilot adalah penghambat terbesar industri drone saat ini.”

Pada akhir tahun lalu, China telah mengeluarkan 415.500 lisensi operator drone, meningkat 68% dari tahun sebelumnya, menurut angka resmi. Meskipun jumlah pilot terus bertambah, media pemerintah melaporkan bahwa tingginya permintaan telah menyebabkan beberapa sektor mengalami kekurangan tenaga kerja.

Menurut Gong, pilot yang terburu-buru termotivasi untuk melakukan penyemprotan secepat mungkin sebelum pindah ke lahan pertanian berikutnya. Banyak juga yang enggan melakukan perjalanan ke lokasi terpencil.

Baca juga:  Harapan Petani, Volume Pupuk Subsidi Bertambah
Foto: FT

Jumlah Petani Menurun

Otomatisasi di bidang pertanian juga didorong oleh makin cepatnya penyusutan tenaga kerja. “Ketika (perusahaan AI) berbicara tentang valuasi atau skala pasar, mereka berbicara tentang berapa banyak orang yang dapat Anda gantikan,” kata Gong. “Kami adalah sisi sebaliknya: berapa banyak orang Anda yang akan hilang dalam lima tahun ke depan — itulah ukuran pasar.”

PBB memperkirakan bahwa populasi usia kerja China, yang mencapai puncaknya pada 1 miliar jiwa di tahun 2010-an, dapat menyusut hampir dua-pertiga pada akhir abad ini. Migrasi besar-besaran dari pedesaan ke pabrik-pabrik di kota-kota yang berlangsung selama beberapa dasawarsa telah menempatkan pertanian di garis depan krisis demografis.

Gong memperkirakan sekitar 12 juta orang pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan setiap tahun, yang berarti China akan membutuhkan 3 juta drone dalam tiga tahun ke depan. Untuk mencakup seluruh lahan pertanian, kaanya, negara itu akan membutuhkan sebanyak 12 juta drone.

Sun Xi, Sekretaris Jenderal KTT Global tentang Pertanian Berkelanjutan — sebuah kelompok industri — mengatakan penggunaan drone pertanian di China sudah “sangat matang” dan mendapat dukungan pemerintah. Hanya saja, pertanian kecil dengan modal dan pengetahuan teknis terbatas akan kesulitan untuk mengadopsinya.

“Pada akhirnya, Anda harus mempertimbangkan biaya,” katanya, seraya menambahkan bahwa petani hanya akan mengadopsi teknologi jika lebih murah daripada metode tradisional.

XAG sendiri menjual drone, kendaraan, dan sensor pertaniannya kepada pelanggan di hampir 70 negara, termasuk AS, Brasil, dan sejumlah negara di Afrika dan Asia Tenggara.

Kay Wackwitz, kepala eksekutif kelompok riset Drone Industry Insights mengatakan, meskipun DJI telah meningkatkan pangsa pasarnya di pasar drone pertanian dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir, sistem XAG yang mudah digunakan memberi mereka keunggulan di kalangan petani yang kurang paham teknologi.

Baca juga:  Rencana Impor Beras dari India Aman

“Menurunkan hambatan masuk (entry barrier) sangat, sangat penting di sektor ini,” katanya. “Saya pikir, itulah yang dipahami XAG dengan sangat baik.”

Perusahaan yang didirikan tahun 2007 sebagai merek drone di kalangan konsumen penggemar (hoibiis) ini sedang bersiap untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) di Hongkong. Menurut perkiraan Caplight, nilai perusahaan diperkirakan sekitar 1,5 miliar dolar AS dalam putaran pendanaan tahun 2023. SoftBank memegang 12,9% saham.

Gong mengatakan bahwa pertanian di luar China mungkin membutuhkan 5 hingga 10 juta drone dalam 10 tahun mendatang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang mendesak.

AS, yang melakukan pembatasan penjualan model drone baru buatan China, telah merosot menjadi pasar luar negeri terbesar kedua perusahaan tersebut, setelah Brasil, dan kemungkinan akan menjadi “lebih sulit” ke depannya, kata Gong. Namun, dia menambahkan, XAG baru-baru ini menerima persetujuan peraturan untuk menjual model terbarunya di negara tersebut.

Secara keseluruhan, ancaman perubahan iklim telah melunakkan sikap bahkan para petani yang paling tradisional sekalipun terhadap teknologi baru seperti drone, katanya.

“Teknologi, ditambah cuaca, ditambah kekurangan tenaga kerja, semuanya menjadi sangat kompleks… bagi para petani dan mereka menghadapi banyak tekanan.” AI