Indonesia memiliki potensi sumber daya sagu terbesar di dunia, dengan sebaran lahan sagu terluas. Besarnya potensi ini merupakan modal strategis bagi Indonesia untuk mengembangkan industri pengolahan sagu yang berdaya saing serta memperkuat peran sumber daya lokal dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Sagu merupakan salah satu komoditas strategis yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri nasional,” kata Menteri Perindustrian M Sarmuji, ketika membuka Sago Business Forum di Jakarta, Kamis (05/11/2026).
Menurut Menperin, potensi pengembangan industri sagu Indonesia juga didukung oleh peluang pasar internasional yang menjanjikan. Jepang merupakan salah satu pasar tujuan ekspor pati sagu Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada tahun 2025, nilai impor pati sagu Jepang mencapai 10,5 juta dollar AS, meningkat sebesar 35 persen dibandingkan tahun 2021. Meskipun sebagian besar impor pati sagu Jepang masih berasal dari Malaysia, posisi Indonesia di pasar Jepang terus menguat. Hal ini tercermin dari peningkatan pangsa pasar pati sagu Indonesia di Jepang, dari 2 persen pada tahun 2021 menjadi 14 persen pada tahun 2025.
“Peningkatan pangsa pasar tersebut menunjukkan semakin besarnya peluang bagi produk pati sagu Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar Jepang melalui penguatan hilirisasi, investasi, serta perluasan akses pasar ekspor,” ujar Sarmuji.
Dalam pengembangan industri sagu, Sarmuji menjelaskan, strateginya bukan sekadar menjual komoditas, tetapi memperdalam hilirisasi, memperkuat riset dan inovasi, membangun merek, serta menguasai pasar produk turunan.
Dengan demikian, keunggulan sumber daya alam Indonesia dapat diubah menjadi keunggulan komparatif (comparative advantage) yang bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif (competitive advantage).
Sagu merupakan salah satu tanaman asli Indonesia penghasil pati yang memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif untuk mendukung ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Salah satu keunggulan sagu adalah potensi pemanfaatannya secara menyeluruh.
Empulur sagu juga dapat diolah menjadi pati sebagai bahan baku berbagai produk pangan, seperti mi, beras analog, pasta, dan biskuit, maupun produkproduk nonpangan, seperti biopackaging dan bioetanol. Sementara limbah padat dan cair dari proses pengolahannya dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi pakan ternak dan biogas.
Dengan demikian, pengembangan industri sagu memiliki peluang untuk menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya dan peningkatan nilai tambah pada setiap tahapan pengolahan.
“Dari aspek lingkungan, sagu memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrim,” jelas Menperin.
Selain itu, tanaman sagu memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO₂) dan berpotensi mendukung upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.
Pemerintah Indonesia telah menetapkan sagu sebagai salah satu komoditas prioritas untuk hilirisasi sumber daya alam dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 4 (RPJMN) Tahun 2025-2029.
Kebijakan ini menjadi landasan untuk mendorong penguatan industri pengolahan sagu, peningkatan nilai tambah, serta pengembangan produk hilir yang mampu bersaing di pasar domestik maupun internasional.
Menperin M Sarmuji mengharapkan kegiatan Sago Business Forum dapat menjadi jembatan untuk memperkuat kerja sama industri antara Indonesia dan Jepang melalui promosi potensi dan kemampuan industri pengolahan sagu nasional, pengenalan peluang investasi di berbagai daerah penghasil sagu, serta fasilitasi dialog bisnis antara kedua negara dalam rangka menjajaki perluasan pasar, investasi, atau pengembangan teknologi.
“Saya mengundang para pelaku industri dan investor Jepang untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dan menjadi bagian dari pengembangan industri sagu Indonesia yang semakin maju, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkasnya.Buyung N








