Indeks Harga Beras FAO Melonjak

Indeks Seluruh Harga Beras Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) naik hampir 10% pada Agustus dan mencapai nominal tertinggi dalam 15 tahun. Kondisi ini mencerminkan terjadinya gangguan perdagangan pasca larangan ekspor beras yang diberlakukan India, sang eksportir terbesar dunia.

“Ketidakpastian soal berapa lama larangan ekspor diberlakukan serta kekhawatiran pembatasan ekspor telah menyebabkan para pelaku di rantai pasok menahan stok, merunding ulang kontrak atau menghentikan penawaran harga, sehingga membatasi sebagian besar perdagangan menjadi dalam volume kecil saja dan penjualan yang sudah diselesaikan sebelumnya saja,” kata FAO.

Meski indeks harga beras bulanan melonjak, namun secara keseluruhan harga komoditi pangan internasional menurun pada Agustus, yang dipimpin oleh gandum dan biji-bijian kasar. Itu sebabnya, Indeks Harga Pangan FAO menurun 2,1% pada Agustus dibandingkan Juli. Indeks yang melacak perubahan harga internasional bulanan terhadap seluruh komoditi pangan yang diperdagangkan secara global ini, pada Agustus berada di posisi 121,4 atau 24% di bawah angka puncak pada Maret 2022.

Indeks Harga Sereal FAO dari bulan ke bulan juga turun 0,7%. Harga gandum internasional turun 3,8% pada Agustus di tengah melimpahnya stok di negara-negara eksportir, sementara harga biji-bijian kasar turun 3,4% di tengah melimpahnya pasok jagung global di saat Brasil mengalami rekor panen dan berlangsungnya panen raya di Amertika Serikat.

Sedangkan Indeks Harga Minyak Nabati FAO pada Agustus juga turun 3,1%, yang mengubah arah kenaikan tajam 12,1% yang terjadi pada Juli. Harga minyak bunga matahari dunia menurun hamper 8% selama Agustus di tengah melemahnya permintaan impor global dan banyaknya penawaran dari eksportir utama dunia.

Sedangkan untuk minyak kedele juga menurun berkat membaiknya kondisi tanaman kedele di AS, sedangkan harga minyak sawit juga menurun di tengah naiknya produksi di Indonesia dan Malaysia — dua produsen utama dunia.

Alarm Inflasi

Kenaikan indeks harga beras dunia yang dipicu India telah menimbulkan masalah di Asia dan Afrika Barat. Di Filipina, inflasi harga meningkat dalam kecepatan tinggi dalam kurun lima tahun terakhir pada Agustus. Kondisi ini mengingatkan kembali pada kejadian guncangan harga pangan 2018 yang memicu diakhirinya pembatasan impor selama 20 tahun. Bank sentral Filipina telah mengingatkan pecan ini bahwa mereka siap menghidupkan lagi kebijakan pengetatan moneter jika dibutuhkan. Pada saat yang sama diplomasi dan kesepakatan juga terjadi di sejumlah negara untuk mengamankan pasok beras.

“Kami melihat ketidakpastian yang sangat besar,” ujar Shirley Mustafa, ekonom FAO. “Tekanan harga yang terjadi makin diperburuk oleh pembatasan (perdagangan),” katanya seperti dikutip Bloomberg.

Sumber: Deptan AS (USDA)

Pembatasan yang dilakukan India telah mengganggu pasar dan mendorong negara-negara yang khawatir untuk bergegas mengamankan pasok saat mereka mencoba meredam kenaikan harga beras — bahan pangan pokok miliaran penduduk di Asia dan Afrika. Pemerintah Manila telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET), langkah yang telah membuat turunnya seorang pejabat keuangan.

Wakil Menteri Keuangan Cielo Magno menyatakan akan mengundurkan diri setelah sebuah postingan di Facebook nampaknya mempertanyakan kebijakan pembatasan harga. Pembatasan itu diterapkan bulan ini setelah terjadi kenaikan harga eceran yang “mengkhawatirkan”.

Keamanan pasok merupakan prioritas tertinggi bagi semua konsumen. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh telah bertemu di sela-sela KTT ASEAN di Jakarta dan keduanya merencanakan kesepakatan pembelian dalam 5 tahun.

Sementara Senegal membuat tawaran diplomatik ke India, langkah sama yang sudah dilakukan negara lainnya, seperti Guinea dan Singapura, untuk menjamin pasok beras.

Sedangkan Indonesia telah setuju menandatangani kesepakatan pembelian beras dengan Kamboja untuk pertama kalinya dalam 10 tahun. Dalam nota kesepahaman (MoU) itu disetujui pembelian beras 250.000 ton/tahun, dua kali lipat lebih dari kesepakatan yang sama pada 2012. Pemerintah sendiri berjanji memberikan bantuan pangan 10 kg beras untuk 10 juta keluarga penerima manfaat pada triwulan keempat 2023.

Negara lain juga bergegas meredam kenaikan harga. Malaysia telah menerapkan pembatasan pembelian dan mulai memeriksa pedagang grosir dan penggilingan komersial setelah ada dugaan beras lokal dijual sebagai beras impor dengan harga yang lebih mahal.

Myanmar juga menerapkan kewajiban p-encatatan volume beras yang disimpan guna mengontrol harga beras dalam negeri dan menghindari aksi-aksi spekulasi. AI