Analisis pasar memperediksi harga minyak sawit diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun depan akibat cuaca kering berdampak pada produksi di daerah penghasil utama Asia Tenggara serta meningkatnya permintaan biodiesel.
Harga minyak sawit, yang terutama digunakan untuk pengolahan makanan, dipengaruhi oleh cuaca serta harga bahan pengganti seperti minyak bunga matahari dan minyak kedele. Malaysia dan Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia, yang menyumbang lebih dari 80% dari produksi global.
Harga acuan berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia diperdagangkan sekitar 4.800 ringgit/ton (1.176 dolar AS) minggu ini. Harga ini sudah merangkak naik dari kisaran 4.000 ringgit pada awal tahun, seiring dengan meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pada akhir Agustus, harga mencapai puncaknya di atas 5.000 ringgit.
Direktur Eksekutif ISTA Mielke, Thomas Mielke mengatakan pada Malaysian Palm Oil Forum di Kuala Lumpur pada 7 Oktober, bahwa harga minyak sawit bisa mencapai 5.000 ringgit pada kuartal pertama tahun 2027. Alasannya, kata pentolan perusahaan riset ini, pasokan minyak sawit semakin ketat dan ketidakpastian seputar ekspor minyak bunga matahari dari wilayah Laut Hitam — di mana konflik Rusia-Ukraina terus memengaruhi produksi dan pengiriman.
“Kita bisa dengan mudah mendapatkan harga 5.000 ringgit … lagi untuk minyak sawit Malaysia,” katanya. “Pertanyaannya adalah kapan? Saya berasumsi kita akan melihat ini kembali lagi paling cepat Januari.”
Direktur Glenauk Economics, Julian McGill mengatakan, kekeringan yang disebabkan oleh El Nino mempengaruhi harga minyak sawit. Pola cuaca yang sedang berlangsung di Indonesia “sangat kering,” menyebabkan curah hujan rendah selama beberapa bulan di daerah rawan kekeringan seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, katanya.
“Indonesia adalah pusat permasalahan sebenarnya,” tegas McGill. Dia mengatakan, dampak kekeringan di Indonesia terhadap harga bisa menjadi lebih jelas pada kuartal kedua tahun depan seiring pasar mulai mengantisipasi potensi kerugian produksi.
Dari sisi permintaan, kebijakan pemerintah terkait biodiesel juga terus menopang pasar, kata para analis di forum tersebut, karena harga solar yang tinggi telah membuat biodiesel lebih menarik secara ekonomi.
Menurut Hong Leong Investment Bank Malaysia, dampak El Nino terhadap produksi minyak sawit diperkirakan akan semakin terasa pada tahun 2027. “Mengingat dampak tertunda dari tekanan cuaca terhadap hasil panen kelapa sawit, kami memperkirakan dampak produksi yang lebih signifikan akan terwujud pada tahun 2027,” kata lembaga riset tersebut dalam sebuah laporan tertanggal 9 Oktober.
Namun, prospeknya mungkin bergantung pada harga minyak nabati lainnya.
“Berita tentang El Nino dan kemungkinan penurunan hasil panen tahun depan juga mendorong pembeli global untuk menimbun persediaan minyak sawit. Namun, di luar titik harga tertentu, selisih harga antara minyak sawit dan minyak lainnya seperti kedele dan bunga matahari akan berlaku, dan pembeli akan beralih berdasarkan harga yang berlaku,” kata Nikhil Vallabhan, direktur bidang kimia, material, dan nutrisi di perusahaan riset spesialis Frost and Sullivan, kepada Nikkei Asia.
“Paruh pertama tahun 2027 berpotensi menyaksikan kenaikan harga minyak goreng bagi konsumen di seluruh dunia, bersamaan dengan kenaikan harga biofuel. Kenaikan ini dapat menambah tekanan inflasi di beberapa negara,” katanya. AI








