Harga Saham Energi Bersih Berguguran

Harga saham energi hijau di bursa dunia melorot kembali ke tingkat harga lima tahun silam, sebelum hiruk-pikuk isu lingkungan, sosial dan tata kelola (ESG) melesatkan harga mereka dan mencetak rekor. Ketidakpastian dukungan politik terhadap transisi energi yang bersih dan menjauhi energi fosil membuat pasar tertekan.

Indeks Energi Bersih Global S&P, yang jadi barometer penting untuk melacak kinerja perusahaan-perusahaan besar energi bersih, sudah rontok 16% sejak 12 bulan terakhir.

Beberapa investor percaya bahwa saham akan mulai pulih pada akhir tahun lalu karena suku bunga mulai stabil atau turun dan harga listrik naik.

Namun, keputusan Presiden AS Donald Trump membekukan dana UU Pengurangan Inflasi (IRA) untuk membiayai proyek-proyek hijau serta menarik mundur Amerika dari perjanjian iklim Paris  ikut berkontribusi terhadap sentimen negatif pasar. Dukungan terhadap langkah-langkah pemangkasan bahan bakar fosil juga mendapat tekanan di sejumlah pasar di Eropa.

Deirdre Cooper, kepala ekuitas lestari di manajer investasi global Ninety One mengungkapkan pesimisme yang menggayuti sektor dekarbonisasi sangat “luar biasa” dan tidak sesuai dengan kinerja perusahaan yang mendasarinya.

“Perusahaan yang kami pegang di sektor dekarbonisasi telah mengalami pertumbuhan yang kuat dan memberi pengembalian yang stabil. Namun, mereka  ternyata kurang memenuhi ekspektasi dalam hal harga saham,” katanya.

“Saya belum pernah melihat kondisi lesu (bearish) yang begitu besar dalam hal penilaian untuk perusahaan dengan pertumbuhan struktural . . . Pasar mengasumsikan tidak ada pertumbuhan untuk dekarbonisasi (yaitu sektor ini).”

“Secara umum, kinerja yang kurang memuaskan sebagian disebabkan oleh tantangan yang berlanjut seperti lingkungan suku bunga dan inflasi, yang berarti biaya proyek yang lebih tinggi dan kebijakan yang tidak pasti mempengaruhi sektor energi bersih,” tambah analis-analis di S&P Dow Jones Indeks.

Penurunan ini lebih berat ketimbang penurunan 5% yang dialami minyak dan gas pada indeks S&P Global BMI Energy (Sektor), di mana beberapa harga saham migas malah meraup cuan berkat mantera yang diucapkan Trump: “bor, bor, bor.”

Kondisi ini juga kontras dengan kenaikan 14% yang dialami Indeks Industri Pilihan Pertahanan dan Luar Angkasa S&P, karena prospek para produsen senjata naik dengan kemungkinan naiknya anggaran pengeluaran pertahanan di UE.

Setelah mencapai puncaknya pada awal 2021, Indeks Energi Bersih Global S&P mulai turun secara bertahap karena kenaikan suku bunga, dengan proyek energi bersih yang sangat rentan terhadap biaya pinjaman yang lebih tinggi karena biaya awal yang tinggi.

Analis-analis S&P Dow Jones Indeks mencatat bahwa kinerja keseluruhan indeks menyembunyikan variasi yang signifikan dalam kinerja perusahaan.

Misalnya saham pembuat turbin angin Denmark, Vestas. Saham mereka anjlok lebih dari 44% selama 12 bulan terakhir, sementara pengembang energi terbarukan dan jaringan Spanyol, Iberdrola, naik hampir 30% selama periode yang sama.

James Smith, manajer dana di Premier Miton mengatakan, dalam beberapa kasus investor terlalu fokus pada tekanan dari suku bunga, mengingat banyak pengembang energi bersih memiliki pendapatan yang terkait indeks.

Gambaran yang ada, catatnya, tidak semua “hancur dan gelap”. Dia menyoroti contoh adanya dukungan dari beberapa anggota kongres kubu Republik terhadap kredit pajak untuk energi hijau.

Penilaian lemah dari emiten-emiten yang melantai di bursa terjadi, meskipun terdapat investasi yang kuat secara keseluruhan dalam teknologi energi bersih.

S&P Global Commodity Insights memprediksi bahwa pengeluaran untuk teknologi energi bersih akan melebihi pengeluaran untuk minyak dan gas hulu pada 2025 untuk pertama kalinya, didorong oleh tenaga surya dan penyimpanan baterai.

Erwan Kerouredan, analis di RBC Capital Markets menambahkan, perusahaan hidrogen yang melakukan ekspose pasar di luar UE dan AS, seperti Timur Tengah, berada di posisi yang lebih baik.

“Lingkungan pendanaan memang sangat berbeda,” katanya seperti dikutip The Financial Times. “Ada perbedaan dalam hal kekuatan keuangan.” AI