Kementan Antisipasi Ancaman Puso

* Musim Hujan Datang Lebih Cepat

Foto: ANTARA

Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan, musim hujan (MH) akan tiba lebih awal pada akhir tahun ini berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Untuk itu, Kementan akan melakukan sejumlah langkah antisipasi untuk menekan dampak musim hujan terhadap produksi pangan.

Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi mengatakan, laporan BMKG mencatat bahwa musim hujan sudah masuk pada pertengahan September 2021 di wilayah Sumatera.  Lalu pada Oktober 2021, sebagian wilayah Jawa dan Kalimantan.

“Puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Januari 2022. Curah hujan yang tinggi bisa berdampak banjir dan bencana alam lainnya,” kata Harvick dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, belum lama ini.

Pihaknya pun telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga produksi dan memastikan ketersediaan pangan mencukupi, salah satunya menyiapkan pemetaan wilayah produksi pangan pokok yang rawan banjir.

Selain itu, menyiapkan early warning system (EWS) untuk pemantauan rutinan, termasuk dengan terus memantau laporan BMKG serta penyediaan bantuan benih gratis bagi petani maksimal 20 hari setelah banjir.

Brigade La Nina juga disiapkan untuk membantu petani menghadapi tantangan cuaca. Penyiapan pompanisasi in-out dari sawah dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier atau kuarter juga dilakukan.

“Kami juga melakukan sosialisasi penggunaan benih padi tahan genangan seperti Inpara 1 sampai 20, Inpari 29 dan 30, Ciherang Sub 1, Inpari 42 Agritan, serta varietas unggul lokal lainnya,” jelas Harvick.

Yang tak kalah penting, Kementan menyiapkan pula bantuan permodalan, yakni asuransi usaha tani padi (AUTP) khusus untuk petani padi. Bantuan permodalan itu akan terus disosialisasikan, termasuk juga sosialisasi bantuan benih bagi yang puso.

“Kita sosialisasikan ini sambil terus memantau ketersediaan pangan pokok strategis di setiap daerah,” imbuh dia.

Menurut Harvick, pasokan komoditas pangan saat ini cukup aman. Kementan mencatat, hingga akhir pekan kedua September 2021, stok beras ada sebanyak 7,62 juta ton, jagung 2,3 juta ton, cabai keriting terdapat 16.000 ton, cabai rawit 17.000 ton, dan bawang merah 35.000 ton.

Kendati demikian, Wamentan mengakui, terdapat beberapa provinsi yang mengalami defisit pasokan pangan. Kementan pun mengantisipasinya dengan memberikan stimulus bantuan biaya pengiriman pasokan pangan dari wilayah surplus ke wilayah defisit.

“Untuk menjamin ketersediaan pangan merata di seluruh provinsi di Indonesia, Kementan menyiapkan stimulus bantuan transportasi pengiriman produk pertanian dari wilayah surplus ke wilayah yang defisit. Juga mengaktifkan Toko Tani Indonesia untuk membantu pemasaran seluruh produk pertanian oleh petani,” katanya.

Antisipasi Sudah Dilakukan

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Kementan Ali Jamil mengatakan, lahan sawah padi yang terkena banjir dari bulan Januari-Agustus 2021 tercatat seluas 225.988 hektare (ha). Dari jumlah itu, yang dinyatakan puso seluas 43.732 ha.

Dia mengatakan, daerah yang paling luas terkena banjir adalah Pulau Jawa, yang mencapai 114.431 ha dan puso 22.888 ha. Kemudian Pulau Kalimantan seluas 58.585 ha dan puso 12.583 ha.

Untuk Pulau Sumatera, banjir pada periode Januari-Agustus 2021 tercatat seluas 25.892 ha dan puso 4.239 ha. Sulawesi seluas 14.733 ha dan puso 3.151 ha. Sedangkan Bali dan Nusa Tenggara tercatat 12.348 ha dan puso 872 ha.

“Jika kita bandingkan dengan banjir tahun 2020 seluas 187.145 ha, maka tanaman padi yang terkena banjir tahun ini lebih luas atau naik sekitar 20%,” kata Ali Jamil kepada Agro Indonesia, Sabtu (2/10/2021).

Ali Jamil mengatakan, berdasarkan perkiraan BMKG, curah hujan untuk Agustus 2021-Januari 2022 berada pada zona aman, yaitu di bawah 50 mm/bulan.

Pada Agustus-Oktober 2021 curah hujan <50 mm/bulan berpeluang terjadi di sebagian Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT. Pada November 2021-Januari 2022 curah hujan <50 mm/bulan tidak berpeluang terjadi di seluruh wilayah Indonesia.

“Perkiraan puncak musim hujan 2021/2022 sebagian besar akan terjadi bulan November 2021 hingga Maret 2022,” tegasnya.

Dia menyebutkan, pihak Kementan telah melakukan antisipasi untuk menghadapi banjir dan kekeringan tahun ini. “Untuk daerah yang puncak genangan terjadi pada Desember 2021 dan Januari 2021, maka akan dilakukan percepatan tanam,” tegasnya.

Dalam melakukan percepatan tanam, brigade tanam segera dikerahkan, begitu juga dengan prasarana pendukung seperti traktor, pupuk, benih dan lainnya. “Petani kita anjurkan menggunakan varietas tahan genangan,” katanya.

Untuk daerah rawan banjir, pompa-pompa air harus disiapkan, normalisasi saluran, pengaturan air melalui embung, damparit, longstorage dan lainnya.

“Petani tentunya kita anjurkan untuk memanfaatkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Karena dengan asuransi ini petani dapat menghindari kerugian,” tegasnya.

Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen PSP Kementan Rahmanto menambahkan, untuk menghadapi banjir dan kekeringan, Kementan sudah melakukan antisipasi jauh hari sebelumnya. “Bantuan pompa air, embung-embung, irigasi perpompaam/perpipaan atau rehabilitasi jaringan irigasi tersier, memang dipersiapkan untuk menghadapi dampak iklim baik banjir maupun kekeringan,” tegasnya.

Sarana dan prasarana tersebut, kata Rahmanto, sudah ada di lapangan. Tinggal pihak terkait untuk menggerakan petani atau mengingatkan petani agar tetap waspada.

Dia menyebutkan, pihak terkait terutama dinas-dinas harus terus melakukan monitoring lapangan dan memberikan informasi kepada petani musim hujan misalnya.

Dengan demikian, lanjut Rahmanto, petani akan mengambil langkah, sepeti melakukan penanaman lebih cepat dan lain sebagainya. “Petani kita kalau sudah mendapatkan informasi tentang musim, bisanya langsung melakukan gerakan,” tegasnya. PSP

Pemda Simalungun Bangun Irigasi Pertanian

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendukung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun, Sumatera Utara (Sumut) yang saat ini tengah fokus pada pengembangan sektor pertanian. Salah satu pembangunan yang terus digenjot adalah irigasi pertanian.

Seperti diketahui, pembangunan irigasi pertanian akan membantu menyuburkan tanah sektor pertanian di Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Dengan begitu, petani tidak akan kekurangan pasokan air.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan, irigasi merupakan program strategis dalam konteks pengairan lahan.

Menurut dia, irigasi pengairan pertanian harus berjalan baik karena pertanian tak boleh terganggu oleh faktor apa pun. “Keberadaan irigasi pertanian membuat petani tak khawatir meski memasuki musim kemarau. Sebab, irigasi akan memasok air, sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga,” ujarnya.

Selain penting bagi keberlanjutan sektor pertanian, Ali menilai keberadaan air mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) petani.

Tak hanya itu, keberadaan irigasi juga menjadi faktor penting bagi petani meningkatkan produktivitasnya. “Ada tiga aspek dari keberadaan irigasi pertanian ini, yaitu produktivitas, peningkatan IP pertanian, dan meningkatnya kesejahteraan petani,” ujarnya.

Ali menyebutkan, hal tersebut lantaran irigasi memberikan pasokan air stabil terhadap lahan sawah, sehingga perkembangan budidaya padi petani berjalan dengan baik.

“Irigasi adalah water management. Irigasi berfungsi mengatur air, baik air hujan maupun air tanah. Irigasi tidak hanya dimanfaatkan untuk mengairi lahan di sawah, tetapi juga bisa untuk mendukung aktivitas lainnya,” ujar Ali.

Lebih lanjut, dia berharap irigasi bisa dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan pendapatan petani.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo sebelumnya menerangkan, air merupakan faktor penting dalam pengembangan budidaya pertanian. Tanpa air, pertanian tak dapat berkembang dengan maksimal.

“Dalam memenuhi kebutuhan air untuk tanaman yang diperoleh dari air hujan, sistem irigasi atau dengan sumber air permukaan menjadi solusi,” katanya.

Sementara itu, Direktur Irigasi Pertanian PSP Kementan Rahmanto menambahkan, irigasi pertanian diharapkan dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tak hanya untuk sektor tanaman pangan, tapi juga untuk sektor hortikultura, perkebunan, dan peternakan. “Air adalah faktor teknis bagi terungkitnya produktivitas pertanian. Pada akhirnya, kesejahteraan petani juga meningkat,” katanya. PSP