Konsep Industri Hijau Memacu Perkembangan Ekonomi Lokal

industri Mamin masih menggeliat di tengah pandemi Covid-19

Penerapan konsep industri hijau dan berkelanjutan (sustainabilty) telah memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi daerah dan mampu menciptakan tambahan lapangan kerja.
“Penerapan industri hijau dan berkelanjutan sangat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan penciptaan lapangan kerja,” kata Ketua Gabungan Asosiasi Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi Lukman pada acara diskusi daring bertajuk “Industrialisasi sebagai Penggerak Perekonomian Nasional” yang digelar di Jakarta, Senin (07/08/2023).
Adhi menjelaskan, dampak positif itu dapat terlihat dari faktor-faktor yang menjadi syarat penerapan industri hijau. “Kita ambil tiga faktor saja. Pertama soal bahan baku yang bertujuan mendorong efisiensi dan afektifitas bahan baku dan bahan penolong yang baru dan terbarukan. Tentunya hal ini akan mendorang para pelaku usaha mulai dari petani, peternak dan nelayan untuk dapat menghasilkan bahan baku yang diperlukan industri untuk memenuhi syarat industri hijau,” ujarnya.
Faktor kedua, soal pengelolaan limbah. Terkait hal ini, Adhi mengaku telah mengajak semua pelaku usaha agar recycle industry ini terus tumbuh.apalagi saat ini sedang didengungkan recycle plastik.
“Saat saya berkeliling ke daerah-daerah, program recycle plastik ini ternyata mampu mendorong perekonomian lokal, dimana banyak pelaku –pelaku baru yang terlibat dalam kegiatan recycle industry ini,” paparnya.
Faktor lainnya yang terdapat dalam industri hijau adalah energi, dimana disyaratkan untuk memikirkan energi baru terbarukan. Soal energi, ungkap Adhi Lukman, banyak produk pertanian kita yang dipakai untuk bahan baku energi .
Tentunya ini bisa mendorong teman-teman di daerah karena produknya bisa untuk bahan bakar, makanan dan pakan. Dia mencontohkan, di China dan Korsel, bahan umbi-umbian dipakai untuk fuel atau energi baru terbarukan. Di Brazil produk gulanya dipakai untuk bioetanol.
“Jadi, semua kalau diterapkan dengan konsisten dan terus menerus akan menunjang ekonomi lokal dan industri hijau itu itu sendiri,” jelasnya.
Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur di Indonesia untuk menerapkan konsep industri hijau. Upaya ini sejalan dengan salah satu program prioritas di dalam Making Indonesia 4.0 yang memfokuskan pada standar berkelanjutan.
Langkah tersebut merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian yang telah mengamanatkan tentang perwujudan industri hijau.
Sementara Ekonom dari LPEM UI Kiki Verico mengungkapkan untuk bisa mendorong pertumbuhan industri nasional, salah satu caranya dengan mengubah orientasi Indonesia menjadi basis produksi yang hijau. Menurut Kiki, Indonesia perlu melakukan transformasi dengan menjadi basis produksi, khususnya dengan pendekatan industri hijau sebagaimana tren yang tengah terjadi di dunia saat ini.
“Lalu, harus jaringan yang green . Sekarang itu kita tidak bisa menjual produk kalau produknya tidak green. Kalau produknya tidak green, nanti tidak bisa masuk (jaringan) dunia. Tidak bisa jual kemana-mana. Sehingga dari awal, kalau kita mau mendorong manufaktur, harus pro lingkungan. Environment friendly (ramah lingkungan),” ujarnya.
Kiki menyebut pula bahwa orientasi Indonesia menjadi basis produksi merupakan salah satu upaya dalam melakukan transformasi. Pasalnya, manufaktur tidak dibuat oleh satu negara dari awal hingga akhir melainkan dibutuhkan kerja sama dengan negara lain. Maka, transformasi perlu dilakukan untuk bisa mendongkrak industri agar bisa tumbuh lebih pesat lagi.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu terus mendorong ekonomi yang inklusif dalam artian tidak hanya investasi besar saja yang didukung melainkan juga investasi kecil dengan kreativitas entrepreneurship.
“Contohnya manufaktur yang berbasis digital. Misalnya usaha kecil di rumah tapi menggunakan teknologi seperti desain, pembuatan perangkat elektronik, atau desain kreatif dan lainnya,” katanya.
Indonesia, lanjut Kiki, juga perlu mengidentifikasi mitra dekat produksi dan produk unggulannya. Tidak hanya itu, Indonesia juga dinilai perlu mengidentifikasi mitra dekat investasi dan produk unggulannya.
Berdasarkan hasil kajian yang ia lakukan, ia mencatat bahwa Vietnam, Filipina dan Pakistan bisa menjadi jaringan produksi bagi Indonesia. Adapun Korea Selatan dan Australia dinilai berpotensi menjadi mitra investasi. Sedangkan produk unggulan yang bisa dibidik yaitu sel baterai, termasuk baterai kendaraan listrik.
Pertumbuhan sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan sebesar 6,4 persen dan kontribusi industri terhadap PDB sebesar 19,2 persen pada tahun 2025. Buyung N