Model Bisnis Multiusaha Kehutanan Kekinian

Kedai Kopi Cenghar. Ilustrasi kedai kopi kekinian.

Oleh: Prasetya Irawan, Risty Aji Dwi Wahyuningtyas, Ahmad Armansyah (Mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Pemenang Pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah Populer APHI tahun 2021)

Perusahaan Kehutanan harus mengikuti perkembangan zaman untuk memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat. Melalui teknologi 4.0 diharapkan target market yang disasar bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai macam adaptasi, inovasi, dan kreativitas. Selain itu, kondisi pandemi juga membuat kita harus mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Perangkat lunak adaptasi dari perusahaan start up unicorn bisa diterapkan di perusahaan kehutanan dengan sistem Multiusaha Kehutanan yang menggabungkan beberapa usaha di satu tempat dan masih menerapkan prinsip kelestarian hutan. Hal ini sejalan dengan amanat UUCK November 2019 dan aturan turunannya melalui PP N0 23 2021 dan PerMenLHK N0 8 2021 dimana transformasi izin usaha berbasis jenis kegiatan menjadi perizinan berusaha berbasis berbagai jenis kegiatan usaha (multiusaha) yang terintegrasi.

Pengelolaan kawasan hutan yang menggunakan konsep start up membuat peralihan dari bisnis konvensional menjadi 4.0. Hal-hal yang berkaitan dengan usaha tersebut dijadikan satu melalui aplikasi yang dapat digunakan di kawasan tersebut, mulai dari booking online, QR Code entry, jenis usaha yang ada didalamnya, informasi seputar kawasan, kemitraan umkm, hingga testimoni dari pengunjung kawasan tersebut. Selain itu, juga untuk marketing produk kekinian yang dihasilkan melalui marketplace, sosial media, youtube, maupun tiktok.

Jenis Multiusaha Kehutanan yang mungkin diterapkan meliputi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Perhutanan Sosial, jasa lingkungan, kawasan wisata alam, forest healing, dan Hasil Hutan Kayu (HHK) dengan sistem TPTI.

Multiusaha Kehutanan ini layak untuk didorong realisasinya karena akan memberikan manfaat yang positif juga kepada perusahaan sebagai income baru sebelum masa panen produk utama berupa kayu dengan mengoptimalkan potensi dan daya dukung disesuaikan site sekaligus sebagai sarana resolusi konflik lahan di Kawasan hutan.  Terdapat 25.867 desa di dalam dan sekitar kawasan hutan terdiri dari 9,2 juta rumah tangga dimana 1,7 juta rumah tangga masuk dalam kategori keluarga miskin (Media Indonesia, 10 Maret 2019)

Peta geografis  dan Plot sebaran Multiusaha Kehutanan

Studi Kasus

Studi kasus apabila di daerah Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (Lihat Gambar). Di kawasan tersebut kita terapkan konsep Multiusaha Kehutanan dengan pengembangan melalui sektor industri kreatif yang ramah generasi milenial.  Berdasarkan peta tersebut contohnya adalah coffee shop yang dikonsep dengan model tempat yang instagramable sehingga generasi muda akan banyak datang dan secara tidak langsung mempromosikan tempat tersebut, produk yang dijual adalah hasil hutan bukan kayu melalui kawasan agrowisata seperti perkebunan kopi maupun wisata petik stroberi. Di kawasan tersebut juga dibangun tempat untuk pengolahan bahannya, mungkin bisa diolah menjadi kopi yang beragam cita rasanya.

Keunikan menjadi nilai jual tersendiri. Di kawasan tersebut juga bisa dijadikan tempat pelatihan bagi barista yang ingin memulai usahanya di bidang coffee shop. Model bisnis yang dari hulu ke hilir sangat baik diterapkan yaitu tidak hanya menjual secangkir kopi, tetapi juga ruangan yang estetik dan juga kebanggaan atas brand.

Model Bisnis

  1.       End to end business.

Model bisnis ini menyediakan produk kopi dari hulu (perkebunan) ke hilir (produk jadi) dengan kualitas terbaik dengan harga yang diatas rata-rata. Selain itu dilakukan konsep tempat, ruangan, suasana cafe yang menarik anak muda. Bisa diterapkan konsep kombinasi antara tegakan kayu dengan tanaman buah. Kemudian disediakan tempat untuk pengolahan sehingga output produk tidak hanya barang mentah, dikemas dan dijual melalui marketplace atau sosial media dengan menggunakan sistem dropship atau reseller. 

  1.       Sewa (Kawasan Wisata).

Model bisnis berikutnya adalah dengan menggunakan sistem sewa tempat untuk camping ground, outbond, kegiatan pelatihan kepemimpinan atau workshop, pelatihan di bidang kehutanan. Penyediaan lokasi persemaian permanen untuk kebutuhan pembibitan, penyediaan bibit bagi masyarakat sekitar, dan bisa menjadi penjualan. Selain itu persemaian tersebut dapat dimanfaatkan sebagai kawasan wisata edukasi, penelitian, dan inovasi bibit baru. Selain itu, dibangun Sport Center seperti semi-outdoor gym dengan suasana alam.

  1.       Agroforestry (LMDH). 

Agroforestry adalah suatu sistem menggunakan lahan bersama antara tegakan hutan dengan tanaman pertanian. Bentuk lahan yang digunakan secara permanen, tanaman pohon dengan tanaman pertanian secara bersama-sama sepanjang rotasi dan dapat juga digunakan untuk menanam tanaman pakan ternak (Alrasjid 1980).

  1.       Silvofishery-Silvopastura. 

Model Silvopastura-fishery memungkinkan suatu kawasan hutan dibangun 3 lapis mulai dari bagian paling atas adalah tegakan kayu, bagian tengahnya adalah peternakan unggas atau non-unggas tergantung dengan potensi daerah setelah itu bagian bawahnya merupakan perikanan misalkan lele atau silvopastura.

 

  1.       Menggunakan pengembangan bisnis kekinian.

Pengembangan setiap model bisnis yang ada sebaiknya mengikuti perkembangan jaman atau istilahnya kekinian, ramah dengan anak muda dan industri 4.0. Perikanan, peternakan, pertanian yang akan diterapkan menggunakan aplikasi teknologi. Menggunakan cara ATM (Amati Tiru Modifikasi) juga masih bisa diterapkan, misalkan konsep coffee shopnya mengamati dari konsep coffee shop yang sedang viral atau ngetrend. Produk atau jasa yang dihasilkan dikemas semenarik mungkin dengan sentuhan influencer pariwisata, kuliner, fashion, dan lainnya.

Bisnis kekinian lainnya adalah pertanian terintegrasi dan menggunakan aplikasi teknologi. Contoh penerapan model bisnis dengan konsep coffee shop di hutan. Tempat yang disediakan harus disesuaikan dengan kebutuhan pernikahan agar masyarakat dapat melaksanakan pernikahan di sekitar kawasan tersebut.

  1.       Menggunakan sistem sorting-grading

Hasil hutan bukan kayu seperti kopi di sortir dan grading dari kualitas tinggi hingga terendah. Kopi yang berkualitas terbaik atau grade A dijadikan komoditas ekspor sedangkan kopi grade B dan seterusnya diolah menjadi kopi bubuk.

Analisis Implementasi dalam Multiusaha Kehutanan

  1.       Analisis Kelayakan usaha  contoh kasus Kopi

Analisis bisnis kopi yang dijelaskan oleh Megayani (2019) menunjukkan bahwa nilai B/C Ratio sebesar 1,98 pada umur tanaman 5-7 tahun. Hal tersebut menunjukkan bahwa usaha tani kopi rakyat secara finansial layak untuk dilanjutkan karena nilainya > 1 (Suliyanto 2010).

Pada penelitian Laksono et al. (2014) mengenai usaha tani kopi diketahui nilai ARR sebesar 187,35% yang berarti budidaya kopi tersebut layak. Nilai NPV 10,50% yang berarti usaha tani kopi menguntungkan secara finansial karena nilai yang diperoleh lebih besar dari nol. Selain itu, nilai IRR yang diperoleh sebesar 13,54% lebih besar dari nilai tingkat suku bunga bank pada masa penelitian sebesar 10,50% sehingga usaha tani kopi kayak untuk dilanjutkan dan mampu mengembalikan pengeluaran yang dikeluarkan pada investasi pada awal melakukan usaha tani.

  1.       Analisis implementasi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH)

Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia nomor 8 tahun 2021 pasal 156 ayat 2, kegiatan usaha pemanfaatan kawasan hutan produksi diharuskan tidak bersifat limitatif atau dapat membatasi pemanfaatan kawasan untuk penggunaan lainnya, serta tidak menimbulkan dampak negatif terhadap biofisik dan sosial ekonomi. Hal ini sejalan dengan model bisnis yang ditawarkan yaitu pembangunan area coffee shop, tempat berlangsungnya acara pernikahan, dan rumah sakit forest healing, dapat diarahkan di area yang berdampingan. Ketiga bangunan tersebut juga tidak memberikan dampak negatif terhadap biofisik lingkungan hutan karena konsep dari coffee shop adalah semi outdoor yaitu bartender berada di bangunan yang terbuat dari kayu yang diperoleh dari luar kawasan hutan seperti yang dijelaskan pasal 123 sehingga tidak menebang pohon yang ada, sementara area untuk pengunjung menikmati kopi adalah di bawah tajuk dari pepohonan yang ada sehingga menambah kesejukan yang dirasakan ketika meminum kopi. Konsep dari tempat acara pernikahan pun full outdoor sehingga tidak perlu membuat bangunan dengan struktur beton dan pengantin dan tamu undangan memperoleh pengalaman baru saat melaksanakan acara yang menyatu dengan alam.

Bangunan yang digunakan untuk kegiatan forest healing juga dapat diminimalisir karena inti dari forest healing adalah kontak antara jiwa manusia dengan alam, sehingga kegiatan forest healing lebih banyak berada di luar ruangan.

Pasal 125 ayat 2 menjelaskan bahwa destinasi wisata alam yang termasuk dalam akomodasi yang dapat diterapkan di kawasan hutan adalah berupa camping ground sehingga dapat dipadukan dengan tempat pelatihan kepemimpinan. Ayat 6 menambahkan terkait sarana aktivitas pembelajaran dapat diaplikasikan untuk memahami kehidupan flora dan fauna, koleksi dan penangkaran satwa liar, proses perencanaan dan pengelolaan hutan dapat diintegrasikan dengan wisata alam.

  1.       Kemudahan aplikasi ide Multiusaha Kehutanan pada tingkat tapak

Ide Multiusaha Kehutanan yang disusun sangat mudah diaplikasikan pada tingkat tapak atau Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH). Salah satu contoh aplikasinya adalah pembuatan coffee shop sederhana yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat. Selain itu, dapat diaktivasi kembali untuk camping ground, outbond, lokasi tempat pelatihan kepemimpinan dan sejenisnya. Konsep forest healing juga dapat diterapkan maupun olahraga, dengan membangun sedikit fasilitas penunjang hal itu sudah dapat dimanfaatkan sebagai pemasukan tambahan pada tingkat tapak. Untuk pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang berupa komoditas pertanian maupun perkebunan harus disesuaikan dengan potensi daerah tersebut.

  1.       Strategi branding perusahaan

Pembangunan persemaian merupakan langkah awal untuk melakukan branding terhadap perusahaan. Pembangunan persemaian juga bentuk dukungan kepada negara yakni rehabilitasi hutan dan lahan dengan melibatkan unsur masyarakat. Persemaian ini bisa dilakukan bersama dengan dinas terkait untuk melaksanakan proses rehabilitasi, reboisasi, maupun restorasi alam. Selain itu, pembuatan sentra bibit juga dapat dilaksanakan dengan melibatkan karyawan. Karyawan diharuskan menanam tanaman sendiri dan bibitnya dapat dijual melalui perusahaan. Hal ini juga dapat digunakan sebagai peningkatan loyalitas karyawan kepada perusahaan. Pembangunan persemaian dapat menyerap tenaga kerja masyarakat sekitar.

  1.       Strategi Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan

Strategi CSR perusahaan dapat melakukan kerjasama dengan institusi pendidikan untuk membuat gerakan menanam pohon dimana bibitnya berasal dari perusahaan itu sendiri. Selain itu, perusahaan juga dapat membuat lomba penanaman di sekitar kawasan perusahaan dengan bibitnya juga berasal dari perusahaan tersebut. Gerakan yang lain adalah gerakan olahraga bersama dan kampanye hijau agar forest healing yang dibangun dapat difungsikan secara maksimal. Selanjutnya adalah membangun rumah hijau yang berisikan bank sampah dan bank bibit. Warga masyarakat dapat membantu perusahaan untuk menjualkan bibit-bibit dari perusahaan. Semakin banyak warga yang menjual bibit maka tabungan di bank bibitnya semakin banyak. Hal ini dapat ditukarkan dengan hadiah berupa umrah, ataupun hadiah yang lainnya. Strategi bank sampah dapat dilaksanakan sekaligus edukasi kepada masyarakat bahwa pentingnya memilah sampah. Sampah pilahan tersebut dapat didistribusi kepada industri pengolahan sampah maupun industri pengolahan sampah milik perusahaan sendiri.

Rekomendasi

Model bisnis Multiusaha Kehutanan meliputi berbagai macam sektor, optimalisasi dan pemanfaatan secara penuh kawasan hutan untuk kegiatan ekonomi yang dapat memberikan dampak positif terhadap perusahaan, berdampak positif terhadap masyarakat sekitar, menaikkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan nilai Produk Domestik Bruto (PDB) daerah, menjadi benchmark atau percontohan di taraf nasional.

Konsep bisnis dari hulu ke hilir diterapkan, model bisnis end to end, sewa, agroforestry, silvofishery-silvopastura, dan menggunakan pengembangan bisnis kekinian dengan menggunakan konsep digital marketing, selain itu kawasan hutan juga dapat dimanfaatkan secara penuh oleh wisatawan, pihak perusahaan, serta masyarakat sekitar. Pengelolaan hutan tetap menggunakan prinsip kelestarian hutan yang ramah sosial, lingkungan dan bisnis/ekonomi. ***