Anggota Koperasi Sekato Jaya Lestari, mitra Wilmar, menerima sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Ini membuktikan petani sawit di Indonesia mampu memenuhi kriteria keberlanjutan yang saat ini menjadi tuntutan global.
Ketua Koperasi Sekato Jaya Lestari Joarsa menjelaskan, pihaknya diperkenalkan dengan ISPO pada Juli 2017 oleh Wilmar. Rutinitas berkebun petani kemudian diatur ulang dengan praktik berkebun yang berkelanjutan, melalui paket program pendampingan petani secara terpadu, pemberdayaan organisasi petani dengan pelibatan para pemangku kepentingan terkait, pengenalan dan penerapan program ketelusuran sawit dari kebun sampai pabrik, dan lain-lain.
Dia menyatakan, berpedoman dengan prinsip dan kriteria ISPO, anggota koperasi didorong agar dapat mengetahui dan berkomitmen dalam menerapkan standar budidaya sawit berkelanjutan dalam praktik sehari-hari, dalam bentuk modul program pelatihan. Misalnya, tidak berkebun di lahan yang tidak sesuai dengan aturan pemerintah, tidak melakukan deforestasi dan merusak lingkungan, serta pemilihan bibit dan cara-cara pemupukan yang tepat dan efisien.
“Selama ini petani hanya mengerti produksi yang baik, panen, dan kemudian menjualnya. Dengan ISPO, kami mengetahui mengenai legalitas, sehingga berkebun jangan di lahan bermasalah,” kata Joarsa dalam pernyataannya yang diterima, Rabu (28/8/2019).
Menurut dia, pendampingan kepada petani sangat diperlukan karena adanya keterbatasan terhadap informasi mengenai keberlanjutan dan pembiayaan. Pihaknya menyadari, sertifikasi keberlanjutan adalah mutlak untuk memenuhi tuntutan pasar global, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Selain Wilmar, anggota koperasi juga memperoleh pendampingan dari PT Permodalan Siak, yang merupakan kepanjangan tangan pemerintah daerah. “Dengan mengantongi ISPO, kami makin percaya diri karena sudah sesuai dengan standar,” kata dia.
Saat ini, anggota koperasi yang berlokasi di Mandi Angin, Kabupaten Siak – Riau tersebut mengelola kebun seluas 450 ribu hektare (ha) yang berstatus area penggunaan lain (APL). Lahan tersebut dikelola melalui Program Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Pemerintah Kabupaten Siak, yang dimaksudkan sebagai program pengentasan kemiskinan. Beranggotakan 228 orang, masing-masing anggota berhak mengelola kebun 1,93 ha.
Direktur Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan Rismansyah Danasaputra menambahkan, proses audit Koperasi Sekato Jaya Lestari berjalan lancar dan dilakukan dalam waktu sekitar dua bulan. Pihaknya berharap, makin banyak koperasi petani yang mampu meraih sertifikasi ISPO. Untuk itu, kepedulian semua pihak sangat diperlukan. “Kami berharap semakin banyak pihak yang bersedia mendampingi petani karena mereka tidak bisa sendiri,” kata Rismansyah.
Sugiharto