Program Restrukturisasi Mesin Picu Masuknya Investasi Lebih Dari Rp 700 Miliar

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus menjalankan program restrukturisasi mesin dan peralatan industri untuk memperkuat efisiensi produksi, produktivitas dan daya saing produk nasional baik di kancah global maupun domestik. Sepanjang 2024, program ini menjangkau 34 perusahaan industri agro dengan total nilai penggantian harga sebesar Rp 21.6 miliar.
“ Program restrukturisasi mesin dan peralatan industri ini telah memicu masuknya investasi di sektor agro sebesar Rp 197,9 miliar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita pada konferensi pers “1 Tahun Kinerja Industri Kabinet Merah Putih” di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Selain industri agro, program itu juga telah menyentuh 49 perusahaan tekstil dan produk tekstil, serta 90 industri kecil dan menengah. Adapun total nilai penggantian pembelian mesin yang dibayarkan pemerintah kepada pelaku industri mencapai Rp65,1 miliar dan berhasil memicu peningkatan investasi baru lebih dari Rp700 miliar.
Menurut Menperin, modernisasi mesin produksi menjadi bagian penting dalam agenda peningkatan efisiensi dan kualitas produk nasional. “Mesin yang lebih efisien dan modern berarti biaya produksi lebih rendah, kualitas produk lebih tinggi, peningkatan skill pekerja dan daya saing industri semakin kuat,” katanya.
Ke depan, Kemenperin akan terus memperkuat kebijakan berbasis nilai tambah, memperluas implementasi teknologi industri 4.0, dan memperkuat sinergi lintas sektor untuk memastikan industri nasional tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi.
“Dengan fondasi kebijakan yang adaptif dan semangat kolaboratif seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem industri, kami sangat optimistis sektor industri akan semakin tangguh, mandiri, dan berdaya saing global menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Menperin.
dalam kesempatan itu, Agus j membeberkan bahwa Kemenperin juga mencatat kemajuan signifikan dalam ekosistem industri halal nasional. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024/2025, Indonesia menempati posisi ketiga dunia setelah Malaysia dan Arab Saudi, dengan kenaikan skor tertinggi dibanding tahun 2022. Indonesia bahkan memimpin di tiga subsektor utama yaitu modest fashion, farmasi dan kosmetik halal, serta makanan halal, yang seluruhnya terkait erat dengan aktivitas manufaktur.
Perkembangan industri halal ini dinilai strategis karena memberikan peluang ekspor yang luas bagi pelaku industri dalam negeri. Pemerintah berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen produk halal, tetapi juga produsen utama produk halal di pasar global.
Sejalan dengan itu, transformasi digital di sektor manufaktur terus dipercepat melalui penerapan teknologi industri 4.0. Berdasarkan laporan dari 29 perusahaan National Lighthouse Industry 4.0, implementasi digitalisasi telah meningkatkan produktivitas hingga dua kali lipat, mempercepat waktu produksi hingga 600 persen, dan menekan emisi karbon hingga 190 persen.
“Transformasi digital tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membentuk industri yang lebih hijau, modern, dan berdaya saing tinggi,” ungkap Menperin.
Program Startup for Industry (S4I) juga turut menjadi motor penggerak kolaborasi antara startup teknologi dan sektor industri nasional. Melalui program ini, para inovator muda memperoleh akses ke pembiayaan, kemitraan jangka panjang, serta peluang ekspansi global. Sejumlah startup binaan Kemenperin bahkan berhasil meraih penghargaan internasional di Jerman dan Hongkong, yang mencerminkan kemampuan inovasi anak bangsa di panggung global.
Dalam menjaga keberlanjutan operasi industri, Kemenperin konsisten mengawal kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Pada 2025, sektor industri menjadi pengguna gas bumi terbesar dengan alokasi 25,91 persen dari total konsumsi nasional. Kemenperin mendukung agar kebijakan ini dijalankan secara sektoral, sehingga subsidi energi dapat lebih tepat sasaran dan mendukung produktivitas industri.Buyung N