Siapa Investor Terbesar di Dunia?

Searah jarum jam: Warren Buffett, Jesse Livermore, Jim Simons, Hetty Green, and Peter Lynch. Foto: AP (2); Getty Images (2); Library of Congress

Siapa investor legendaris dunia yang berhasil mencetak kekayaan besar? Tentu ada banyak nama. Namun, kolumnis harian Wall Street Journal (WSJ) Spencer Jakab memberi lima pilihan nama investor yang pantas mendapat julukan GOAT alias terbesar sepanjang masa.

Siapa investor terbesar sepanjang masa? Sama seperti olahraga, masalah ini bukan soal banding-membandingkan statistik secara sederhana. Contohnya bola basket. Banyak penggemar muda yang bersikeras bahwa pemimpin poin sepanjang masa, LeBron James, adalah GOAT, sebagian karena mereka masih bisa menyaksikan dia bermain. Namun, banyak yang berpendapat bahwa bintang Michael Jordan bersinar lebih terang, terutama di panggung kejuaraan.

Berikut ini WSJ memilih lima investor terbesar sepanjang masa. Seperti para legenda bola basket tersebut, sebagian berkarier di era di mana aturan dan persaingan lebih mudah dalam beberapa hal, tetapi lebih sulit dalam hal lain. Namun, mereka semua memainkan permainan yang sama: Mengubah uang satu dolar menjadi melimpah ruah.

Peter Lynch

Tanyalah  orang-orang Amerika yang berusia paruh baya atau lebih tua tentang bagaimana mereka mulai berinvestasi. Maka banyak dari mereka yang akan mengatakan hal itu dimulai setelah membaca buku bestseller alias terlaris tahun 1989, “One Up on Wall Street” karya Peter Lynch. Dia berhasil mengajarkan satu generasi di Amerika bagaimana menjadi kaya perlahan.

Lynch mengambil alih Magellan Fund di Fidelity ketika dana itu hanya memiliki aset senilai 18 juta dolar AS. Ketika pensiun 13 tahun berselang, aset Fidelity sudah membengkak menjadi 14 miliar dolar AS.

Lynch punya mantra untuk berinvestasi. “Beli lah beli apa yang kamu tahu,” dan itu sangat berhasil buatnya. Selama periode yang mencakup dua resesi, krisis energi, dan hari terburuk bagi saham AS dalam sejarah, tingkat pengembalian tahunan majemuknya hampir tak terbayangkan: 29,2%! Dan dia tidak membesarkannya dengan menggunakan uang pinjaman atau melakukan aksi short-selling seperti manajer hedge fund.

Lynch juga tidak mencapainya dengan cara mengatur waktu pasar atau menebak kapan penurunan berikutnya akan terjadi. Dia punya ucapan terkenal: “Jika kamu menghabiskan waktu 13 menit setahun untuk ekonomi, kamu telah membuang 10 menitnya.”

Jim Simons

Jim Simons adalah ahli matematika atau matematikawan terkemuka, dan mengajar di Harvard. Namun merasa tidak puas, dia bekerja untuk pemerintah dan memecahkan kode Soviet selama Perang Dingin.

Kemudian, dia ingin mencoba berinvestasi — bidang yang tidak banyak dia ketahui. Setelah melakukan beberapa kesalahan, Simmons akhirnya mencetak rekor terbaik dalam sejarah dibandingkan semua hedge fund, dan rekor itu bahkan sulit untuk didekati.

Antara 1988 dan 2018, Medallion Fund miliknya memberikan pengembalian luar biasa sebesar 66% secara bruto. Dengan tingkat pengembalian tersebut, berarti satu dolar AS akan berubah menjadi hampir 7 juta dolar AS sebelum fee.

Bagaimana Simons melakukannya? Investor lain pasti ingin tahu. Perusahaan miliknya, Renaissance Technologies, merekrut ilmuwan, bukan ahli keuangan, dan mencari pola tersembunyi. Jurnalis WSJ, Gregory Zuckerman menceritakan kisah menariknya dalam buku “The Man Who Solved the Market”.

Simons meninggal tahun lalu di usia 86 tahun dengan meninggalkan kekayaan sekitar 31 miliar dolar AS — yang sebagian besar disumbangkan untuk amal. Seperti yang dia katakan: “Saya banyak menghitung, saya menghasilkan banyak uang, dan hampir semuanya saya sumbangkan. Itu adalah cerita hidup saya.”

Jesse Livermore

Jesse Livermore, yang dijuluki “The Boy Plunger”, dianggap oleh banyak orang sebagai trader terbesar yang pernah ada. Sebuah novel yang diadaptasi dari kisah hidupnya, “Reminiscences of a Stock Operator”, tetap menjadi bacaan wajib bagi para pemula hedge fund.

Livermore kabur dari rumah pada usia 14 tahun dan mulai bekerja sebagai board boy alias tukang tulis harga saham yang diterima melalui telegraf. Menyadari pola-pola tertentu, dia melakukan perdagangan saham pertamanya pada tahun berikutnya di sebuah bucket shop — tempat yang lebih mirip perjudian daripada pialang. Livermore sangat sukses sehingga dia dilarang berada di banyak tempat tersebut.

Saat dewasa, Livermore meraup keuntungan legendaris dengan cara bertentangan dengan pasar. Dia telah melakukan shorting saham sebelum Krisis 1907, dan bankir J.P. Morgan secara pribadi memintanya untuk menutup posisinya. Dalam dua dasawarsa berikutnya, dia dua kali bangkrut dan melakukan trading kembali hingga meraih kekayaan besar.

Pada 1929, Livermore kembali melakukan shorting saham, berbulan-bulan sebelum keruntuhan pasar pada Oktober. Dia meraih cuan 100 juta dolar AS di awal era Great Depression atau Depresi Besar — atau hampir 2 miliar dolar AS dengan uang saat ini.

Livermore masih sering dikutip, tetapi sebagian besar sebagai Larry Livingston, karakter fiksi dari “Reminiscences. Tulisan-tulisannya layak untuk dipertimbangkan oleh para boy plungers atau spekulan masa kini, yang terjun ke pasar kripto dan saham meme:

“Jika ada duit mudah yang berserakan, tidak ada orang yang akan memaksa agar masuk kantong Anda.”

Hetty Green

Hetty Green bisa dibilang mirip Diana Taurasi dalam dunia investasi.

Pernah dengar dan tahu nama Taurasi? Harus! Dia merupakan peraih enam medali emas Olimpiade untuk AS dan menjadi pencetak skor terbanyak sepanjang masa dalam bola basket profesional wanita. Taurasi pensiun tahun ini sebagai pemain tertua yang masih aktif di liga.

Kecakapan investasi Green menjadikannya sebagai salah satu orang terkaya di Amerika. Gendernya mungkin menjadi alasan mengapa dia terlupakan. Namun, pencapaiannya justru semakin luar biasa mengingat pada masa itu perempuan tidak bisa memberikan suara atau melakukan banyak transaksi keuangan tanpa suami mereka, yaitu akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Dikenal sebagai “The Witch of Wall Street” karena sifat hematnya, Green diam-diam membantu menyelamatkan Kota New York pada awal 1900-an. Salah satu keberhasilan keuangannya adalah mengakumulasi mata uang AS yang terdevaluasi, yaitu greenback asli yang diterbitkan selama Perang Sipil. Taruhannya terbayar dengan sangat menguntungkan.

Green adalah salah satu investor original value sebelum istilah itu populer.

“Saya membeli ketika harga rendah dan tidak ada yang menginginkannya. Saya menyimpannya sampai harganya naik dan orang-orang gila ingin membelinya,” katanya.

Dan cara itu berhasil. Kekayaannya diperkirakan mencapai hingga 5 miliar dolar AS dalam uang masa kini.

Warren Buffett

Berikut ini legenda investor terakhir.

Warren Buffett memulai aktivitasnya di pasar saham sejak usia sangat muda. Dia membeli saham pertama kali pada usia 11 tahun.

Seorang anak didik dari Benjamin Graham, bapak investasi nilai, Buffett sejak itu berkembang melampaui metode-metode Graham. Pada usia 95 tahun, dia akan mengakhiri karir luar biasa selama 60 tahun mengelola Berkshire Hathaway pada bulan Desember. Pengembalian 5.502.284% bagi pemegang saham sejak Buffett mengambil alih akan membuat mereka memiliki 140 kali lebih banyak uang dibandingkan hanya membeli indeks saham S&P 500 pada 2024.

Buffett tidak lagi menjadi orang terkaya di dunia. Tapi itu karena dia telah menyumbangkan banyak saham Berkshire miliknya untuk amal selama bertahun-tahun. Kedermawanan ini tak hanya terbatas pada penyumbangan tersebut. Surat tahunan Buffett telah memberikan kebijaksanaan yang sangat berharga tentang investasi dan kehidupan.

Nasihatnya untuk mereka yang ingin meraih kesuksesan serupa adalah: “Jika kamu suka menghabiskan enam hingga delapan jam per minggu untuk bekerja pada investasi, lakukanlah. Jika tidak, maka lakukanlah investasi secara bertahap melalui index funds.” AI