Restorasi Gambut dan Mangrove, Manajemen Adaptif Perlu Dilaksanakan di Tingkat Lokal

HLG Londerang, lokasi proyek pemulihan ekosistem gambut di Jambi

Manajemen adaptif di tingkat lokal perlu dilakukan untuk menunjang keberhasilan restorasi gambut dan mangrove. Pasalnya, kondisi lahan gambut dan mangrove Indonesia yang telah mengalami banyak keterlanjuran pemanfaatan.

Demikian mengemuka pada webinar yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Kebijakan Strategis Kehutanan (Puskashut) Yayasan Sarana Wana Jaya (YSWJ), Kamis, 11 Juli 2024.

Ketua YSWJ Iman Santoso mengatakan lahan gambut dan ekosistem mangrove memiliki berbagai jasa lingkungan yang berfungsi sebagai pendukung kehidupan umat manusia.

“Lahan gambut dan ekosistem mangrove sangat rapuh dan menghadapi banyak tantangan perubahan,” katanya saat membuka webinar.

Iman menegaskan, meski tidak mudah, berbagai permasalahan yang terjadi pada lahan gambut dan ekosistem mangrove perlu penanganan segera.

“Perlu dicari manajemen yang paling adaptif sehingga bisa menyelesaikan masalah yang dihadaoi ekosistem yang fragile ini,” kata dia.

Ketua YSWJ Iman Santoso

Sementara itu, Kepala Kelompok Kerja Teknik Restorasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Agus Yasin mengingatkan kerusakan gambut dan mangrove berdampak buruk bagi kehidupan umat manusia.

Dia mencontohkan kasus yang terjadi di Desa Kuala Selat, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Di lokasi itu, lahan gambut berdampingan dengan ekosistem mangrove.

Sayangnya, pada lahan gambut telah dibuat kanal-kanal untuk budidaya kelapa. Akibatnya terjadi subsidensi dan dekomposisi lahan gambut. Sementara ekosistem mangrove yang ada juga mengalami kerusakaan yang mengakibatkan adanya abrasi dan intrusi air laut.

“Perkebunan kelapa hibrida yang dulu menjadi sumber pendapatan masyarakt setempat kini mengalami kematian,” kata Agus.

Dia mengingatkan, lahan gambut dan mangrove menyimpan cadangan karbon yang sangat besar yang apabila teremisi akan berdampak pada perubahan iklim. Sejumlah literatur menyatakan, cadangan karbon pada lahan gambut Indonesia mencapai 40 miliar ton, sementara pada ekosistem mangrove mencapai 3 miliar ton.

Agus menyatakan tentang perlunya manajemen adaptif pada lahan gambut dan dan mangrove karena saat ini kondisinya telah banyak pemanfaatan. “Bagaimana agar tetap memberi nilai ekonomi namun juga tetap mengendalikan laju emisi karbon sehingga tidak terlalu tinggi,” katanya.

Dia mencontohkan salah satu bentuk manajemen adaptif pada mangrove adalah dengan mengimplementasikan silvofishery pada tambak.

Sementara untuk lahan gambut, Agus menyatakan diperlukkan intervensi untuk memperbaiki kondisi biofisik gambut, seiring dengan intervensi sosial dan revitalisasi ekonomi.

Webinar tersebut dipandu oleh Ketua Pusat Kajian Kebijakan Strategis Kehutanan (Puskashut) Yayasan Sarana Wanajaya Harry Santoso. Turut hadir sebagai pembicara Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Hidup IPB Profesor Cecep Kusmana, dan Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi BRGM, Suwignya Utama. ***