Australia Tertekan, Daging Sapi Brasil Kuasai Ekspor Global

https://agroindonesia.co.id/wp-content/uploads/2026/08/mutuagung.jpeg

Brasil muncul sebagai produsen dan eksportir daging sapi terbesar di dunia. Kini, Brasil juga sedang membentuk kembali arus perdagangan global serta meningkatkan persaingan di beberapa pasar ekspor utama Australia, eksportir terbesar kedua di dunia.

Berdasarkan laporan dari lembaga pemberi pinjaman agribisnis, Rabobank, Australia harus waspada dan memantau dengan cermat perkembangan Brasil, yang telah menjadi kekuatan dominan dalam produksi dan perdagangan daging sapi global.

Analis senior protein hewani Rabobank, Angus Gidley-Baird mengatakan, Brasil telah menyalip Amerika Serikat sebagai produsen daging sapi terbesar di dunia, dengan memproduksi 11,7 juta ton daging sapi setiap tahun dan mengekspor sekitar 3,5 juta ton. Meningkatnya kehadiran ekspor negara ini semakin dirasakan di pasar-pasar yang secara tradisional penting bagi eksportir daging sapi Australia.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat Brasil meningkatkan kehadirannya di sejumlah pasar ekspor Australia,” kata Gidley-Baird sepeti dimuat BeefCentral.

“Dikombinasikan dengan dinamika perdagangan yang berubah yang melibatkan China, AS, dan Eropa, semakin penting bagi produsen dan eksportir Australia untuk memahami apa yang terjadi di sektor daging sapi Brasil,” paparnya.

Sementara analis protein hewani Rabobank Brazil yang berbasis di São Paulo, Wagner Yanaguizawa mengatakan, industri daging sapi Brasil terus mendapat manfaat dari kombinasi populasi ternak yang besar, peningkatan produktivitas, dan fokus ekspor yang kuat.

Populasi ternak sapi Brasil mencapai rekor 196 juta ekor pada tahun 2023 dan tetap mendekati angka tersebut, didukung oleh upaya pembangunan kembali populasi ternak selama bertahun-tahun, peningkatan penggunaan genetika, dan peningkatan efisiensi produksi.

“Bersamaan dengan jumlah ternak yang besar, kami melihat peningkatan produktivitas yang berkelanjutan melalui bobot karkas yang lebih berat, peningkatan konversi pakan, dan adopsi sistem penggemukan ternak yang lebih luas,” kata Yanaguizawa.

Baca juga:  Daging Ayam Olahan Indonesia Tembus Pasar Jepang

Ekspor makin meningkat

Yanaguizawa mengatakan, meskipun Brasil secara tradisional mengonsumsi sekitar 70% dari produksi daging sapinya di dalam negeri, angka tersebut telah turun tinggal 61% pada tahun 2025 seiring dengan peningkatan ekspor ke tingkat rekor. Dia memperkirakan permintaan ekspor akan terus tumbuh lebih cepat daripada konsumsi domestik dalam jangka menengah.

“Menurut pandangan saya, permintaan pasar eksternal akan terus tumbuh lebih cepat daripada konsumsi lokal,” katanya. “Dalam jangka menengah hingga panjang, pangsa pasar domestik kemungkinan akan terus menyusut.”

Gidley-Baird mengatakan, perbedaan antara industri daging sapi kedua negara sangat mencolok. “Meskipun Australia mengekspor 65%-70% dari produksi daging sapinya, Brasil secara historis jauh lebih bergantung pada konsumsi domestik. Namun, pertumbuhan ekspor yang pesat berarti Brasil menjadi peserta yang semakin berpengaruh di pasar global,” katanya.

Faktor lain yang meningkatkan daya saing adalah premi yang saat ini diterima oleh para pengolah makanan Brasil di pasar ekspor dibandingkan dengan penjualan domestik, katanya.

Yanaguizawa mengatakan, nilai rata-rata daging (karkas) sapi domestik di Brasil sekitar 30.000 reais/ton (Rp107.000/kg) pada tahun 2025, dibandingkan dengan 37.000 reais (Rp125.000/kg) untuk produk ekspor. “Perbedaannya sangat jelas,” katanya.

“Margin ekspor lebih tinggi daripada margin pasar domestik, jadi dari perspektif strategis, pengolah kemungkinan akan terus meningkatkan pasokan ke pasar ekspor, meskipun itu mengorbankan konsumsi domestik.”

Kuota impor China sendiri telah membentuk kembali perdagangan. China tetap menjadi pendorong terbesar ekspor daging sapi Brasil dan faktor penting yang memengaruhi arus perdagangan global.”

Menurut Yanaguizawa, saat ini China menyumbang 46% dari ekspor daging sapi Brasil. Namun, pembatasan kuota baru telah secara signifikan mengurangi pengiriman Brasil selama paruh kedua tahun 2025, menciptakan volume surplus yang harus dialihkan ke tempat lain.

Baca juga:  Jual Daging di Atas HAP, Laporkan Satgas Saber Biar Ditangkap

Brasil mengekspor 1,65 juta ton daging sapi ke China tahun lalu, tetapi ekspor ke pasar tersebut diperkirakan akan turun menjadi sekitar 1,2-1,25 juta ton tahun ini, karena pembatasan kuota. Bagi Australia, hal itu dapat berarti persaingan yang lebih ketat di pasar tujuan alternatif.

Yanaguizawa mengatakan, AS kemungkinan akan menyerap sebagian dari volume yang dialihkan tersebut, didukung oleh kuota bebas bea sementara, sementara Timur Tengah, Indonesia, Vietnam, Chili, dan Inggris juga menawarkan peluang.

Namun, dia mencatat bahwa pasar-pasar ini tidak akan cukup untuk sepenuhnya mengimbangi penurunan permintaan dari Tiongkok.

Jepang dan Korea Selatan

Potensi terbukanya pasar Jepang dan Korea Selatan untuk daging sapi Brasil juga perlu mendapat perhatian khusus dari para pelaku industri Australia.

Inspeksi dari Jepang dan Korea Selatan terhadap pabrik pengolahan di Brasil telah selesai, dan laporan akhir masih menunggu sebelum keputusan akses pasar dapat diselesaikan. “Harapan industri adalah akses dapat diberikan akhir tahun ini,” kata Yanaguizawa.

“Kedua pasar ini sangat penting bagi Australia, dan sebentar lagi Australia mungkin akan memiliki pesaing baru,” katanya.

Persaingan akan makin intensif

Gidley-Baird mengatakan, pertanyaan yang muncul buat eksportir Australia adalah berapa banyak produk yang dapat dialihkan Brasil ke pasar lain dan apa dampaknya terhadap persaingan harga dalam beberapa bulan mendatang?

Meskipun ada ekspektasi penurunan produksi daging sapi Brasil pada paruh kedua tahun ini, namun Yanaguizawa mengatakan lintasan jangka panjang negara itu tetap menunjukkan pertumbuhan ekspor yang kuat, didukung oleh skala produksi, peningkatan produktivitas, dan perluasan jangkauan pasar global.

Menurutnya, bagi sektor daging sapi Australia, pengaruh Brasil yang semakin meningkat akan tetap menjadi salah satu faktor terpenting yang membentuk pasar daging sapi global di tahun-tahun mendatang. AI

Baca juga:  Kementan Tambah Target AUTS/K 30.000 Ekor