Banjir Permintaan, India Siap Produksi Wegovy

* Novo Tak Sanggup Penuhi Permintaan Pasar

Industri farmasi India bergerak cepat untuk menangguk cuan di tengah derasnya permintaan obat penurun berat badan produksi Novo Nordisk, Wegovy. Saking tingginya permintaan, Novo kewalahan dan tak mampu memenuhi permintaan pasar.

Kalangan analis memprediksi bahwa pasar obat penurun berat badan bakal mencapai lebih dari 100 miliar dolar AS/tahun pada akhir dasawarsa ini. Itu sebabnya, para eksekutif di industri farmasi India, seperti Sun Pharma, Cipla, Dr Reddy’s dan Lupin — produsen obat generik terbesar di dunia — menyatakan telah mulai menggarap versi-versi Wegovy.

Novo Nordisk tidak mampu memproduksi cukup Wegovy untuk memenuhi permintaan di belasan negara di mana produk Wegovy sudah dipasarkan, di tengah tingkat obesitas global yang mencapai rekor dan orang-orang mencari cara termudah untuk diet dan olahraga. Produsen obat asal AS yang saingan Novo, Eli Lilly, juga tidak mampu memenuhi permintaan obat penurun berat produksi mereka: Zepbound dan Mounjaro.

Novo sendiri tidak memberikan jadual waktu peluncuran Wegovy secara global, tapi kepada Reuters mereka mengatakan bermaksud meluncurkan Wegovy di India pada tahun 2026.

Langkah cepat yang diambil produsen obat India otomatis bakal meningkatkan akses global terhadap obat-obat penurun berat badan dan menjadikannya lebih terjangkau, kata analis.

“Kami memperkirakan ekspansi volume akan meningkat berkali-kali lipat pada saat usia paten berakhir, yang masih beberapa tahun lagi dari sekarang,” ujar analis Systematix, Vishal Manchanda. “Mereka juga akan tersedia dengan harga yang lebih murah dan terjangkau karena diproduksi produsen obat generik.”

Kalangan industri farmasi sependapat.

“Ada potensi yang besar di India… mengingat pilihan gaya hidup,” papar CEO Global Cipla, Umang Vohra.

India sendiri memiliki angka obesitas yang tinggi, terutama di kalangan wanita, dan tercatat dengan penduduk pengidap diabetes tipe 2 terbesar kedua di dunia, setelah China. Menurut Atlas Federasi Obesitas Dunia (WOFA), sekitar 11% orang dewasa India akan mengalami obesitas tahun 2035.

Paten obat Wegovy, yang diberikan secara suntik tiap minggu, akan berakhir tahun 2026 di China, tahun 2031 di Jepang dan Eropa, dan tahun 2032 di AS, demikian menurut laporan tahunan Novo.

Produsen obat asal Denmark ini merupakan pemegang tunggal paten semaglutide, kandungan aktif di Wegovy dan obat diabetes Ozempic, yang masih belum mendapat persetujuan produksi di India. Namun Novo menolak mengomentari kapan paten Wegovy usai untuk India.

“Kami mau memasarkan produk ini secara tepat waktu di seluruh pasar ketika paten (Novo) berakhir,” ujar CEO Dr Reddy’s, Erez Israeli mengomentari semaglutide dalam jumpa pers bulan lalu.

Novo tidak berkomentar kapan mereka memperkirakan bakal ada persaingan dari produsen obat India, tapi kepada Reuters mereka mengaku “menyambut baik opsi-opsi pengobatan baru” buat orang-orang yang mengalami obesitas.

Pengembangan pasar

Sementara Sun Pharma sedang menggarap obat eksperimennya sendiri untuk mengobati diabetes tipe 2 dan obesitas. Yang lain mengambil jalur obat generik yang lebih tradisional.

“Dr. Reddy’s dan Cipla sedang membuat salinan dari obat inovator agar lebih mirip versi generik, semenara Sun sedang mengerjakan obat inovatornya sendiri. Jadi, Sun harus melakukan uji klinis. Obatnya akan baru dan dipatenkan,” papar Manchanda.

Pasar obat diabetes di India sendiri diperkirakan mencapai 316 miliar rupee (3,81 miliar dolar AS) pada 2023 dan diproyeksikan menembus angka 1,2 triliun rupee (14,48 miliar dolar AS) dalam 10 tahun ke depan, demikian menurut Expert Market Research.

Saat uji klinis, Wegovy berhasil membantu menurunkan berat badan pasien sampai 15%, sementara obat produk Eli Lilly yang dicoba pasien bisa lebih besar lagi penurunannya. Pengobatan mereka masuk dalan kelas terapi yang disebut reseptor agonis GLP-1 yang awalnya dikembangkan untuk mengontrol gula darah pada pasien diabetes tipe 2. Mereka juga memperlambat pencernaan sehingga membantu orang merasa kenyang lebih lama.

Data yang ada menunjukkan bahwa obat golongan ini juga menunda perkembangan penyakit ginjal kronis dan menurunkan risiko sakit jantung, sehingga memungkinkan terjadinya kenaikan permintaan lebih lanjut.

Meski perusahaan seperti Cipla memiliki keuntungan besar karena ada di India, namun mendobrak pasar India yang sangat sensitif terhadap harga bukan perkara gampang.

“Di India, persyaratannya adalah mengembangkan pasar untuk obat anti-obesitas,” ujar analis DAM Capital, Nitin Agrawal. “Jadi, tidak seperti di negara-negara lain, di mana produsen obat cukup mengambil pangsa pasar yang sudah ada.” AI