BNEF: Pemangkasan Emisi Indonesia Masih Kurang Besar

Salah satu PLTU Indonesia yang menggunakan batubara, Foto: Antara

Indonesia, bersama China dan Vietnam, diminta harus terus memperbesar lagi angka pengurangan emisi yang sudah direncanakan karena sampai saat ini angka tersebut dinilai masih terlalu menimbulkan polusi dan lebih mahal dibandingkan berbagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Penilaian itu termuat dalam laporan BloombergNEF (BNEF), penyedia riset strategis berbagai industri yang bergerak di bidang transportasi, energi dan teknologi untuk mendorong transisi ke ekonomi rendah karbon dengan memanfaatkan perubahan teknologi, dan membentuk masa depan yang lebih bersih dan kompetitif

Tahun lalu, China, Indonesia dan Vietnam diketahui menyumbang 34% emisi sektor energi global dan “memiliki ruang paling besar untuk meningkatkan ambisi mereka (mengurangi emisi),” ujar BNEF dalam laporan New Energy Outlook yang terbit Selasa (21/5), seperti dilansir Bloomberg (Rabu, 22/5).

Sementara negara-negara lain seperti India, Korea Selatan, Jerman, Amerika Serikat dan Australia, meski berada dalam posisi yang lebih baik untuk mencapai emisi karbon nol, juga dinilai punya ruang untuk meningkatkan pemangkasan emisi, tulis laporan tersebut — yang menguji total 12 negara selaku penyumbang dua-pertiga emisi karbon total dari sektor energi.

China selaku penghambur karbon terbesar di dunia telah berjanji untuk mencapai emisi nol bersih tahun 2060. Namun, sampai tahun lalu (2023), China masih membakar dalam jumlah besar bahan bakar fosil batubara, minyak dan gas alam, meskipun mereka juga tercatat mempercepat penggunaan energi ramah lingkungan.

Sementara Indonesia dan Vietnam — dua negara pengemisi karbon terbesar di Asia Tenggara — adalah penerima kesepakatan pendanaan bernilai miliaran dolar dari negara-negara G-7 untuk membiayai transisi penggunaan batubara ke energi hijau dan mempercepat tanggal puncak emisi.

Sumber: Basis Data Emisi Komisi Eropa untuk Penelitian Atmosfer Global

Namun, target iklim resmi kedua negara ini — yang diajukan ke PBB — tidak memenuhi skenario pembatasan pemanasan global yang ditarget hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-revolusi industri, dan juga tidak sejalan dengan keputusan yang paling rasional secara ekonomi, kata BNEF.

Bahkan, dalam skenario di mana energi terbarukan akan mengambil lebih dari 50% pasokan energi global pada tahun 2030, negara-negara seperti Indonesia dan Vietnam kemungkinan akan mengalami peningkatan emisi hingga akhir dasawarsa berikutnya, kata BNEF.

China sendiri dinilai berada dalam posisi yang lebih baik untuk lebih ambisius dalam mencapai targetnya, berkat rekam jejak yang kuat dalam penerapan energi ramah lingkungan, tambah BNEF.

Seperti diketahui, semua negara menyerahkan target pengurangan emisi dan adaptasi iklim yang dikenal sebagai Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC) kepada PBB setiap lima tahun. Putaran NDC berikutnya akan dilaksanakan tahun depan pada konferensi iklim di Brasil. AI