JUT Terbangun, Petani Bisa Hemat Ongkos Produksi

Jalan Usaha Tani (JUT) atau jalan pertanian merupakan prasarana transportasi pada kawasan pertanian, khususnya persawahan. Keberadaan JUT bisa membantu petani, terutama mengurangi biaya produksi. Hal itu terbukti dengan terbangunnya JUT di Dusun/Desa Dondong Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap.

Selain itu, JUT juga memperluas daya jangkau distribusi hasil pertanian serta meningkatkan pendapatan petani. JUT juga bermanfaat meperlancar mobilitas alat mesin pertanian (Alsintan) dan pengangkutan sarana produksi pertanian (saprotan) menuju lahan pertanian serta mengangkut hasil produk pertanian menuju penyimpanan, tempat pengolahan atau pasar.

Pembangunan JUT di Desa Dondong berasal dari Dana APBN tahun 2022, dengan Pelaksana Padat Karya Kelompok Masyarakat Makaryo. Pembangunan untuk bagian talud dengan volume panjang 171 meter, lebar 0,25 meter, tinggi 1 meter.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sejahtera, Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, Cilacap, Soiman Syamsul Hadi mengakui, pembangunan JUT telah memberikan dampak positif bagi petani. Adanya JUT di hamparan sawah Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap dapat mengurangi biaya operasional petani, terutama saat pengangkutan hasil panen padi.

“Kami, atas nama petani yang tergabung dalam Gapoktan Sejahtera, mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah merehab atau perbaikan Jalan Usaha Tani. Sekarang akses jalan menuju sawah semakin mudah dilalui Alsintan dan kendaraan. Juga dampak positifnya, petani semakin semangat dalam bertani untuk mencukupi stok pangan, khususnya Desa Dondong,” paparnya.

Jalan Usaha Tani ini berada di area pesawahan Dusun/Desa Dondong, yang luasnya mencapai 68 ha. Apalagi sudah tersedia irigasi sungai Penapen, yang telah dibangun sejak tahun 2020 dengan pembangunan tersier dana APBD.

Suratman, Kepala Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, Cilacap berharap, dengan pembangunan JUT petani terus semangat dalam menekuni profesi petani sebagai pahlawan pangan. Pembangunan JUT menjadikan jalan semakin mudah dilalui Alsintan atau kendaraan pengangkut hasil panen padi.  Apalagi, kini ada irigasi tersier yang sudah dua tahun mengalir, sehingga hasil panen padi meningkat.

“Dukungan Pemerintah Desa (Pemdes) selalu mengangkat aspirasi petani untuk pembangunan pendukung Bidang Pertanian. Kami sangat bangga dengan Petani Desa Dondong, karena kompak dalam bercocok tanam, sehingga masa panen pun bisa serempak. Sehingga, Alhamdulillah tidak banyak terkena hama,” jelasnya.

Secara terpisah, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wilayah Binaan (Wilbin) Desa Dondong, Kecamatan Kesugihan, Sumargo mengharapkan JUT bermanfaat bagi petani, mempermudah akses usaha tani dan mempercepat mengangkut hasil panen padi.

“Diharapkan proses mobilisasi Alsintan dan produk pertanian akan lebih lancar. Sehingga dapat mengurangi biaya produksi atau ongkos angkut hasil panen petani,” harapnya.

PSP Penggerak Utama

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Ali Jamil mengatakan, pihaknya kini hadir untuk mereposisi tugas dan fungsinya. Jika semula bertindak sebagai pendukung, kini berubah menjadi penggerak utama (prime mover) dan pengarah (trend setter) pembangunan pertanian masa depan.

“Terobosan yang dilakukan adalah mentransformasi manajemen dan tata kerja serta penajaman kegiatan pengembangan pembangunan prasarana dan sarana pertanian dengan pendekatan partisipatif, terpadu, kawasan pertanian, sosial budaya, dan bisnis,” katanya.

Ali menjelaskan, komponen pendukung Ditjen PSP, yaitu Direktorat Perluasan dan Perlindungan Lahan, fokus pada kegiatan rehabilitasi, optimalisasi, perlindungan dan perluasan lahan. Kemudian ada Direktorat Irigasi Pertanian yang melaksanakan tugas rekonstruksi, rehabilitasi, dan optimalisasi jaringan irigasi tertier.

Selain itu, ada Direktorat Alat-Mesin Pertanian yang melaksanakan pengembangan sistem mekanisasi dan digitalisasi pertanian. Sementara untuk mendorong peningkatan efisiensi dan efektivitas pengunaan sarana produksi pertanian ada Direktorat Pupuk dan Pestisida. Terakhir, Direktorat Pembiayaan Pertanian yang memfasilitasi pengembangan sistem pembiayaan dan asuransi pertanian.

Ali menjelaskan, arah tujuan pengembangan prasarana dan sarana pertanian ke depan di antaranya mengembangkan pertanian modern dan cerdas, meningkatnya IP dan luas areal produksi komoditas pangan dan pertanian di berbagai agroekosistem.

Kemudian meningkatnya produktivitas dan efisiensi produksi komoditas pangan dan pertanian, meningkatnya kegiatan ekonomi di berbagai wilayah, serta meningkatnya kinerja manajemen dan tata kelola pengembangan prasarana dan sarana pertanian. SW

Program RJIT Dongkrak Kualitas Produksi Petani

Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan terus memberikan bantuan sarana dan prasarana kepada para petani di seluruh daerah agar produktivitas mereka bisa optimal.

Upaya ini dilakukan untuk peningkatan produktivitas dan Indeks Pertanaman (IP). Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) di bawah Direktorat Jenderal (Ditjen) Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan menjadi terobosan untuk memperbaiki serta menyediakan saluran irigasi yang berperan penting terhadap proses cocok tanam.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam beberapa kesempatan menyebutkan bahwa kegiatan RJIT tersebut dapat dikawal dan dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat petani.

“RJIT sangat bermanfaat untuk para petani. Karena tidak hanya memastikan sawah dapat teraliri air dengan baik, namun luas sawah yang mendapatkan pasokan air juga bertambah,” tegasnya.

Salah seorang petani padi dan jagung di Kecamatan Sukamerindu, Kabupaten Lahat, Sumsel, Hartani menjadi salah satu petani yang menikmati hasil RJIT.

Menurutnya, sejak menjadi seorang petani tahun 1995, bangunan jaringan irigasi, untuk pengairan tanaman tidak langsung ke persawahan, sehingga panen padi dan jagung hanya satu kali dalam setahun. Pengairan itu pun dilakukan secara bergantian dan hasil panen yang didapat tidak maksimal.

“Tapi setelah ada pembangunan irigasi di kawasan pertanian, kami panen bisa dua sampai tiga kali dalam satu tahun. Setelah panen padi, para petani bisa juga menanam jagung dan kebutuhan perairan tercukupi sejak ada irigasi ini. Jadi, antara irigasi untuk padi dan jagung, bisa tercukupi semuanya,” ungkap Hartani.

Kondisi di daerahnya, lanjut Hartani, saat ini para petani mayoritas menanam padi, setelah panen para petani mengganti tanamannya dengan jagung. Hal tersebut bisa terlaksana berkat dampak positif dari adanya pembangunan RJIT yang mencukupi kebutuhan air bagi tanaman.

“Petani sangat terbantu dengan irigasi ini, yang kita sebut saluran cacing. Apalagi sudah lama dibangun jaringan irigasi induk, sehingga untuk irigasi sampai ke lahan kami, jadi lebih mudah pengairannya,” katanya.

Sedangkan terkait dengan peningkatan produktivitas, kata Hartani, sebelum adanya irigasi panen padi hanya bisa satu atau dua kali dalam setahun, dan hasil panen hanya mencapai 2 sampai 3 ton saja tiap hektarenya.

Tapi dengan adanya pembangunan irigasi ini, karena kebutuhan airnya tercukupi dan seimbang, panen bisa dua sampai tiga kali panen dengan hasil panen hingga 5,5 ton/ha, bahkan lebih,” kata Hartani.

Hartani mengatakan, untuk luasan sawah di daerahnya beragam di tiap desa, dari yang luasnya 100 ha hingga 240 ha, terutama di Kecamatan Sukamerindu, yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat Sumsel.

“Irigasinya sampai ke kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Lahat. Jadi, luasan irigasi yang dibangun sangat besar dan sangat membantu para petani,” tambahnya.

Untuk itu, Hartani pun berharap pemerintah terus meningkatkan program irigasi tersebut di daerah lainnya.

“Sejauh ini pembangunan irigasi sudah sangat membantu petani, terutama dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Namun pembangunan irigasi tersebut agar lebih ditingkatkan lagi, sehingga lahan pertanian di kecamatan lain di Kabupaten Lahat, bahkan di seluruh Sumsel, bisa disediakan. Agar produktivitas di lahan pertanian dapat terus meningkat,” pungkasnya. PRP