Tak Ada Impor Selama Musim Giling

Kementerian Perdagangan tidak akan memberikan izin bagi pabrik gula berbasis tebu untuk mengimpor gula mentah (raw sugar) sepanjang produksi tebu petani masih bisa mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

“Sepanjang pasokan tebu petani masih memadai, kita tak akan memberikan izin kepada pabrik gula berbasis tebu untuk mengimpor raw sugar,” ujar Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Partogi Pangaribuan, akhir pekan lalu.

Menurutnya, saat ini pabrik gula di dalam negeri masih sedang musim giling, di mana pasokan tebu dari petani cukup besar untuk diolah oleh pabrik gula-pabrik gula tersebut.

Partogi sendiri masih yakin pasokan tebu petani di dalam negeri sesuai dengan target yang ditetapkan pemerintah, di mana pasokan tebu petani itu akan mampu menghasilkan gula Kristal putih (GKP) sekitar 2,8 juta ton.

Dia juga menegaskan, pemerintah tetap akan memberikan izin impor raw sugar kepada industri gula rafinasi yang besarnya sesuai dengan kuota yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2014 ini, sebesar 2,8 juta ton.

Menurutnya, total izin impor raw sugar yang telah dikeluarkan Kemendag sampai saat ini sudah mencapai 2,667 juta ton. Dari jumlah tersebut, yang sudah direalisasikan impornya oleh industri gula rafinasi hingga pertengahan September  mencapai 80%.

Saat ini, Kemendag masih menyimpan sisa kuota impor raw sugar sebanyak 133.000 ton lagi. Sisa kuota itu juga dipastikan akan diberikan Kemendag kepada industri gula rafinasi pada tahun ini karena masih ada waktu tiga bulan lagi untuk direalisasikan.

“Kuota yang belum direalisasikan itu akan digunakan untuk kebutuhan bulan Oktober, Nopember dan Desember,” ujarnya.

Bahan baku industri

Partogi Pangaribuan menegaskan, impor raw sugar yang diberikan pemerintah kepada industri gula rafinasi telah didasarkan pada kebutuhan industri makanan dan minuman terhadap gula rafinasi.

Adapun penetapan besarnya kuota impor juga dilakukan melalui koordinasi dengan kementerian terkait, seperti Kementerian Perindustrian dan disetujui oleh Kantor Menko Perekonomian.

Partogi mengakui, saat ini banyak suara-suara dari para petani tebu di dalam negeri  untuk menghentikan impor raw sugar karena berdampak pada jatuhnya harga gula petani. Terkait hal itu, Dirjen Perdagangan Luar Negeri meminta masyarakat bersikap bijak. Impor raw sugar muncul karena danya permintaan bahan baku gula rafinasi dari industri makanan dan minuman.

“Gula rafinasi itu merupakan bahan baku bagi industri makanan dan minuman. Setelah diolah dan menjadi makanan dan minuman, hasil produksi itu pun banyak yang diekspor,” ujarnya.

Impor GKP

Sementara terkait dengan kebijakan impor gula kristal putih (GKP), Partogi menyebutkan saat ini pemerintah memang belum mengeluarkan izin impor GKP yang baru karena saat ini Indonesia sedang memasuki musim giling.

Terakhir kali Kemendag memberikan izin impor GKP sebanyak 328.000 ton kepada Bulog. Namun, Bulog hanya mampu merealisasikan kuota impor itu sebanyak 21,6 ribu ton. “Kita tidak lagi memperpanjang izin impor gula untuk Bulog karena pasokan di dalam negeri cukup besar,” paparnya.

Meski demikian, dia menyebutkan pemerintah siap mengeluarkan izin impor GKP jika kondisi pasokan gula di dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan gula nasional hingga bulan April tahu 2015 mendatang.

“Kita lihat saja bagaimana produksi gula Kristal putih nasional pada tahun ini dan berapa stok yang ada,” jelasnya.

Permasalahan di sektor pergulaan nasional memang bukan barang baru. Hampir setiap kali musim giling tiba, isu tentang rembesan gula rafinasi ke pasar umum, jatuhnya harga gula petani selalu menjadi bahan pemberitaan di media massa.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, petani tebu di wilayah Jawa Timur berharap besar terhadap pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih periode 2014-2019, Joko Widodo dan Jusuf Kalla (Jokowi-JK) untuk bisa membenahi industri pergulaan nasional. Pembenahan tersebut meliputi proses revitalisasi pabrik gula (PG) dan perbaikan tataniaga gula.

“Ada beberapa persoalan yang mendesak untuk diperbaiki. Di antaranya adalah soal revitalisasi Pabrik Gula (PG) yang harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya tambal sulam,” kata Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI) Jawa Timur, Arum Sabil, pekan lalu

Menurut dia, revitalisasi PG harus terintegrasi. Selain kualitas produksi harus menjadi semakin naik, produk turunan juga harus digarap, seperti sisa ampas tebu berupa blotong dijadikan pupuk dan bagas dijadikan bahan energi atau pulp atau bubur kertas. Selain revitalisasi juga penambahan kapasitas PG juga diperlukan.

“Revitalisasi juga harus mengedepankan perbaikan kualitas produksi sehingga rendemen tebu yang diterima petani kedepan harus minimal 8%,” ucapnya.

Penegakan hukum lemah

Mengenai tataniaga gula, dia juga berharap segera ada pembenahan. “Pembenahan tataniaga gula ini harus disegerakan karena banyak sekali mafia yang bermain di sini. Bagaimana impor gula dibatasi dan bagaimana distribusi gula rafinasi sesuai dengan peruntukannya,” tuturnya.

Sejauh ini, ujar Arum, kebijakan soal gula rafinasi sudah ada, yaitu hanya untuk industri tetapi pada kenyataannya gula rafinasi terus saja merembes ke pasar dan diperlakukan seperti layaknya gula konsumsi.

“Undang-undangnya sudah ada, tetapi penegakan hukumnya lemah. Sejauh ini tidak ada pelaku usaha yang terkena sanksi akibat mendistribusikan gula rafinasi ke pasar konsumsi. Padahal, jelas-jelas itu telah menyalahi aturan,” keluhnya.

Pembenahan sektor pergulaan nasional ini, lanjut dia, seharusnya dijadikan proyek percontohan dalam program kerja Jokowi-JK. “Kami berharap, presiden terpilih akan menjadi panglima terdepan dalam pembenahan sektor ini dan menjadikannya sebagai pilot project. Karena ada segudang persoalan yang sangat rumit yang membelenggu disini,” ujarnya.

Arum pun mengaku optimistis jika pemerintahan yang baru ke depan mampu membenahi sektor pergulaan nasional. “Jika urusan pergulaan ini bisa diatasi, maka urusan yang lain akan mudah teratasi,” tuturnya.

Saat ini, ujar Arum, kapasitas PG terpasang di seluruh Indonesia mencapai 313.000 ton TCD. Jika seluruh PG beroperasi penuh dan tidak ada idle capacity, maka produksi gula akan mencapai 2,9 juta ton/tahun.

Padahal, kata dia, jika berbicara soal swasembada gula, maka produksi harusnya bisa mencukupi seluruh kebutuhan gula dalam negeri, baik gula konsumsi maupun gula untuk industri yang mencapai 5,7 juta ton/tahun. “Kapasitas memang harus ditingkatkan, jangan hanya memperluas area lahan tebu. Jika tidak, maka bisa jadi tebu tidak tergiling,” tegasnya. Elsa F/B Wibowo

Pabrik Gula Baru Terus Bermunculan

Permasalahan yang muncul di sektor pergulaan nasional tidak menyurutkan langkah investor untuk membangun pabrik gula di Indonesia. Pendirian pabrik gula terus berjalan.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat ada tiga pabrik gula baru siap beroperasi pada semester dua tahun ini, yakni PG milik PT Kebun Tebu Mas, PT Adhi Karya Gemilang, dan PT Gendis Multi Manis.

“Kehadiran ketiga pabrik baru ini menambah sekitar 30.000 ton cane per day (tcd) kapasitas produksi gula nasional. Dengan tambahan kapasitas produksi ini, total kapasitas produksi gula nasional bertambah 30%-40% pada tahun 2015 dengan total produksi gula nasional diperkirakan mencapai 3,57 juta ton per tahun,” kata Dirjen Perkebunan Kementan, Gamal Nasir, pekan lalu.

Menurutnya, pemilihan waktu mulai beroperasi pun sengaja mengambil momentum musim kemarau. “Pabrik gula baru memanfaatkan musim kemarau panjang untuk menggiling gula agar rendemen mereka tidak berkurang,” ujar Gamal.

Kendati demikian, ia juga mengkhawatirkan dengan adanya tambahan produksi gula tahun depan maka harga gula berpeluang kembali turun. Saat ini harga lelang gula di tingkat petani masih di kisaran Rp 8.250-8.300 per kilogram atau di bawah HPP Rp 8.500.

Ia menyebutkan, kebutuhan investasi untuk membangun pabrik gula tergolong tinggi. Misalnya PT Kebun Tebu Mas di Lamongan yang menghabiskan dana sekitar Rp 2 triliun untuk membangun pabrik gula berkapasitas 12.500 tcd. Pabrik ini mulai dibangun pada tahun 2013 lalu. Perusahaan ini menyiapkan lahan total seluas 2.200 hektare. Areal tersebut untuk lokasi pabrik gula serta areal kebun tebu sebagai bahan baku pabrik gula.
Dari luas lahan tersebut, Kebun Tebu Mas menggunakan 800 ha untuk areal kebun tebu sementara pabrik gula membutuhkan lahan 95 ha. Adapun luas lahan selebihnya adalah perkebunan tebu milik masyarakat.

PT Adhi Karya Gemilang juga telah selesai membangun pabrik gula kristal rafinasi (GKR). Pabrik ini siap beroperasi penuh dengan kapasitas 700 tcd. Sasaran utama penjualan GKR adalah industri makanan minuman yang berpusat di Lampung dan Jabodetabek. Perusahaan ini telah mempersiapkan pabrik penggilingan pertamanya di Lampung.
Dari tiga pabrik tersebut, hanya pabrik gula Gendis Multi Manis di Blora, Jawa Tengah yang telah beroperasi mulai Juni lalu. Perusahaan ini menginvestasikan Rp 1,2 triliun untuk proyek ini. Perusahaan ini tidak memiliki lahan hak guna usaha (HGU) tebu, sehingga pengoperasian pabrik gula Gendis Manis mengandalkan pasokan tebu dari petani plasma di Blora. Kini, luas areal tanaman tebu di Blora mencapai 4.000 hektare.

Menurut Kamajaya, luas areal tanaman tebu di Blora terus meningkat. Hitungan dia, lima tahun terakhir lahan kebun tebu di Blora naik 20 kali lipat. Sebab, tahun 2010, luas areal perkebunan tebu di Blora masih seluas 200 ha. Gendis Manis berniat membangun satu pabrik gula baru di Madura dengan nilai investasi ditaksir mencapai Rp 4,5 triliun. Elsa Fifajanti